FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTENSI MEMBELI PRODUK WAYANG KULIT PADA MASYARAKAT SUKU JAWA

Pendahuluan

Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya dengan khasanah budaya. Masyarakat majemuk yang hidup di seluruh wilayah Nusantara, memiliki berbagai macam adat istiadat dan seni budaya. Sekian banyak seni budaya itu, diantaranya adalah wayang dan seni pedalangan yang bertahan dari masa ke masa. Wayang telah ada, tumbuh dan berkembang sejak lama hingga kini, melintasi perjalanan panjang sejarah Indonesia.

Daya tahan dan kemampuanya mengatasi perkembanan jaman itulah, maka wayang dan seni pedalangan berhasil mencapai kualitas seni yang tinggi, bahkan sering disebut seni yang ‘adiluhung’. Wayang juga merupakan suatu unsur jati diri bangsa Indonesia dan mampu membangkitkan rasa solidaritas menuju persatuan. Apabila dibandingkan dengan teater-teater boneka sejagat ini, pertunjukan wayang memang memiliki beberapa kelebihan, terutama Wayang Kulit Purwa. Sampai-sampai beberapa pakar budaya barat yang mengagumi wayang mengatakan bahwa Wayang Purwa sebagai bentuk drama canggih di dunia “… the most complex and sophisticated theatrical from in the world” (Harsrinuksmo dkk, 1999).

Pagelaran wayang sudah sejak zaman nenek moyang dipandang sarat tuntunan, tontonan serta keindahan. Kenyataan itu semakin diteguhkan oleh lembaga dunia setaraf UNESCO (United Nations Edicational and Scientic Cultural Organitation) yang pada tanggal 7 November 2003 telah memploklamirkan wayang Indonesia sebagai “Master Piece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity” atau karya agung budaya dunia. (Sugeng, 2004)

Wayang merupakan sebagian hasil budaya bangsa Indonesia. Hal ini sangat menarik didalami, karena wayang merupakan ekspresi jiwa dengan berbagai rasa, ekspresi pikiran, perasaan, pandangan hidup, dan cita-cita, sehingga dapat digunakan untuk membaca sikap perilaku budaya sendiri. (Mukti, 1997). Misalnya orang yang kehidupanya sudah di atas orang lain tetapi masih murka “nongso-ongso”, pemfitnah, pendendam, suka menindas sesama manusia, maka dalam hidupnya tidak akan dapat tentram. Dalam Wayang Kulit Purwa keadaan ini tergambar pada tokoh Prabu Duryudana Raja Hastina yang terbunuh dalam perang Baratayuda atau Prabu Dasamuka yang mati tertimbun gunung Maenaka.

Sebaliknya orang yang penyabar, berani mengalah, suka berderma dan selalu memperhatikan penderitaan orang lain lagi khusuk dalam beribadah, orang-orang yang demikian ini akan tentram jiwanya dan akan memperoleh kemenangan (ngliruk tanpa bala, menang tanpa ngasarake). Keadaan ini dalam wayang dapat dilihat pada tokoh Prabu Puntadewa Raja Amarta. Ia tidak pernah berperang, tetapi dihormati semua orang (tokoh-tokoh pewayangan). Pendek kata, wayang mengandung tamsil yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, adanya sebab dan akibat sehingga pada pembalasan yang kesemuanya itu merupakan ajaran moral dan agama yang sangat tinggi.

Periodisasi perkembangan budaya wayang merupakan bahasan yang menarik. Bermula dari zaman kuna ketika nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut animisme dan dinamisme. Dalam alam kepercayaan animisme dan dinamisme ini diyakini roh orang-orang yang sudah meninggal masih tetap hidup dan semua benda itu bernyawa serta memiliki kekuatan. Roh-roh itu dapat bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungai, dan gunung.. Panduan dari animisme dan dinamisme ini merupakan roh nenek moyang yang berkuasa, tetap mempunyai kuasa. Mereka tetap dipuja dan dimintai pertolongan.

Dalam memuja roh nenek moyang ini, selain melakukan ritual tertentu mereka mewujudkannya dalam bentuk gambar dan patung. Roh nenek moyang yang dipuja ini disebut ‘hyang’ atau ‘dahyang’. Orang biasa berhubungan dengan para hyang ini untuk meminta pertolongan dan perlindungan, melalui seorang yang disebut ‘syaman’. Ritual pemujaan nenek moyang, ‘hyang’ dan ‘syaman’ inilah yang merupakan asal mula pertunjukan wayang. Hyang menjadi wayang, ritual kepercayaan itu menjadi jalanya pentas dan syaman menjadi dalang. Sedangkan ceritanya adalah pertualangan dan pengalaman nenek moyang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa asli yang hingga sekarang masih dipakai. Jadi wayang itu berasal dari ritual kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia di sekitar 1500 SM (Harsrinuksmo dkk, 1999).

Berasal dari zaman animisme, wayang terus mengikuti perjalanan sejarah bangsa sampai masuknya agama Hindu di Indonesia sekitar abad keenam. Bangsa Indonesia mulai bersentuhan dengan peradaban tinggi dan berhasil membangun kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara, bahkan Sriwijaya yang besar dan jaya. Pada masa itu wayang pun berkembang pesat, mendapat fondasi yang kokoh sebagai suatu karya seni yang bermutu tinggi.

Pertunjukan roh nenek moyang itu kemudian dikembangkan dengan cerita yang lebih berbobot, Ramayana dan Mahabarata. Selama abad X hingga XV, wayang berkembang dalam rangka ritual agama dan pendidikan pada masyarakat. Pada masa ini telah mulai ditulis berbagai cerita tentang wayang. Semasa kerajaan Kediri, Singasari dan Majapahit kepustakaan wayang mencapai puncaknya seperti tercatat pada prasasti di candi-candi, karya sastra yang ditulis oleh Empu Sendok, Empu Sedah, Empu Panuluh, Empu Tantular dan lain-lain. Karya sastra wayang yang terkenal di zaman Hindu antara lain Baratayuda, Arjunawiwaha, Sundamala, sedangkan pagelaran wayang sudah bagus, diperkaya lagi dengan penciptaan wayang yang terbuat dari kulit yang dipahat, diiringi cerita Ramayana dan Mahabarata.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: