FEAR OF SUCCESS DAN FEAR OF FAILURE DITINJAU DARI GENDER DAN NEED FOR ACHIEVEMENT

Pendahuluan

Kebutuhan-kebutuhan manusia pada umumnya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu kebutuhan primer (kebutuhan faali), yang merupakan syarat kelangsungan hidup seseorang, seperti; lapar, haus, seks, tidur dan sebagainya; dan yang ke-dua adalah kebutuhan sekunder, yang timbul dari interaksi manusia itu sendiri dengan lingkungannya, seperti; kebutuhan untuk bersaing, bergaul, bercinta, ekspresi diri, harga diri dan sebagainya (Anoraga, 2005).

Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya itu, maka manusia berupaya melakukan berbagai aktivitas. Salah satu aktivitas diwujudkan dalam gerakan-gerakan yang dinamakan kerja. Psikiater J.A.C. Brown, dalam bukunya yang berjudul “The Social Psichology Of Industry” menyatakan bahwa kerja merupakan bagian terpenting dari kehidupan manusia, sebab aspek kehidupan yang memberikan status kepada masyarakat (Anoraga, 2005). Dengan status inilah masyarakat kemudian memberikan penilaian kepada manusia tersebut.

Untuk mendapatkan penilaian positif, manusia berusaha mencapai tujuan-tujuannya dalam bekerja. Tujuan-tujuan tersebut tentunya berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Menurut As’ad (1999), seseorang mempunyai gairah bekerja karena mempunyai keinginan untuk berprestasi, ingin mendapatkan kedudukan lebih tinggi dan hasil-hasil lainnya yang lebih menguntungkan dirinya.

Dalam seting organisasi, tujuan tersebut bisa berupa gaji maupun kesempatan untuk mengaktualisasikan diri dengan mencapai status yang terpandang. Status ini identik dengan karir, di mana seorang individu tidak hanya sekedar bekerja, namun memiliki kedudukan yang berarti di tempat kerjanya, berprestasi dan mampu menunjukkan kemampuan yang dimiliki semaksimal mungkin.

Namun untuk mendapatkan karir yang maksimal tidaklah mudah. Munculnya kendala baik dari dalam diri individu itu sendiri maupun dari lingkungan luarnya terkadang menghambat pencapaian karirnya, sehingga tidak sedikit dari mereka yang justru menghindari karir atau prestasinya tersebut.

Tak jarang seorang individu harus merasakan kecemasan-kecemasan akan penolakan dari lingkungan sosial ketika usaha mencapai prestasi mengalami kegagalan, atau justru saat ia berhasil mencapai prestasi tinggi. Menurut Birney (Fried-Buchalter, 1997), masyarakat masih sering menolak individu yang gagal, meskipun ia telah berusaha keras. Oleh karena itu, agar bisa diterima dalam masyarakat, meraka yang mengalami ketakutan akan konsekuensi gagal ini terpaksa menentukan tujuan mereka jauh di bawah potensinya, sehingga kegagalan bisa dihindari. Ketakutan akan kegagalan ini disebut sebagai fear of Failure.

Begitu juga dengan individu yang telah mencapai karir tinggi. Keberhasilan tidak sepenuhnya mendatangkan kebahagiaan. Adanya penolakan sosial, perasaan ragu-ragu dan perasaan bersalah karena merasa dirinya tidak normal / berbeda dengan orang lain, serta takut akan dikucilkan atau kesepian merupakan akibat negatif dari keberhasilan yang diperolehnya (Horner dalam Dowling, 1992). Menurut Horney (Fried-Buchalter, 1997) penolakan karena keberhasilan ini muncul dalam lingkungan yang bersifat kompetitif. Keberhasilan sering kali memunculkan kecemburuan, kekecewaan dan kebencian dari pihak lain, terutama pihak yang mengalami kekalahan atau yang tidak mengharapkan individu tersebut berhasil, sehingga ia memilih untuk berprestasi biasa-biasa saja namun tetap diterima lingkungan sosialnya. Ketakutan semacam ini disebut dengan fear of success.

Dalam penelitiannya, Horner (Dowling, 1992) menemukan bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara respon pria dan wanita dalam menghadapi kemungkinan sukses. Para pria menunjukkan kegairahan terhadap kemungkinan mengembangkan karir yang cemerlang. Namun sebaliknya bagi wanita, takut kehilangan “kelayakan” sebagai teman kencan atau pasangan hidup dan dianggap tidak feminin menjadi alasan kuat munculnya fear of success.

Horner (Davidoff, 1981) berpendapat bahwa wanita tersebut disamping takut akan kegagalannya, dia juga takut untuk berhasil karena dipandangnya sebagai hal yang tidak sesuai dengan aturan dalam masyarakat.

Lebih lanjut Horner (Fried-Buchalter, 1997) mengatakan bahwa fear of success ini merupakan hasil dari gender role stereotyping. Dalam hal-hal tertentu, ada norma-norma sosial yang tetap tradisional, di mana tingkah laku sesuai dengan genderlah yang diharapkan. Sehingga pria seharusnya kuat, dominan, asertif, sementara wanita seharusnya perhatian, sensitif dan ekspresif secara emosional. Sehingga kerja keras, prestasi dan persaingan adalah sesuatu yang menarik dan identik bagi pria. Masyarakat menganggap bahwa sukses dan prestasi tinggi tidak sesuai dengan wanita, sehingga mereka seringkali tidak memandang keberadaan wanita karir.

Tanpa disadari sebenarnya masyarakat masih mengharapkan wanita lebih mengutamakan keluarganya daripada karir pribadi atau pendidikannya. Selain itu, sering kali masyarakat juga berusaha mencari bukti bahwa wanita yang sukses dalam pekerjaan dan pendidikan akan memiliki keluarga tidak sukses, dalam arti hubungan dengan suami dan anak-anak tidak harmonis, pendidikan anak terlantar, dan berbagai kegagalan lainnya (www.kompas.com). Karenanya, wanita lebih diharapkan untuk mengekspresikan emosi positif terhadap kesuksesan orang lain, tapi tidak pada prestasi mereka sendiri (Tennan dalam Baron & Byrne, 2003).

Beban moril dan tanggung jawab dalam menjalankan dua peran sekaligus, menyebabkan wanita lebih cenderung mengalami fear of success dan fear of failure ketimbang pria. Banyak karyawan wanita yang menunjukkan kecemasan dan perasaan bersalah terhadap perannya sebagai ibu rumah tangga. Birnbaum (Arinta & Azwar, 1993) melaporkan bahwa satu dari enam wanita profesional mengalami konflik dalam mengkombinasi karir dan rumah tangga. Walaupun mereka lebih merasa bahagia dalam pekerjaan kantor daripada sebagai ibu rumah tangga, tetapi pada saat yang sama merasakan bersalah karena merasa tidak adekuat dalam peran rumah tangga (Klinger dalam Arinta & Azwar).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: