HARGA DIRI ANAK JALANAN

Pendahuluan

Menurut defenisi Depsos (1997), anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat umum lainnya. Anak jalanan dalam konteks ini adalah anak yang berusia antara enam sampai dengan 18 tahun.

Sosok anak jalanan bermunculan di kota, baik itu di emper-emper toko, di stasiun, terminal, pasar, tempat wisata bahkan ada yang di makam-makam. Anak-anak jalanan menjadikan tempat mengkalnya sebagai tempat berteduh, berlindung, sekaligus mencari sumber kehidupan, meskipun ada juga yang masih tinggal dengan keluarganya.
Jumlah anak jalanan dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Terjadinya krisis ekonomi di Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 diyakini banyak pihak sangat berpengaruh terhadap peningkatan jumlah anak jalanan di Indonesia. Pada awal krisis, peningkatan jumlah anak jalanan mencapai sekitar 400 % (Kompas, 4/12/98). Berdasarkan data resmi, diperkirakan jumlah anak jalanan sekitar 50.000 pada tahun 1998 ( Anwar dan Irwanto, dalam Shalahuddin, 2000 ). Jumlah ini diperkirakan akan meningkat lagi apabila krisis ekonomi yang berkepanjangan ini tidak segera berakhir (http://www.nakertrans-anak.com )

Banyak problem yang terjadi tampak pada fenomena anak-anak jalanan di kota-kota besar di Indonesia, tidak terkecuali di Yogyakarta. Fenomena anak jalanan mempunyai hubungan dengan masalah-masalah lain, baik secara internal maupun eksternal, seperti ekonomi, psikologi, sosial, budaya, lingkungan, pendidikan, agama, dan keluarga. Mereka adalah korban dari kondisi yang dialami individu, baik internal, eksternal, maupun kombinasi keduanya (Pratomo E.S, 2004)

Yayasan Duta Awam Semarang (Kalida, 2005) mengategorikan faktor penyebab anak turun ke jalanan karena tiga faktor yaitu ekonomi, masalah keluarga dan pengaruh teman. Faktor ekonomi menjadi penyebab utama yang menjadikan anak turun ke jalanan, yaitu karena kemisikinan, baik struktural maupun non struktural, sehingga anak turun ke jalan bukan karena inisiatif sendiri. Banyak kasus anak turun ke jalanan justru karena perintah orang tuanya. Kemudian, faktor keluarga bisa jadi penyebab seorang anak turun ke jalanan, yaitu karena penanaman disiplin dan pola asuh otoriter yang kaku dari orang tua, keluarganya selalu ribut, perceraian, diusir dan dianiaya orang tua.

Faktor teman juga bisa menyebabkan anak turun ke jalanan, yaitu adanya dukungan sosial atau bujuk rayu dari teman. Dalam perkembangan sosial remaja, harga diri yang positif sangat berperan dalam pembentukan pribadi yang kuat, sehat dan memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan, termasuk mampu berkata “tidak” untuk hal-hal negatif. Dengan kata lain tidak mudah terpengaruh berbagai godaan yang dihadapai seorang remaja setiap hari dari teman sebaya mereka sendiri (peer pressure) (Utamadi.G, 2005)

Sangat jelas terlihat bahwa anak jalanan memiliki harga diri yang negatif karena mereka tidak mampu menolak bujukan dari teman-temannya. Mereka sering sekali terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang negatif, seperti merokok, minum-minuman keras, narkoba, bahkan ada yang menjadi pengedar narkoba. Pengaruh negatif ini terjadi apabila mereka dipengaruhi oleh anak jalanan lain yang mempunyai tabiat buruk, yang dapat menjadikan perubahan perilaku yang sangat cepat terjadi.
Secara umum, ada tiga faktor utama yang menyebabkan anak turun ke jalanan (Kalida, 2005), yaitu :

1. Tingkat Makro (Immadiate Cause)
Yaitu, faktor yang berhubungan dengan keluarga. Pada tingkat ini, diidentifikasikan lari dari keluarga, kurang kasih sayang orang tua (broken home), disuruh bekerja – baik masih sekolah ataupun sudah putus sekolah (eksploitasi)- dan lain sebagainya.
2. Tingkat Mose (Underlaying Cause)
Yaitu faktor lingkungan (masyarakat) sekitar.
3. Tingkat Mikro (basic Cause)

Yaitu berhubungan dengan faktor informal misalnya ekonomi. Sektor ini menjadi pertimbangan mereka yang tidak terlalu membutuhkan modal atau keterampilan yang besar. Mereka mempunyai latar belakang yang berbeda sebelum terjun dan bekerja di jalanan, sehingga sering mendapat julukan anak seribu masalah.

Keberadaan dan berkembangnya jumlah anak jalanan merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian. Anak jalanan sangat rentan untuk mendapatkan situasi yang buruk, seperti menjadi korban dari berbagai perlakuan salah dan eksploitasi, di antaranya adalah kekerasan fisik, penjerumusan ke tindakan kriminal, penyalahgunaan narkoba, objek seksual, pemurtad-an dan sebagainya. Situasi semacam ini akan berdampak buruk bagi anak sendiri maupun lingkungan di mana mereka berada (Kushartati. S, 2004)

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: