HUBUNGAN ANTARA ASERTIVITAS DENGAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI PADA PENYIAR RADIO

Pendahuluan

Saat ini banyak ragam bentuk media baik itu media cetak seperti koran, majalah, media visual, audio visual dan media online seperti detik.com. Dengan mempertimbangkan jumlah masyarakat yang besar dengan lokasi yang tersebar, serta kondisi sosio ekonominya, medium radio merupakan media alternatif yang mempunyai aksesibilitas tinggi yang mampu menunjang keberadaan media cetak sebagai media utama. Di samping itu, kehadiran medium radio diharapkan dapat mengatasi rasa kesendirian dan kesepian yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat, selain itu radio juga merupakan sarana pembelajaran yang dapat bermanfaat (Fauzie, 2004).

Radio merupakan media auditif (hanya bisa didengarkan) yang murah, merakyat dan bisa dibawa atau didengarkan di mana-mana. Radio berfungsi sebagai media ekspresi, komunikasi, informasi, pendidikan dan hiburan. Radio memiliki kekuatan terbesar sebagai media imajinasi, sebab sebagai media yang buta, radio menstimulasi begitu banyak suara dan berupaya memvisualisasikan penyiar ataupun informasi faktual melalui telinga pendengarnya (Masduki, 2001)

Siaran radio berbicara langsung secara pribadi kepada pendengar. Jika programa ditransmisikan ”secara langsung”, radio mempunyai keuntungan memperoleh hubungan langsung dengan seseorang dan beribu-ribu individu. Lebih daripada yang ada di televisi, penyiar membangun hubungan perasaan dengan pendengarnya (Stokkink, 1997). Pelaksanaan tugasnya mengharuskan seorang penyiar aktif berkomunikasi. Ia melakukan komunikasi dengan setiap orang selama tugasnya.

Komunikasi adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan nonverbal (Mulyana, 2004). Bagi seorang penyiar, komunikasi berarti memberikan informasi sekaligus menghibur dengan menggunakan suara, pilihan kata, aksentuasi, dan ekspresinya yang sangat berpengaruh dalam percakapan radio serta menentukan keakraban penyiar dan pendengar (Stokkink, 1997).

Dampak radio pada orang kebanyakan dapat diilustrasikan dengan dampak siaran radio Hallowen tahun 1983. ”War of the worlds” yang dibawakan oleh Orson Welles menyebabkan kepanikan di sebagian kalangan masyarakat (Severin dan Tankard, 2001).

Banyak masalah media berhubungan dengan dengan pendidikan reporter dan editornya dan kurangnya persiapan sebelum pelaksaan tugas. Hal ini menjadi perhatian komisi baik dulu maupun sekarang. Reporter dan editor sering kali melakukan kesalahan ketika harus memberitakan fakta yang berhubungan dengan matematika, ilmu pengetaguan, sejarah dan geografi. Kesalahan faktual yang jelas terlihat akan menimbulkan keraguan pada keakuratan keseluruhan laporan. Jika reporter dan editor tidak dapat menyajikan fakta yang jelas dengan benar, apakah pembaca dan pemirsa dapat percaya bahwa fakta yang lebih rumit akan disajikan dengan benar? Akibatnya timbul keraguan pada kredibilitas media yang semakin dan memang selalu rendah (Severin dan Tankard, 2001).

Kepanikan dapat terjadi karena ada penekanan yang berlebihan terhadap bahaya atau ancaman terhadap masyarakat. Lazarfeld dan Merton mencatat adegan disfungsi yang memabukkan ketika individu jatuh dalam kelesuan atau kepasifan sebagai akibat dari banyaknya informasi yang diterima. Selain itu, terlalu banyak ekspose ”berita” (yang tidak biasa, abnormal, lain dari yang lain) bisa membuat mereka-mereka yang menjadi pembaca memiliki sedikit perspektif tentang apa yang biasa, normal atau wajar dalam masyarakat (Severin dan Tankard, 2001).

Seorang penyiar radio swasta di Yogyakarta, pada tanggal 13 Juli 2006 sempat mengeluhkan dirinya sendiri kepada penulis, karena harus terperangkap dalam sebuah skript (informasi berita) saja, tanpa mampu menceritakan berita tersebut dengan baik agar mudah dicerna pendengar, mengekspresikan ide, opini dan pandangan yang dirasakan dan mengimprovisasi berita tersebut dengan baik. Ia juga bercerita bahwa ia bingung ketika harus menghadapi suatu dialog dengan para nara sumber untuk menanyakan banyak hal, karena ia pikir ia tidak memiliki kemampuan yang cukup baik, dan takut apa yang akan ia katakan tidak sesuai dengan pembahasan hingga akhirnya penyiar tersebut memilih tidak banyak berbicara, dan mengharapkan narasumberlah yang akan banyak berbicara.

Syarat yang diperlukan seorang penyiar untuk berkomunikasi adalah memiliki kecenderungan untuk pamer, keyakinan diri, kemampuan mempengaruhi orang lain, mempunyai karisma, juga kemampuan meyakinkan pendengar secara pribadi. Seorang penyiar harus dapat mengalihkan perhatian seseorang dari masalah dan kekhawatiran mereka, dengan menyajikan hiburan dan keadaan yang bersifat santai. Seorang penyiar dapat megurangi perasaan kesepian sambil menciptakan rasa persahabatan (Stokkink, 1997).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: