HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECENDERUNGAN KENAKALAN REMAJA

Pendahuluan

Remaja merupakan aset bangsa yang kelak akan menggantikan generasi tua dalam pembangunan. Menghadapi tuntutan semacam itu, remaja diharapkan mampu melewati masa perkembangannya secara wajar dan normal sehingga dapat mengaktualisasikan segala potensi yang dimiliki. Keterlibatan lingkungan, terutama keluarga, akan mengantarkan mereka menjadi remaja yang sehat baik jasmani ataupun rohani. Tuntutan, harapan dan juga bahaya serta godaan yang dihadapi remaja saat ini tampaknya lebih banyak dan kompleks daripada yang dihadapi remaja generasi yang lalu (Feldman, dkk dalam Santrock, 2003).

Tidak semua remaja ada pada jalan yang benar, yaitu remaja yang bisa terhindar dari godaan dan dapat mngaktualisasikan potensi yang dimiliki. Sebagian remaja ada yang terjerumus ke kenakalan remaja. Kenakalan remaja memang bukanlah hal yang baru tapi kenakalan remaja juga tidak semakin berkurang. Kenakalan remaja masih banyak disaksikan di lingkungan sekitar. Bentuk kenakalan remaja saat ini antara lain seperti pencurian oleh remaja, perkelahian di kalangan anak didik yang kerap kali berkembang menjadi perkelahian antar sekolah, hingga perilaku mengganggu wanita di jalan yang pelakunya anak remaja. Perilaku lain yang menggambarkan kenakalan juga dapat dilihat dari perilaku memusuhi orangtua dan sanak saudaranya, atau perbuatan-perbuatan lain seperti menghisap ganja, mengedarkan pornografis dan corat-coret tembok pagar yang tidak pada tempatnya (Sudarsono, 2004). Contoh lain kenakalan yang dilakukan remaja ditunjukkan dalam penelitian Azis (2006), seperti kebiasaan pesta miras, penggunaan obat-obatan terlarang dan seks bebas di kalangan remaja.

Kenakalan remaja saat ini sudah sangat membahayakan. Kenakalan remaja sering menimbulkan keresahan di lingkungan masyarakat, sekolah ataupun keluarga (Sudarsono, 2004). Menurut Simanjuntak (Sudarsono, 2004) kenakalan remaja merupakan suatu perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan norma yang ada di masyarakat di mana ia hidup, atau suatu perbuatan yang anti-sosial dimana di dalamnya terkandung unsur-unsur anti-normatif (Simanjuntak dalam Sudarsono, 2004).
Mengenai masalah kenakalan remaja, pemerintah juga menaruh perhatian dengan mengeluarkan Bakolak Inpres No.6/1971 Pedoman 8, tentang Pola Penanggulangan Kenakalan Remaja. Didalam pedoman tersebut juga diungkapkan pengertian kenakalan remaja sebagai berikut:
“Kenakalan remaja ialah kelainan tingkah laku, perbuatan atau tindakan remaja yang bersifat asosial bahkan anti sosial yang melanggar norma-norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat”.

Menurut Willis (2005) kenakalan remaja salah satunya disebabkan karena kurangnya dukungan yang diberikan oleh keluarga. Keluarga bahkan disebut sebagai penyebab utama kenakalan remaja. Hal tersebut disebabkan kerena anak itu hidup dan berkembang pertama kali dari pergaulan keluarga yaitu hubungan antara anak dan orangtua dan hubungan anak dengan keluarga yang lain. Hal tersebut diperkuat oleh Lyton (Santrock, 2003) yang menyatakan bahwa dukungan keluarga dan praktek manajemen keluarga mempengaruhi perilaku kenakalan.

Santrock (2003) menggambarkan dukungan keluarga sebagai bantuan yang berupa perhatian emosi, informasi, bantuan instrumental maupun penilaian yang diberikan oleh sekelompok anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan saudara dan terhadap remaja untuk meningkatkan kecenderungan berperilaku positif pada remaja. Remaja yang mendapat dukungan dari keluarga berkeyakinan bahwa mereka disayangi, diperhatikan, akan mendapat bantuan dari orang lain bila mereka membutuhkannya. Hartanti (2000) juga mengatakan bahwa dengan dukungan keluarga, maka remaja akan mampu mengurangi kelelahan emosi dan stress-nya, sehingga ia tidak merasa sedih dan kecewa lagi serta memperoleh masukan-masukan untuk menghadapi masalah-masalahnya. Dengan semua dukungan tersebut, remaja akan mampu menyelesaikan masalah dengan sikap yang positif.

Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Wagner dkk (dalam Santrock, 2003) diketahui bahwa remaja dapat menangani stres dengan lebih baik bila mereka memiliki hubungan yang dekat dan penuh kasih sayang dengan ibu mereka. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dilihat bahwa sebenarnya keluarga memiliki peranan yang penting bagi remaja. Keluarga yang baik tentunya akan berpengaruh positif bagi perkembangan anak, sedang keluarga yang jelek jelas akan memberikan pengaruh negatif karena keluarga diharapkan dapat memberi arahan-arahan dan masukan-masukan yang bersifat membangun (Kartono, 2003).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: