HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KECENDERUNGAN MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PADA NARAPIDANA LP WIROGUNAN YOGYAKARTA

Pendahuluan

Zaman modern seperti sekarang ini banyak sekali ditemukan masalah sosial yang muncul di tengah masyarakat, baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Adanya kemajuan di bidang teknologi, mekanisme, industrialisasi dan urbanisasi menyebabkan kehidupan masyarakat menjadi semakin global (terbuka) dan kemudian terjadi pencampuran antara budaya satu dengan budaya yang lain (Kartono, 1992).

Masalah yang kompleks menyebabkan masyarakat mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian. Hal tersebut mengakibatkan banyak masyarakat mengalami kebingungan dan kecemasan sehingga muncul konflik dalam diri mereka. Akibatnya, anggota masyarakat sebagai seorang individu mengembangkan pola tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma umum, seperti melakukan tindakan tanpa memikirkan dampak serta akibatnya pada orang lain. Selanjutnya, muncul tindakan penyimpangan yang lebih banyak mengarah pada tindakan kriminal yang mengganggu, merugikan, atau bahkan melanggar undang-undang yang berlaku (Kartono, 1992).

Kriminalitas merupakan salah satu persoalan rumit yang dihadapi pemerintah dan masyarakat di Indonesia saat ini, baik yang terjadi di kota-kota besar maupun di kota kecil, dari tindakan kriminal yang ringan hingga tindakan kriminal yang meresahkan masyarakat. Setiap hari masyarakat juga selalu disuguhi laporan tentang tindakan kriminal yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia melalui berita-berita di televisi maupun koran (Matindas, 2003). Hal tersebut dapat dibuktikan dengan semakin banyaknya stasiun televisi swasta yang menayangkan berita-berita tentang kriminalitas.

Fungsi dibangunnya penjara adalah : pertama, memisahkan pelaku kejahatan dari masyarakat luas dengan tujuan agar tidak membahayakan orang lain dalam masyarakat; kedua, membuat pelaku kejahatan jera, sehingga tidak terjadi lagi dikemudian hari; ketiga, mengurangi jumlah tindakan pelanggaran hukum; keempat, merehabilitasi para pelaku kejahatan dengan cara pemidanaan yang bertujuan untuk pembebasan dan pemasyarakatan. Pembebasan berarti membebaskan narapidana baik secara mental maupun spiritual. Narapidana yang telah bebas dari penjara seolah-olah terlahir kembali sebagai individu baru, baik secara mental maupun spiritual dan akan melepaskan segala cara berpikir, kebiasaan, dan gaya hidup yang lama. Apabila tujuan dari pemidanaan adalah pemasyarakatan maka mantan narapidana dapat diterima dalam masyarakat, hidup berdampingan dengan masyarakat dan tidak ada lagi yang diperlakukan secara diskriminatif di dalam masyarakat (Davidoff, 1981)

Kenyataannya, hukuman yang dijatuhkan kepada pelanggar hukum tidak berhenti ketika mereka telah dipenjara. Narapidana yang mampu menyelesaikan masa hukuman dan dinyatakan bebas, kembali dalam masyarakat dan melanjutkan hidupnya, pada kenyataannya mereka sering mengalami kesulitan dan seringkali mendapat perlakuan yang tidak baik dari masyarakat. Mereka banyak mendapat tekanan secara psikologis, diasingkan, dicurigai, digunjingkan hingga akhirnya mereka tidak betah berada di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, adanya surat kelakuan baik untuk mencari pekerjaan merupakan hambatan tersendiri dalam rangka proses pemasyarakatan. Mereka sering beranggapan lebih nyaman untuk tetap tinggal di Lapas, yang dapat menerima mereka apa adanya dan akan terbebas dari tekanan-tekanan masyarakat (Weda, 1996).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: