HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK RETARDASI MENTAL

Pendahuluan

Setiap manusia menginginkan kehidupan yang sejahtera baik kondisi fisik, sosial dan psikologisnya. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya yaitu dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang meliputi fisik, sosial dan psikologi. Kebutuhan psikologi dipenuhi dalam rangka mencapai kesejahteraan hidup seseorang. Ryff (1989) mengatakan bahwa orang yang sejahtera secara psikologis adalah orang yang mampu memenuhi semua kebutuhan psikologis positif yang meliputi tujuan hidup, penerimaan diri, otonomi, pengembangan kepribadian, penguasaan lingkungan dan hubungan yang positif dengan orang lain.

Pentingnya kesejahteraan psikologis agar manusia dapat menjalankan hidupnya dengan bahagia, tenang dan mampu mengatasi segala masalah. Mengacu pada Undang-undang RI nomor 2 tahun 1992 tentang kesehatan pasal 12 ayat 1 bahwa setiap anggoa keluarga berhak terpenuhi kesehatannya baik fisik maupun psikologis sehingga terwujud kondisi yang sejahtera baik fisik maupun psikologis,yang menjadi hak dan tanggung jawab pada masing-masing keluarga. Hal tersebut dapat terpenuhi apabila ada kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan keadaan yang sehat, sejahtera baik fisik maupun psikologis.

Pentingnya kesejahteraan psikologis bagi semua orang, dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua memerlukan pemenuhan kesejahteraan psikologis agar dapat merawat dan mendidik anaknya, serta menempatkan diri baik sebagai makhluk individu dan sosial Satiadarma (2001) mengungkapkan bahwa menjadi orang tua adalah suatu kebanggan dan harapan bagi setiap manusia, setiap orang tua menginginkan memiliki anak atau keturunan yang baik, sehat, berkualitas yang baik dan berpengetahuan baik.
Orang tua memiliki harapan yang ideal bagi anak mereka tetapi apabila tidak sesuai dengan kenyataan maka akan menimbulkan kekecewaan, misalnya memiliki anak retardasi mental. Maslim (2003) menggambarkan secara umum retardasi mental sebagai suatu keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap yang ditandai oleh terjadinya terhambatnya ketrampilan selama masa perkembangan sehingga mempengaruhi tingkat kecerdasan yang meliputi kognitif, bahasa, motorik dan sosial.

Kondisi anak retardasi mental tersebut membuat orang tua yag memiliki anak retardasi mental membutuhkan kondisi psikologis yang baik. Khususnya pada ibu, karena ibu adalah seseorang yang memiliki jalinan secara emosional dan fisiologis, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan anak (Kartono ,1992).
Tetapi pada kenyataan ada beberapa ibu yang tidak mampu memenuhi kondisi kesejahteraan psikologisnya secara maksimal. Ibu yang memiliki anak retardasi mental memiliki reaksi yang beragam terhadap anaknya menurut penelitian Hodap dan Daykens (Wenar, 2000) bahwa anak retardasi mental memicu kondisi yang tidak menyenangkan misalnya depresi, duka cita bagi orang tuanya karena kondisi anaknya yang memiliki kelainan. Hal tersebut sesuai yang diungkapkan oleh ibu N dan S.

Ibu N yang memiliki anak tuna grahita berumur 8 tahun pada tanggal 21 Maret 2005 di SLB Bhakti Pertiwi di ruang Kepala Sekolah merasa sedih ketika teman sepermainan anaknya mengejek dan mengatakan mengapa anaknya tidak bersekolah di sekolah biasa. Mengalami kesulitan dalam komunikasi dengan anaknya. Merasa putus asa karena sudah mencoba berbagai cara untuk menyembuhkan anaknya.

Hal senada juga diungkapkan Ibu S pada tanggal 14 April 2005 di kediamannya yang mempunyai anak putra yang pada umur 11 tahun sekolah di SLB C YPAALB, menceritakan tentang keadaannya yang merasa malu , putus asa dan sedih dengan keadaan anaknya.

Hal tersebut diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Hughes dan Liberman (Davis, 1993) menyebutkan orang tua yang memiliki anak berkelainan 33% mengalami depresi dan kecemasan dan 31% mengalami stres mengindikasikan keluarga tersebut mengalami fungsi yang kurang baik karena dapat memicu masalah antar anggota keluarga misalnya masalah dengan saudara kandung, cemburu dan hubungan yang tidak baik, penarikan diri dari lingkungan, harga diri rendah.

Penggambaran kondisi psikologis ibu diatas menunjukkan bahwa ibu yang memiliki anak retardasi mental mengalami perasaan sedih, putus asa, depresi dan mengalami kondisi yang tidak menyenangkan, sehingga diperlukan dukungan bagi ibu yang memiliki anak retardasi mental, baik dari lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Pemenuhan kesejahteraan psikologis pada ibu yang memiliki anak retardasi mental didukung adanya dukungan sosial yang merupakan dimensi penting dalam upaya pencapaiaan kesejahteraan psikologis, terutama bagi wanita yang banyak memiliki hubungan dengan positif dengan orang lain dibanding dengan pria (Hoyer dkk,1999).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: