HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA

Pendahuluan

Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari istilah belajar, karena pada dasarnya belajar merupakan bagian dari suatu kegiatan yang pokok atau utama dalam dunia pendidikan. Selanjutnya hasil belajar yang dicapai oleh siswa ditunjukkan melalui nilai hasil tes evaluasi, misalnya melalui ulangan atau tes. Hasil tersebut biasanya dinyatakan dalam bentuk kuantitatif atau angka yang khusus dipersiapkan untuk proses evaluasi misalnya hasil rapor. Hasil rapor tersebut dapat dipergunakan oleh guru, untuk mengetahui sejauhmana murid-murid memahami pelajaran di sekolah dan dapat digunakan untuk menentukan prestasi belajar siswa sebagai hasil belajar.

Prestasi dipandang dari bidang pendidikan ialah suatu istilah yang menunjukkan derajat keberhasilan siswa mencapai tujuan belajar setelah mengikuti proses belajar dari suatu program yang telah ditentukan (Tjundjing, 2000). Prestasi belajar siswa tersebut lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru (Tu’u, 2004). Nilai tes tersebut oleh guru kemudian diolah dan dituangkan kedalam bentuk rapor, yang kemudian rapor tersebut digunakan sebagai pencapaian hasil belajar siswa selama di sekolah.

Prestasi belajar siswa sering dijadikan sebagai indikator keberhasilan siswa sebagai hasil dari pendidikan di sekolah. Siswa yang memiliki prestasi belajar yang tinggi atau memuaskan biasanya dianggap berhasil dalam mengikuti pendidikan di sekolah. Namun bila siswa mencapai prestasi belajar yang kurang memuaskan, maka siswa tersebut dianggap tidak berhasil atau bahkan gagal dalam mengikuti pendidikan di sekolah. Hal ini yang menjadikan mengapa para siswa berlomba-lomba dalam belajar, yaitu agar dapat mencapai prestasi belajar yang tinggi.

Terkait dengan prestasi belajar yang tinggi, Nardono (2006), salah satu guru di SMA N I Depok, menyatakan bahwa kebanyakan para siswa yang menduduki rangking lima besar, adalah mereka yang memiliki kebiasaan belajar yang baik seperti selalu mengulang pelajaran yang diberikan di sekolah, atau mengerjakan tugas dari sekolah. Ditambahkan pula oleh Nardono (2006) bahwa dengan memiliki kebiasaan belajar yang efisien, para siswa dapat mencapai prestasi belajar yang tinggi. Namun tidak semua siswa mengetahui cara atau kebiasaan belajar yang efisien sehingga mengakibatkan prestasi belajar mereka menurun.

Brotosedjati (2004) sebagai Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah (Kedaulatan Rakyat, 13 Januari 2004) mengatakan bahwa untuk wilayah Jateng besarnya angka para murid yang drop out mencapai 0, 36 % dari total empat juta anak didik. Drop out tersebut bukan hanya disebabkan oleh faktor ekonomi saja tetapi karena cara belajar siswa yang tidak baik, sehingga menyebabkan prestasi belajar mereka merosot.

Hal yang hampir sama juga dialami oleh SMA N I Depok pada tahun 2005, Wuryono (2006), selaku guru koordinator BK SMA N 1 Depok, menambahkan bahwa nilai rata-rata rapor siswa kelas X pada tahun 2005 juga mengalami penurunan. Jika pada tahun 2004 nilai rata-rata rapor ialah sebesar 70 sedangkan untuk tahun 2005 mengalami sedikit penurunan menjadi 66,5. Penurunan prestasi belajar ini dikarenakan siswa memiliki kebiasaan belajar yang buruk, seperti memilih sistem kebut semalam untuk belajar jika besok ada ulangan atau tes dan kebiasaan mereka untuk menunda-nunda mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

Menurut Suryabrata (2002) prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri siswa (internal) dan dari luar diri siswa (eksternal). Kemudian faktor internal masih dapat dibedakan lagi menjadi : (1) faktor fisiologis yang mengacu pada keadaan fisik, (2) faktor psikologis, meliputi faktor non-fisik seperti minat, motivasi, inteligensi, perilaku, dan sikap. Sedangkan faktor eksternal dibedakan lagi menjadi : (1) faktor non sosial, seperti keadaan udara, suhu, udara, cuaca, waktu, tempat, dan peralatan belajar, (2) faktor sosial, seperti kehadiran manusia (sesama manusia).

Dari beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar di atas, inteligensi atau kecerdasan intelektual (IQ) memberikan pengaruh yang paling besar. Masyarakat umum mengenal inteligensi sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran, ataupun kemampuan untuk memecahkan problem yang dihadapi (Azwar, 2002). Berbagai penelitian untuk memberikan gambaran seberapa besar inteligensi mempengaruhi prestasi belajar siswa telah banyak dilakukan. Misalnya penelitian yang telah dilakukan oleh Tjundjing (2001) yang menemukan korelasi positif antara IQ dan prestasi belajar. Orang yang memiliki inteligensi yang tinggi, pada umumnya memiliki potensi dan kesempatan yang lebih besar untuk meraih prestasi belajar yang tinggi. Dibandingkan dengan mereka yang memiliki inteligensi biasa-biasa saja.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: