HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN PENYESUAIAN DIRI DENGAN INTENSI PROSOSIAL PADA REMAJA

Pendahuluan

Pembangunan merupakan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan umum menuju masyarakat adil dan makmur dengan cara meningkatkan produksi dan produktivitas, mengubah struktur masyarakat Indonesia serta memodernisasikan proses dan hubungan produksi sedemikian rupa sehingga seluruh potensi bangsa dapat berkembang. Dewasa ini negara dan bangsa Indonesia sedang membangun menuju kepada cita-cita suatu masyarakat adil dan makmur. Modernisasi dan industrialisasi adalah suatu proses yang tidak dapat terelakkan, dimana tekonologi dan pengetahuan merupakan tulang punggung pembangunan tersebut. Usaha pembangunan, baik tujuan maupun cara-cara pelaksanaan, tidak dapat dilepaskan dari sistem nilai dan moralitas pokok suatu bangsa. Suatu usaha pembangunan yang oleh masyarakat dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai pokoknya tidak akan mendapat dukungan dan akan gagal (Tjokrowinoto, 1996).

Setiap pembangunan akan selalu menimbulkan perubahan-perubahan fundamental yang tampak dalam jangka panjang, yang berupa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan meningkatkan intensitas globalisasi, serta pola hidup, dimana nilai materialisme dan hedonisme akan semakin menonjol. Pada tahap yang lebih moderen, perubahan-perubahan itu selain berakibat pada usaha pembangunan kita sendiri, juga turut mengubah nilai serta struktur sosial yang mendukungnya. Perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh pembangunan tidak hanya meliputi struktur masyarakat serta struktur sosial setempat, tetapi juga meliputi lingkungan hidup, lingkungan kerja serta keadaan manusia pribadi. Perubahan-perubahan sosial sering disertai oleh rasa tidak menentu, rasa gelisah, dan khawatir pada tingkat individu (Tjokrowinoto, 1996).

Perubahan-perubahan sosial yang serba cepat sebagai konsekuensi modernisasi, industrialisasi, kemajuan ilmu, dan teknologi mempunyai dampak pada kehidupan masyarakat. Perubahan-perubahan tersebut telah mempengaruhi nilai kehidupan masyarakat. Perubahan-perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan, dan wewenang. Tidak semua individu mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut. Sebagai dampak modernisasi, industrialisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pola hidup/gaya hidup masyarakat sebuah negara mengalami perubahan, dimana nilai-nilai moral, etika, agama dan tradisi lama ditinggalkan karena dianggap usang. Prinsip yang dikembangkan oleh masyarakat moderen adalah penghargaan hak asasi manusia. Akan tetapi dengan semakin majunya suatu masyarakat akan berdampak pada individu, dimana individu tersebut akan semakin menjauh dari nilai-nilai sosial dan nilai-nilai agama. Meskipun tidak sepenuhnya mereka meninggalkan nilai-nilai tersebut, akan tetapi di dalam pengamalan nilai-nilai sosial dan nilai-nilai agama di dalam kehidupan sehari-hari sangat rendah (Hawari, 1996).

Perlahan-lahan tetapi pasti nilai-nilai dan budaya asing yang pada umumnya tidak sesuai dengan moral, etika, agama dan tradisi bangsa Indonesia, mengikis tatanan dan nilai-nilai sosial masyarakat yang sudah ada. Pada akhirnya, masyarakat akan semakin menjauh dari nilai-nilai sosial dan nilai-nilai agama yang mendasari perilaku kehidupan mereka sehari-hari.

Masalah utama dalam suatu masyarakat modern adalah timbulnya disintegrasi dari masyarakat tradisional karena unsur-unsurnya mengalami perubahan yang sangat cepat. Kebenaran-kebenaran abadi sebagaimana terkandung dalam ajaran agama disisihkan, karena dianggap kuno, sehingga orang hanya berpegang kepada kebutuhan materi. Dalam masyarakat modern rongrongan terhadap agama, moral, budi pekerti, warisan budaya lama dan tradisional telah menimbulkan ketidakpastian yang mendasar dalam bidang hukum, moral, budi pekerti, norma, nilai, dan etika kehidupan. Perubahan-perubahan sosial yang cepat sebagai akibat modernisasi telah menyebabkan warga masyarakat kehilangan identitas diri.

Fenomena yang berkembang pada saat ini adalah, dimana tingkat tanggung jawab sosial masyarakat terkesan kurang atau bahkan menghindari tanggung jawab sosialnya (Madani, 17 Maret 2002). Terdapat pandangan bahwa masalah-masalah sosial adalah tanggung jawab pemerintah semata. Dampak dari sebuah kehidupan moderen adalah berkembangnya sikap egoisme, individulisme di dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga kesan yang ditimbulkan adalah sikap saling tidak memperdulikan, kurang menghargai, bahkan antar individu satu dengan individu tidak saling mengenal, kemudian rendahnya sikap empati terhadap orang lain (Hawari, 1996). Manusia pada dasarnya memilki naluri menolong orang lain. Mereka yang menolong, akan mendapatkan pertolongan. Akan tetapi dengan adanya pergeseran nilai tolong menolong, maka yang berkembang adalah nilai egoisme. Individu menganggap bahwa perilaku menolong akan menimbulkan kerugian, baik secara fisik maupun materi dan waktu (Republika, 4 April, 2003).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: