HUBUNGAN ANTARA KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN DENGAN OTONOMI PADA REMAJA PUTRI

Pendahuluan

Remaja di Indonesia dipandang sebagai generasi muda yang memiliki peranan sangat penting dan strategis dalam pembangunan masyarakat, bangsa dan negara, yaitu sebagai generasi penerus nilai-nilai bangsa dan cita-cita pembangunan. Oleh karena itu remaja diharapkan dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang berkualitas, bertanggungjawab dan otonom. Menjadi seorang yang dewasa, remaja dituntut untuk bertanggung jawab atas diri mereka sendiri dan dari segala apa yang mereka perbuat bukan bergantung pada orang tua ataupun orang lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Alqur’an surat Al Mudatsir ayat 38, yang artinya :
“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”.

Steinberg (2002) menyatakan bahwa meskipun perkembangan otonomi merupakan isu penting psikososial sepanjang rentang kehidupan, namun perkembangan otonomi yang menonjol adalah selama masa remaja, dikarenakan adanya perubahan fisik, kognitif, dan sosial terjadi pada periode ini. Oleh karena itu otonomi remaja dipandang sebagai suatu hal pokok dan mendasar yang patut mendapat perhatian agar para remaja dapat dengan mantap memasuki dunianya yang baru yaitu masa dewasa tanpa hambatan yang berarti.

Otonomi adalah suatu bagian dari tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai oleh remaja sebagai persiapan untuk melangkah ke masa dewasa, sesuai dengan pernyataan Havigurst (Rifai, 1987) yang menyatakan bahwa salah satu tugas perkembangan remaja adalah mendapatkan kebebasan emosional dari orang tua atau orang dewasa lainnya. Hal ini berarti remaja sudah tidak lagi bergantung pada orangtuanya tetapi remaja dituntut untuk dapat berdiri sendiri dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Jika otonomi ini tidak tertanam dengan baik pada diri remaja maka dalam perjalanan kehidupannya akan mengalami ketimpangan.

Otonomi menurut Steinberg (2002) adalah tidak tergantungnya lagi individu itu secara emosional dengan orang tua maupun orang dewasa lainnya atau dapat mengontrol emosinya sendiri, dapat mengambil keputusan dan melaksanakannya sendiri tanpa pengaruh atau bantuan orang lain, juga mengetahui nilai-nilai diri pribadi baik dalam hal moral, politik maupun agama yang diyakini dan tidak mudah terpengaruh oleh nilai-nilai orang lain.

Berdasarkan beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa otonomi itu sangat penting tertanam dalam diri individu yang dewasa terutama para remaja. Penelitian ini menitikberatkan pada otonomi remaja putri dikarenakan dengan adanya otonomi pada remaja putri diharapkan remaja putri mempunyai kepribadian yang utuh dan dapat menjadi pribadi yang kompeten. Hal ini dapat terlihat pada sikap asertif, mempunyai inisiatif dapat mengambil keputusan yang tepat, mempunyai moral yang baik dan mempunyai nilai yang kuat agar tidak tergoda pada masalah-masalah yang saat ini banyak terjadi, perempuanlah yang menjadi korban, seperti pada kasus pemerkosaan, penipuan, dan lain-lain. Selain itu juga di dalam konteks mahasiswa dengan adanya otonomi pada remaja putri, maka akan menjadikan remaja putri tersebut tidak gampang terpengaruh dengan orang lain, mempunyai inisiatif, dan akan menjadikan mahasiswa yang cerdas.

Beberapa fenomena di Indonesia terutama masyarakat Jawa memperlihatkan adanya suatu sikap yang menghambat para remaja putri bersikap mandiri, dikarenakan unsur patrilinial yang kuat menjadikan wanita harus selalu patuh, tunduk, pada orang tua dalam artian harus menuruti segala apa yang dicita-citakan oleh orangtua dan kurang diberi kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. Oleh karena itu terkadang remaja Indonesia sampai batas akhir remaja pun mereka masih tergantung dengan orangtua. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kagitcibasi (Sarlito, 2004) dalam penelitian ini terbukti bahwa ibu-ibu ( 88 %) dari suku Jawa dan ibu-ibu Sunda (81 %) mengharapkan anak agar menuruti orang tua, begitu juga para ayah sebanyak 85 % dari suku Jawa dan 76 % dari suku Sunda yang mempunyai harapan yang sama dengan ibu-ibunya. Berbeda dengan yang ada di bangsa-bangsa seperti Korea, Singapura, dan Amerika Serikat, lebih banyak orangtua yang berharap agar anaknya dapat mandiri.

Seiring dengan pernyataan di atas sebagai contoh otonomi emosi yang masih sukar dikembangkan oleh remaja putri, Monks, dkk (2002) menjelaskan bahwa pelepasan emosi remaja putri dengan orang tuanya lebih sukar dari pada remaja laki-laki hal ini disebabkan oleh adanya interaksi antara sifat khas wanita dan nilai-nilai masyarakat di Indonesia. Anak remaja putri di Indonesia terutama di Jawa diharapkan untuk mencintai orang tua, keluarga, dalam arti lebih mempunyai unsur merawat, memelihara bertanggung jawab, tergantung pada rumah dan keluarga.

Adanya kebiasaan yang membudaya bahwa anak perempuan harus selalu membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehingga anak perempuan tidak dapat mengikuti kegiatan-kegiatan di luar rumah untuk bersosialisasi dengan teman dan lingkungannya akan menghambat perempuan untuk mengembangkan potensinya (Sufiarti, 2001). Perilaku semacam ini dipemudah dengan pandangan masyarakat yang menyetujui perilaku tersebut. Hal senada juga terlihat pada penelitian Karma (2002) yang menyatakan bahwa di Lombok Barat para remajanya memperlihatkan sikap dan tindakan yang mengindikasikan sebagai remaja yang kurang otonom. Seperti dalam menentukan pilihan pendidikan lanjutan dan pekerjaan, mereka sangat tergantung pada orang tua mereka. Ini dikarenakan biasanya di dalam keluarga pun si anak tidak pernah diajarkan atau dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu si anak menjadi tergantung pada orangtua.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: