HUBUNGAN ANTARA KEYAKINAN KOGNITIF ORANGTUA TENTANG PERKEMBANGAN ANAK DENGAN POLA ASUH DEMOKRATIS

Pendahuluan

Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama yang ditemui anak. Anak lahir, besar, berkembang dan belajar tidak bisa terlepas dari peran keluarga. Orangtua mempunyai peran untuk melindungi, mengasuh dan menolong anak-anak mereka dalam menjalani proses perkembangan. Relasi kehidupan yang terjalin antara orangtua dengan anaknya dalam konteks lingkungan keluarga dikenal dengan istilah pola asuh.

Darling (1999) menyatakan bahwa pola asuh akan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan anak. Anak-anak yang memiliki orangtua dengan pola asuh demokratis akan memiliki kompetensi sosial yang lebih baik dan lebih bisa berperan secara aktif dalam lingkungannya dibandingkan dengan orangtua yang menerapkan pola asuh selain demokratis. Lebih lanjut, Darling (1999) menyebutkan bahwa remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang demokratis akan memiliki tingkat permasalahan yang rendah di sekolah dibandingkan dengan remaja yang dibesarkan di lingkungan yang otoriter.

Dampak positif lain dari pola asuh demokratis menurut LeFebvre (2002) antara lain: 1) self esteem anak yang tinggi serta memiliki kepercayaan diri, 2) rendahnya tingkat kecemasan dan depresi yang mungkin terjadi pada anak, 3) tumbuhnya empati, kontrol emosi, kemampuan komunikasi, serta keterampilan resolusi konflik. 4) tumbuhnya kepekaan dan rasa tanggung jawab yang tinggi pada anak, 5) prestasi akademik anak yang bagus, dan 6) menurunnya perilaku bermasalah yang mungkin terjadi pada anak.
Pola asuh demokratis yang diterapkan orangtua di rumah merupakan sumber munculnya individu berprestasi dan memiliki hubungan negatif dengan perilaku agresif pada anak. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tarmudji (2001) dan Markum (1998).

Pola asuh demokratis menurut Baumrind (Santrock, 2002) lebih menekankan musyawarah dengan anak, komunikasi dua arah, mendorong anak untuk lebih mandiri dan sikap orangtua yang hangat pada anaknya. Pengasuhan demokratis juga diasosiasikan oleh Baumrind (Santrock, 2002) dengan kompetensi pada anak.
Sabattini dan Leaper (2004) menyatakan bahwa orangtua yang memiliki pola pikir egaliter cenderung memiliki pola asuh demokratis. Pola asuh demokratis lebih memberikan kebebasan pada anak untuk mengembangkan ide-ide dalam mengeksplorasi lingkungannya, orangtua berperan sebagai pendorong dan pengontrol sikap anak.

Rubin dan Mills ( Sigel, dkk,1992) menyatakan bahwa pola asuh yang diterapkan oleh orangtua terhadap anaknya merupakan implikasi dari keyakinan orangtua terhadap anaknya. Sementara itu, keyakinan ini merupakan konsekuensi dari tujuan pengasuhan yang telah ditetapkan oleh orangtua.
Sigel (1992) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa hubungan antara keyakinan orangtua dengan strategi pengasuhan dapat dilihat melalui sikap orangtua dalam membimbing anak dan pengevaluasian yang dilakukan orangtua terhadap perkembangan kemampuan yang dialami anak. Keyakinannya tersebut dipengaruhi oleh dua kondisi yang paling mendasar, yaitu pola komunikasi orangtua dengan anak serta kondisi interaktif yang terjadi antar orangtua dan anak.

Keyakinan kognitif seorang ibu terhadap perkembangan anaknya menurut Martin dan Johnson (Sigel,dkk, 1992) bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh sang anak merupakan hasil dari proses aktif yang dijalani oleh sang anak dalam kehidupannya, sehingga mekanisme masuknya pengetahuan ke dalam diri sang anak yang meliputi exploration, experimentation, dan self regulation dianggap sebagai faktor internal yang berasal dari dalam diri seorang anak.

Keyakinan ibu terhadap perkembangan anaknya dengan sudut pandang kognitif merupakan satu keyakinan yang didasarkan pada aspek internal dalam diri seorang anak, sehingga seorang ibu cenderung melihat anaknya sebagai sosok yang mandiri dan bisa diajak kerja sama.

Keyakinan kognitif orangtua diwujudkan dalam sikap orangtua terhadap anaknya. Orangtua lebih memberikan kebebasan pada anaknya untuk lebih aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Orangtua yang memiliki keyakinan kognitif melihat bahwa interaksi yang dilakukan anak mereka dengan lingkungan sekitar merupakan salah satu kunci proses perkembangan anak (Sigel, dkk, 1992).

Leichter (Sigel, dkk, 1992) menuturkan bahwa proses evaluasi yang dilakukan orangtua dan pemberian label dari orangtua untuk anak adalah salah satu bagian nilai keluarga dan sebagai sistem pendidikan keluarga. Bagaimana orangtua mempersepsikan perkembangan anak mereka menjadi nilai penting dalam interaksi keluarga dan merupakan bagian yang penting dalam sistem pendidikan di keluarga itu sendiri. Sudut pandang penilaian orangtua terhadap perkembangan anak memiliki satu implikasi yang signifikan terhadap perkembangan psikologis anak.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: