HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI ASERTIF DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN

Pendahuluan

Allah menciptakan seluruh apa yang ada di alam ini secara berpasang-pasangan. Fitrah inilah yang menggerakkan para makhluk-Nya untuk senantiasa merindukan pasangan hidupnya. Kerinduan ini akan terobati ketika mereka menemukan pasangannya (Abdullah, 2004).

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui ” (QS. Yasin:36)

Untuk kelangsungan dan langgengnya kehidupan, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dan menjadikan hubungan diantara keduanya dengan suatu cara tertentu untuk merealisasikan tujuan tersebut. Hal ini merupakan kehendak Allah agar manusia tidak seperti makhluk-makhluk yang lain, yang naluri seksualnya dibiarkan berjalan tanpa kontrol kesadaran. Tetapi Allah menetapkan suatu aturan yang sesuai untuk menjaga kemulyaan dan kehormatan manusia, kemudian Allah menjadikan hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai hubungan yang agung, yang dibangun atas dasar kerelaan antar keduanya. Islam telah menyerukan, menganjurkan, dan memudahkan pernikahan serta telah menetapkan hukum untuk mengaturnya. Tidak ada yang meragukan bahwa pernikahan adalah bentuk terbaik untuk menyalurkan naluri antara laki-laki dan perempuan karena adanya ikatan antara laki-laki dan perempuan dengan perjanjian yang bersifat syar’i yang membolehkan keduanya hidup bersama di bawah satu atap (Kamal, 2005).

Setelah manusia mendapatkan pasangan hidup maka ia akan merasa tenteram dan bahagia. Karena seseorang akan merasa tenteram dan bahagia ketika bersanding dengan orang yang dicintainya. Oleh karena itu, Allah menciptakan seorang istri bagi seorang laki-laki sebagai sunnah-Nya (Abdullah, 2004).

Rasa tenteram dan kasih sayang sayang merupakan salah satu bentuk kepuasan pernikahan yang didapatkan oleh pasangan pernikahan. Hal ini merupakan bayyinat dari Al Qur’an Surat Ar Rum ayat 21 yaitu :

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

Kepuasan pernikahan pasangan suami istri dalam hubungan yang dijalaninya akan didapatkan dalam keluarga bahagia sebagaimana yang tertulis di dalam Undang-undang RI No. 1 Tahun 1974 yang menyebutkan tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dewi (2003) juga mengatakan bahwa setiap orang yang telah menikah selalu mengharapkan kehidupan yang bahagia dalam rumah tangganya. Salah satu kebahagiaan yang dirasakan adalah ketika ia mendapatkan kepuasan pernikahan.

Kualitas perkawinan yang baik ditandai oleh komunikasi yang baik, keintiman dan kedekatan, seksualitas, kejujuran dan kepercayaan yang kesemuanya itu menjadi sangat penting untuk menjalin relasi pernikahan yang memuaskan. Akan tetapi pada realitasnya banyak penderitaan, kekecewaan dan keputusasaan yang terjadi dalam kehidupan berumah tangga. Masalah dapat memburuk jika penyelesaiannya tidak memuaskan, timbul rasa kesal, marah, frustasi dan merasa tidak puas. Akibatnya, terjadi pertengkaran-pertengkaran yang seringkali diwarnai dengan munculnya kekerasan dalam rumah tangga dan bisa berakhir pada perceraian (Dewi, 2003).

Menurut Kepala Pengadilan Agama Magetan, Miswan, kebahagiaan keluarga dapat dicapai dengan mengembangkan sikap saling pengertian dan bijaksana sehingga dapat terwujud keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Akan tetapi pada kenyataannya angka kasus perceraian di Indonesia terus meningkat dari waktu ke waktu. Di provinsi DIY, dahulu hanya Kabupaten Gunungkidul saja yang mempunyai angka perceraian tinggi. Tetapi belakangan juga terjadi pada wilayah lain termasuk wilayah kota Yogyakarta. Sebagaimana diungkapkan Kepala Kantor Departemen Agama Kota, Nurudin SH, bahwasannya angka perceraian meningkat cukup tajam. Jika pada 2003 hanya terjadi 80 kasus, maka pada 2004 menjadi 140 kasus. Menurut Nurudin SH banyak pasangan yang bercerai hanya karena beda pendapat, sikap egois dan saling menang sendiri (Linggar, Minggu Pagi Online). Penderitaan yang dirasakan salah satu bentuknya adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Menurut Direktur Eksekutif Mitra Perempuan Rita Serena Kolibonso, data statistik Mitra Perempuan menunjukkan bahwa tahun ini perempuan yang melaporkan kekerasan yang dialami meningkat 38,8 % dibandingkan dengan tahun 2004 (329 perempuan). Pelaku kekerasan paling banyak adalah suami (77,36 %), mantan suami (3,08 %), orang tua/mertua/saudara (6,15 %), majikan (0,22 %). Ada juga pelaku kekerasan adalah pacar/teman dekat sebanyak 9,01 %
(Susi Ivvaty, Harian KOMPAS).

Kekecewaan dan rasa frustasi suami istri dalam rumah tangga dituliskan oleh Mubayidh (2005) dalam kasus mengenai kenyataan yang dialami oleh pasangan suami istri. Pada awalnya pasangan tersebut tidak pernah membayangkan akan terjadinya perkara-perkara serta tindakan-tindakan yang membuat kedua belah pihak tidak nyaman, tegang, panas dan tersinggung oleh tindakan yang lain.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: