HUBUNGAN ANTARA MENDENGARKAN MUSIK ROCK DENGAN PERILAKU AGRESI PADA REMAJA DI YOGYAKARTA

Pendahuluan

Perkembangan teknologi dan arus informasi yang terus meningkat dari tahun ke tahun memiliki pengaruh yang cukup besar pada kehidupan remaja di Indonesia. Remaja sebagai instrumen sekaligus objek dari perkembangan sewajarnya mampu menerima dan mengeliminasi munculnya gejolak yang ditimbulkan, sehingga remaja dalam kesiapannya menghadapi trend yang makin beragam mampu diapresiasikan menjadi sebuah karya yang pada akhirnya remaja mempunyai image positif. Namun hal ini terlihat sangat sulit terlaksana, mungkin disebabkan masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa yang penuh kontradiksi.

Banyak remaja mengalami kebingungan identitas karena pada masa ini terjadi transisi. Remaja belum memiliki status sebagai orang dewasa, tetapi mudah sekali meletup, sehingga tak heran sering terdengar perkelahian atau keributan dan juga pelanggaran yang dilakukan oleh remaja.

Kekerasan diadaptasi oleh remaja melalui media informasi berupa moshing (menonton musik dengan saling mendorong, atau berkelahi) dalam konser musik rock yang kemudian ditiru oleh remaja. Bentuk perilaku agresif tersebut menjadi salah satu bagian dalam identitas diri yang ingin diakui.

Bentuk dari perilaku agresif umumnya diartikan sebagai segala bentuk tingkah laku yang disengaja bertujuan untuk melukai atau mencelakakan individu lain atau benda-benda. Menurut Moore dan Fine (Koeswara, 1988) tingkah laku agresi adalah tingkah laku kekerasan secara fisik ataupun verbal terhadap individu lain atau terhadap objek-objek. Pendapat Baron (Koeswara, 1988) mendefinisikan agresi sebagai tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut. Agresi juga biasanya didefinisikan sebagai perilaku yang dimaksudkan untuk melukai orang lain (secara fisik atau verbal) atau merusak harta benda (Atkinson, 1996).

Perilaku agresi yang dilakukan remaja salah satunya terjadi ketika konser musik, khususnya konser musik rock yang banyak digemari oleh kalangan remaja. Musik menurut Ian Antono khususnya jenis rock terus berevolusi baik dari sisi musik maupun liriknya, hal ini merupakan hasil evolusi musik rock yang ada di Indonesia sekarang dengan munculnya kelompok-kelompok musik semacam Edane, Gigi, Padi, Slank, Dewa. Meskipun pijakan popnya sangat kuat untuk grup macam itu, tapi energi yang mereka pakai ketika dipanggung adalah energi rock (Kompas, 01 Desember 2002). Musik rock yang dianggap sebagian orang merupakan jenis musik yang kurang digemari dan bisa menimbulkan gejolak, bahkan perilaku anarkis khususnya bagi orang yang salah mengapresiasikan lagu akan membawa image yang buruk dari jenis musik itu sendiri.

Kerusuhan yang terjadi dalam konser musik sering melibatkan penggemar atau penontonnya, terutama untuk musik rock ini kebanyakan anak muda, sehingga musik rock identik dengan musiknya anak muda. Karena musik rock bercirikan sebagai musik yang iramanya keras, menghentak-hentak dengan frekuensi tinggi. Remaja yang selalu energik dan unik sangat cocok dengan ciri dari musik rock yang bersifat keras dan bersemangat dalam pembawaannya sehingga sering kali menjadi kerusuhan.
Bentuk-bentuk kerusuhan yang terjadi dapat ditimbulkan oleh masalah sepele dan akhirnya memicu seseorang untuk bertindak agresif, hal ini selalu menjadi ciri khas dengan konser musik. Sering terlihat spanduk-spanduk acara konser musik dituliskan dengan musik anti kerusuhan atau musik tanpa kekerasan dan perdamaian. Perilaku melempar batu yang berbuntut kerusuhan pada konser musik Iwan Fals maupun Westlife dapat digolongkan sebagai perilaku agresif.

Musik rock identik sekali dengan pemberontakan terhadap nilai-nilai lama yang diwakili oleh tema-tema lagu yang berisikan kritik sosial, anti kemapanan dengan lirik-lirik yang cenderung kasar dengan kata-kata yang kotor. Dalam setiap konser atau pertunjukan musik rock dihantui dengan kerusuhan, tawuran masal antara penonton dengan aparat keamanan, dan perusakan fasilitas-fasilitas publik (Kompas, 17 November 2002). Bahkan dari musik rock ini muncul sebuah aliran yang disebut punk rock. Aliran punk rock ini menjelma sebagai gaya hidup yang memiliki penganut yang fanatik, militan, total dan menginginkan perubahan dengan tindakan yang revolusioner terhadap keadaan yang telah ada, baik sistem pemerintahan, agama, sistem ekonomi, isu-isu politik maupun kehidupan sosial yang telah ada (Yahoo. Com 17 November 2002).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: