HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TERHADAP GURU KONSELOR SEKOLAH DENGAN MINAT SISWA UNTUK MENGIKUTI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH

Pendahuluan

Proses belajar dan hasil belajar dilihat dari peserta didik (siswa) dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor yang berasal dari dalam individu dan faktor yang berasal dari luar individu. Faktor yang berasal dari luar individu adalah misalnya keadaan lingkungan yang panas, gersang, berbau serta tingkat kebisingan yang tinggi, cahaya, suhu dan alat yang digunakan seperti buku, alat tulis serta alat peraga. Faktor yang terdapat di dalam individu dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor psikis dan faktor fisik. Faktor psikis yang dimaksud antara lain adalah kognitif, afektif, psikomotor dan kepribadian. Faktor fisik antara lain panca indera, anggota badan dan organ-organ di dalam tubuh termasuk syaraf. Semua faktor-faktor tersebut dapat disebabkan karena faktor keturunan dan faktor lingkungan. Berdasarkan faktor-faktor di atas tenaga pendidik (guru) harus mampu memperhatikan perbedaan para siswanya dalam memberikan pelajaran supaya dapat menangani sesuai dengan kondisi peserta (siswanya) untuk menunjang keberhasilan proses belajar, karena faktor-faktor yang mempengaruhi belajar para siswa antara satu dengan yang lainnya sangat berbeda.

Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam hidup manusia tidak ada satu haripun berlalu tanpa masalah, hal ini tidak terkecuali para siswa. Dalam suasana belajar sering muncul situasi dimana siswa dibawa kepada masalah yang tidak dapat diduga sebelumnya. Masalah tersebut kadang-kadang berupa kesulitan intelektual, penyesuaian diri dan kepercayaan diri .

Salah satu cara yang ditempuh oleh lembaga pendidikan untuk dapat menekan seminimal mungkin atau mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh siswa, yaitu dengan dimasukkannya bimbingan dan konseling sekolah mengingat sekolah adalah sentral pendidikan bagi anak dan keluarga. Bimbingan dan konseling sekolah digalakkan dalam rangka membantu siswa agar dapat mengatasi permasalahannya, sehingga siswa dapat menyesuaikan diri dengan baik. Begitu pentingnya bimbingan ini, seperti yang diatur dalam peraturan pemerintah No. 28 tahun 1990 (Munandar, 1999) yang isinya antara lain, bahwa bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka menemukan pribadi untuk mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. Tujuannya adalah menemukan pribadi yang dimaksud untuk mengenal kekuatan dan kelemahan pribadi, serta menerima secara positif dan dinamis sebagai modal untuk mengembangkan dirinya baik di lingkungan rumah, sekolah, masyarakat dan alam sekitar.

Upaya yang dilakukan pihak sekolah dengan adanya bimbingan dan konseling sekolah yang diberikan kepada siswa belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Hal tersebut terbukti dengan masih adanya kendala-kendala dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling sekolah, diantaranya disebabkan oleh faktor-faktor dari siswa itu sendiri. Di Indonesia pada tahun 1996 Pusbang Kurrandik (Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan) Balitbang Dikbud (http://www.depdinas.co.id.13/8/03) melakukan penelitian terhadap 4994 siswa sekolah menengah atas di provinsi Jabar, Lampung, Kalbar dan Jatim, mendapatkan hasil bahwa 696 dari siswa SLTA (13,94 %) tersebut mengalami kesulitan dalam aktivitas belajar umum, dan 479 di antaranya disebabkan oleh gangguan tingkah laku misalnya anak nakal, sulit diatur, suka melawan, sering membolos dan berperilaku antisosial. Anak dengan gangguan tingkah laku ini seringkali mempunyai prestasi akademik di bawah taraf yang diperkirakan.

Pada kenyataan sekarang ini pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah masih banyak mengalami kendala-kendala baik yang datang dari sekolah, petugas bimbingan atau guru, maupun dari siswa. Kendala yang berasal dari sekolah antara lain: kurangnya sarana dan prasarana, kurangnya pemahaman bimbingan karir baik dari kepala sekolah maupun guru. Hambatan dari guru, yaitu: kurangnya tenaga konselor yang profesional, kurangnya pengertian dan partisipasi, kurangnya minat menjadi konselor yang profesional, kurangnya tanggapan yang positif terhadap pelaksanaan bimbingan konseling. Kendala yang datang dari siswa, antara lain: kurangnya minat untuk berhubungan dengan petugas bimbingan, kurang peka untuk menemukan masalah sendiri, kesulitan dalam mengatur waktu untuk berhubungan dengan petugas bimbingan (Ahmadi, 1991).

Dalam beberapa kasus rendahnya minat siswa untuk mengikuti layanan bimbingan dan konseling sekolah dikarenakan guru konselor sekolah sering bertindak kurang profesional. Salah satu contoh guru konselor sekolah dengan sengaja sering bertindak tegas, arogan dan kurang simpatik (kaku) terhadap para siswanya guna menegakkan peraturan sekolah, sehingga guru konselor sekolah dicap sebagai polisi sekolah yang menangkap dan menghukum siswa bermasalah sehingga sangat ditakuti dan dijauhi oleh para siswa. Beberapa guru konseling sengaja bersikap tegas, arogan dan kurang simpatik (kaku) agar mempunyai wibawa, sehingga siswa takut untuk melanggar peraturan sekolah. Keadaan yang demikian membuat siswa tidak menyenangi bimbingan dan konseling sekolah, sehingga tujuan bimbingan dan konseling sekolah menjadi menyimpang dan tentunya jauh dari harapan yang diinginkan.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: