HUBUNGAN PENGATURAN DIRI DAN MOTIF BERPRESTASI DENGAN KEBIASAAN BELAJAR PADA MAHASISWA

Pendahuluan

Di lembaga perguruan tinggi terjalin kerjasama antara dosen, mahasiswa dan sivitas akademika lainnya dalam kegiatan proses belajar mengajar (Kadir, 2000). Kegiatan–kegiatan pokok dalam proses belajar mengajar tersebut tersusun dalam sistem kredit semester yang telah dipolakan bentuk–bentuk dan kegiatan– kegiatan pokok yang harus dilaksanakan yang terdiri dari kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus, kegiatan dalam bentuk perkuliahan, kegiatan dalam bentuk seminar dan kapita selekta, kegiatan dalam bentuk praktikum, kegiatan dalam bentuk penelitian dan kegiatan dalam bentuk kerja lapangan (Hamalik, 1991). Kegiatan mahasiswa selain bertatap muka dengan dosen saat kuliah berlangsung juga dituntut melakukan kegiatan secara mandiri. Mahasiswa dapat mengisi kegiatan yang bersifat mandiri dengan aktivitas yang bermanfaat. Hal terpenting yang harus mendapatkan perhatian lebih adalah masalah belajar.

Belajar di perguruan tinggi pada prinsipnya sama dengan belajar pada umumnya (Data, 1995). Menurut Data belajar di perguruan tinggi menekankan lima hal, yaitu: (1) prinsip kemandirian dalam belajar harus lebih ditonjolkan, (2) perlu adanya pemilahan–pemilahan terhadap materi yang diterima, (3) dalam proses belajar logika harus dikembangkan, (4) mahasiswa tidak boleh hanya bertindak sebagai objek (konsumtif dan impresif) melainkan harus mampu tampil sebagai subjek ilmiah (produktif dan ekspresif), (5) efisiensi dan efektifitas dalam belajar harus diwujudkan.
Kebiasaan belajar yang baik sangat penting bagi berhasilnya studi mahasiswa di perguruan tinggi. Menurut Covey (dalam Uyun, 1998) kebiasaan adalah faktor yang kuat dalam hidup, karena konsisten dan sering merupakan pola yang tidak disadari maka kebiasaan secara terus-menerus, setiap hari mengekspresikan karakter dan menghasilkan efektifitas atau ketidakefektifan.

Bagi mahasiswa sangat penting meluangkan waktunya untuk belajar agar dapat memahami tentang disiplin ilmu yang dipelajari. Dalam Materi Dasar Pendidikan Akta Mengajar V disebutkan bahwa belajar adalah sesuatu kegiatan yang sadar tujuan, artinya sadar diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Bharat, 1996). Tujuan utama dari kegiatan di perguruan tinggi adalah mengalihkan sebagian pengetahuan yang dimiliki dosen kepada mahasiswa, sehingga pengetahuan itu menjadi milik mahasiswa (Bharat, 1996). Menurut Moorey dan Price (dalam The Liang Gie, 1979) terdapat dua kesukaran yang paling banyak pada mahasiswa–mahasiswa yaitu, tidak tahu bagaimana cara belajar yang efektif dan tidak dapat memusatkan perhatian dengan baik. Sedangkan menurut Surakhmad (1980) dalam penelitian yang telah banyak dilakukannya, menyimpulkan bahwa sedikitnya terdapat delapan bidang belajar yang menimbulkan persoalan para mahasiswa, yaitu (1) bagaimana mengikuti kuliah, (2) bagaimana menelaah buku, (3) bagaimana membuat catatan, (4) bagaimana belajar sendiri, (5) bagaimana belajar dalam regu, (6) bagaimana memakai perpustakaan, (7) bagaimana mengarang ilmiah, (8) bagaimana menghadapi ujian.

Kebiasaan belajar yang baik adalah belajar yang efektif dan efisien sehingga dapat tercapai tujuan yang diinginkan. Belajar yang efektif dan efisien memiliki beberapa ciri (Data, 1995), yaitu: (1) Belajar dengan penghematan terhadap tenaga dan waktu, (2) belajar dengan memperhatikan prinsip daya guna dan hasil guna, (3) belajar dengan mengacu pada tujuan yang jelas, (4) belajar dengan mempergunakan cara atau teknik khusus, (5) belajar dengan sistematika yang tepat, (6) belajar dengan penuh percaya diri, (7) belajar dengan siap mengantisipasi permasalahan yang muncul. Pedoman agar dapat belajar secara efisien mengandung tiga prinsip, yaitu keteraturan, disiplin dan konsentrasi (The Liang Gie, 1979).

Fenomena sekarang terlihat bahwa mahasiswa banyak yang belajar ketika menjelang ujian. Mahasiswa baru akan melengkapi catatan ataupun materi menjelang hari-hari ujian. Persiapan yang dilakukan terlihat kurang dan begitu mendadak, belum terlihat keteraturan. Keadan tersebut juga terjadi ketika diberi tugas oleh dosen, juga dikerjakan secara mendadak menjelang batas akhir pengumpulan. Pemanfaatan fasilitas perpustakaan juga belum dimaksimalkan, mahasiswa berkunjung ke perpustakaan apabila mendapatkan tugas dan membutuhkan buku penunjang dalam penyelesaian tugas mata kuliah.

Fenomena lain yang terlihat adalah ketika mengikuti kuliah, terkadang masih ada yang datang terlambat bahkan ada yang jarang masuk. Ketidakdisiplinan absensi tersebut dapat mengakibatkan mahasiswa tidak dapat mengikuti ujian apabila batas minimal absensi terlewati. Apabila kebiasaan belajar tidak terwujud dengan baik akan dapat menghambat keberhasilan belajar dan kesuksesan meraih cita–cita. Banyak mahasiswa yang mempunyai potensi belajar tinggi, tetapi kurang bisa mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki. Mahasiswa belum secara maksimal untuk mengelola dan mengatur dirinya sendiri agar dapat membiasakan belajar yang baik secara efektif dan efisien. Banyak faktor yang dapat berkaitan dengan kebiasaan belajar tersebut baik ekstern maupun intern.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: