PENGARUH PELATIHAN KECERDASAN EMOSI EFEKTIF DALAM MENURUNKAN AGRESIVITAS VERBAL REMAJA

Pendahuluan

Agresivitas pada remaja sampai saat ini masih menjadi masalah sosial yang belum dapat diatasi secara tuntas. Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan yang biasa, sebab tindakan-tindakan agresivitas yang dilakukan banyak yang menjurus kepada tindakan kriminal. Misalnya pencurian sepeda motor oleh siswa STM di Klaten, (Kriminal, 2004), perkosaan siswa SMU di Yogyakarta oleh temannya sendiri (Kriminal, 2004), perkelahian di lingkungan sekolah (Solo Pos, 2004), dan tawuran antar pelajar di Jakarta (Suara Merdeka, 2004).

Farrington (Berkowitz, 1995) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa 40 persen dari anak-anak yang sangat agresif pada umur 9 tahun termasuk ke dalam kelompok paling agresif saat mereka berumur 17 tahun dan 14 persen dari anak-anak yang sangat agresif pada umur 9 tahun melakukan kejahatan dengan kekerasan pada umur 21 tahun. Realitas tersebut menunjukkan bahwa perilaku agresif yang dilakukan pada masa anak-anak akan menjadi prediktor perilaku agresif yang dilakukan pada saat remaja atau dewasa.

Perilaku agresif baik individual maupun massal mungkin sudah menjadi berita harian, saat ini beberapa televisi bahkan membuat program-program khusus yang menyiarkan berita-berita tentang tindakan agresif. Agresivitas dapat terjadi dimana saja seperti di jalan-jalan, di sekolah bahkan di kompeks-kompleks perumahan. Aksi tersebut dapat berupa agresivitas verbal seperti caci-maki maupun agresivitas fisik seperti memukul dan meninju.

Agresivitas remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada masa remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat, sehingga remaja banyak mengalami pergolakan emosi (Mu’tadin, 2002).

Menurut Mu’tadin (2002), pergolakan emosi yang terjadi pada masa remaja tidak terlepas dari bermacam-macam pengaruh, baik karena faktor internal yakni pengaruh yang berasal dari individu itu sendiri, maupun karena faktor eksternal, yaitu pengaruh lingkungan, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah, dan teman-teman sebaya serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masig faktor itu saling mempengaruhi dan ikut menentukan ciri individual seseorang sebagai seorang pribadi. Namun bila aktivitas-aktivitas yang dijalani remaja tidak memadai untuk memenuhi tuntutan gejolak energinya, maka remaja sering kali meluapkan kelebihan energinya ke arah yang tidak positif, misalnya tawuran, perkelahian antar pelajar, pencurian, perkosaan, minum-minuman keras, perampokan, bahkan pembunuhan. Hal ini menunjukkan betapa besar gejolak emosi yang ada dalam diri remaja.

Perilaku agresif di kalangan remaja yang biasa dikenal sebagai tawuran pelajar merupakan hal yang sudah terlalu sering didengar bahkan cenderung dianggap biasa. Harian Solo Pos (2004) mencatat bahwa perkelahian-perkelahian di kalangan remaja biasanya diakibatkan oleh ejekan-ejekan kecil yang dianggap sebagai tindakan penghinaan yang semakin lama semakin memanas hingga menimbulkan perkelahian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kasus-kasus kenakalan yang terjadi pada remaja merupakan salah satu manifestasi dari sifat agresi verbal yang ada dalam diri remaja.

Data yang telah diperoleh penulis berdasarkan survey awal dengan beberapa siswa di SMUN I Ngemplak Yogyakarta, diketahui bahwa di SMU ini sering terjadi perkelahian baik sesama siswa sendiri maupun dengan siswa SMU lain, banyak juga siswa yang ikut-ikutan tawuran, trek-trekan dan sejenisnya, perkelahian antar siswa tersebut biasanya dipicu dengan saling memaki, menghina, melecehkan, mengejek, dan lain-lain.
Survey awal dari beberapa guru dapat diketahui bahwa perkelahian-perkelahian tersebut diawali karena sekolahan mengikuti perlombaan antar sekolah. Tetapi pada kenyataannya sekolahan yang kalah merasa tidak terima, kemudian mereka menyerang dengan saling mengejek hingga akhirnya berkelahi. Ketidak mampuan remaja dalam menerima kekalahan tersebut menunjukkan bahwa remaja tersebut memiliki kecerdasan emosi yang rendah.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: