HUBUNGAN ANTARA EMOTION FOCUSED COPING DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA

Pendahuluan

Mahasiswa adalah sebutan yang diberikan kepada individu yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1999). Karena status (tingkat) pendidikannya yang lebih tinggi, atau bahkan tertinggi diantara siswa-siswa lainnya yang masih duduk dalam bangku sekolah, baik itu SD, SMP, maupun SMU, mahasiswa sampai saat ini masih menjadi tumpuan dan harapan bangsa. Keberadaan mereka nantinya diharapkan dapat berguna bagi bangsa dan negara serta dapat berbuat banyak bagi kemajuan masyarakat dan kecerdasan rakyat. Agar dapat menjadi seorang sarjana yang dapat berguna bagi bangsa dan negara, mahasiswa harus menjadi mahasiswa yang unggul dan berwatak baik yang nantinya akan menjadikannya menjadi sarjana yang bermutu tinggi dan berbudi luhur, sehingga harapan-harapan tersebut dapat terpenuhi. Hanya seorang mahasiswa yang belajar dengan cara yang baik yang dapat menjadi mahasiswa yang unggul dan berwatak baik. Cara belajar yang baik ini akan membantu mahasiswa mencapai kesuksesan di perguruan tinggi (The Liang Gie, 2003).

Seperti pada siswa-siswa pada umumnya, tugas utama seorang mahasiswa adalah belajar. Belajar menurut The Liang Gie (2003) adalah segenap kegiatan pikiran seseorang yang dilakukan secara penuh perhatian untuk memperoleh pengetahuan dan mencapai pemahaman tentang alam semesta, kehidupan masyarakat, perilaku manusia, gejala bahasa, atau perkembangan sejarah.

The Liang Gie (2003) menyebutkan bahwa kegiatan belajar perlu sekali dilakukan dengan cara-cara yang baik sehingga seorang mahasiswa dapat menjadi mahasiswa yang unggul dan mempunyai watak yang baik. Menurutnya, seorang yang unggul ialah seorang yang penuh gairah dalam menuntut pengetahuan, belajar teratur setiap hari, dan yang menerapkan cara-cara yang baik dalam kegiatan belajarnya. Cara-cara belajar yang baik itu adalah mahasiswa memahami, menguasai, dan melaksanakan apa yang dipelajari oleh mahasiswa tersebut, sehingga mahasiswa menjadi terbiasa yang nantinya akan merubah menjadi suatu keterampilan belajar. Pada dewasa ini terdapat sekurang-kurangnya 14 macam keterampilan belajar di perguruan tinggi yang perlu dikuasai oleh setiap mahasiswa, yaitu: keterampilan membaca, berpikir, bahasa, mengikuti kuliah, mencatat bacaan, memanfaatkan perpustakaan, menempuh ujian, memusatkan perhatian, menghafal pelajaran, mengelola waktu, mengatur diri, melakukan penelitian, mengarang karya ilmiah, dan yang terakhir adalah menulis skripsi (The Liang Gie, 2003).

Berbeda dengan siswa-siswa lainnya, mahasiswa yang karena status (tingkat) pendidikannya yang tertinggi diantara siswa-siswa lainnya yang masih duduk dalam bangku sekolah, mereka memiliki tangung jawab yang besar dan memiliki tugas yang banyak dan beragam. Tugas-tugas tersebut meliputi tugas-tugas kehidupannya sebagai seorang remaja ataupun seseorang yang beranjak dewasa dimana pada usia ini dan dengan tingkat pendidikan yang tinggi seperti ini, mereka mengalami banyak masalah yang lebih kompleks dibandingkan ketika mereka masih berada di bangku sekolah, maupun tugas-tugas di bidang akademis yang mempunyai tingkat kesukaran yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan siswa-siswa lain yang tingkatannya lebih rendah. Selain tugas-tugas akademis yang harus mereka kerjakan, seorang mahasiswa juga dituntut untuk menjadi seorang yang aktif, baik aktif di organisasi, yang sedikit banyak dapat memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman yang nantinya dapat membantu mereka ketika memasuki dunia kerja, maupun kegiatan-kegiatan lain yang mendukung tugas-tugas akademis dan tugas kehidupan mereka sebagai seorang mahasiswa.

Kusumah (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0105/18/1105.htm., 08/12/05) mengutarakan hal senada, dengan mengungkapkan tiga aspek yang menjadi konsekuensi identitas mahasiswa. Ketiga aspek tersebut yaitu pertama, aspek akademis yang berisikan bahwa tuntutan peran mahasiswa yang sebenarnya hanya satu, yaitu belajar, yang sebenarnya merupakan tugas inti mahasiswa karena konsekuensi identitas mahasiswa dalam aspek yang lain, merupakan derivat dari proses pembelajaran mahasiswa itu. Kedua, aspek organisasional. Tidak semua hal bisa dipelajari di kelas dan laboratorium.

Masih banyak hal yang bisa dipelajari di luar kelas, terutama yang hanya bisa dipelajari dalam organisasi, yang sekaligus dapat menjadi laboratorium gratis ajang aplikasi ilmu yang didapat di kelas kuliah. Ketiga, aspek sosial politik, dimana mahasiswa merupakan bagian dari rakyat, bahkan ia merupakan rakyat itu sendiri. Kegiatan-kegiatan inilah yang menuntut mahasiswa harus dapat membagi waktunya dengan baik sehingga tugas-tugas mereka sebagai mahasiswa yang sarat akan tugas akademis dan tugas-tugas kehidupan mereka sebagai remaja ataupun dewasa, dapat terpenuhi dengan baik.

Bagaimanapun juga, seorang mahasiswa diharapkan mempunyai semangat hidup yang tinggi, rasa optimis yang besar dan selalu berusaha mencapai prestasi yang optimal sehingga pada akhirnya mahasiswa dapat sukses dalam menjalani hidupnya di perguruan tinggi, dapat menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan, serta mendapat status yang baik di mata masyarakat (Widuri, 1995). Namun, dalam mencapai tujuan tersebut mahasiswa dihadapkan pada problem atau persoalan yang nantinya akan menjadi penghambat yang mempersulit mereka dalam mencapai tujuan itu.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Satu Tanggapan

  1. hasil penelitiannya gimana?ada hubungannya ga?makasih

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: