HUBUNGAN ANTARA INTERNAL LOCUS OF CONTROL DENGAN DISIPLIN TATA TERTIB SEKOLAH PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH UMUM (SMU) MUHAMMADIYAH I WONOSOBO

Pendahuluan

Remaja dan pemuda adalah harapan masyarakat dan bangsa dimasa depan untuk menjadi generasi penerus, sehingga bagaimana masa depan bangsa ini, juga tergantung dari pada remaja saat ini. Namun usaha untuk mendapatkan sosok yang ideal dan diharapkan dari seorang remaja belumlah maksimal. Jika remaja berkembang dengan peningkatan kualitas yang semakin membaik, besar harapan akan kebaikan dan kebahagiaan kehidupan bangsa dapat diharapkan. Potensi sumber daya manusia seperti ilmu pengetahuan, semangat serta kekuatan moral dan kepribadian yang dimiliki remaja diharapkan mampu menjadikan remaja sebagai manusia yang berkualitas dan dapat diandalkan, sehingga dapat membangun negeri ini kearah kemajuan.

Sukadji (2000) mengemukakan bahwa hal yang sering dilampaui dalam membicarakan masalah remaja tetapi erat hubunganya dengan masalah sekolah adalah masalah disiplin siswa dan sekarang ini banyak guru sekolah lanjutan yang menganggap bahwa menegakkan disiplin siswa di sekolah sebagai masalah pertama dalam profesi sebagai guru. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Dreikurs dan Cassel (1986) hal yang berhubungan dengan disiplin sistem pendidikan menghadapi suatu dilema, yakni masih rendahnya kesadaran dalam disiplin, selebihnya disiplin tata tertib sekolah hanya dirasakan sebagai paksaan. Akibatnya siswa belum banyak menyadari bahwa disiplin terhadap tata tertib sekolah merupakan tanggung jawab pribadi siswa dan akan memberikan manfaat.

Dreikurs dan Cassel (1986) juga menambahkan bahwa mengajar di kelas dengan murid-murid yang ingin belajar dan selalu bersikap patuh terhadap peraturan sekolah relatif lebih mudah, akan tetapi biasanya di setiap kelas ada beberapa anak-anak yang bandel dan susah diatur. Data yang mengungkapkan masalah kenakalan remaja diantaranya bersumber dari Badan Pencegahan Penanggulangan Kenakalan Anak dan Remaja (Bappenkar) Jawa Timur (Haniman, 2000) menunjukkan peningkatan angka penyimpangan perilaku dikalangan remaja Jawa Timur. Secara umun hal itu dapat diartikan sebagai suatu kelainan tingkah laku yang bersifat asosial, melanggar norma dan menunjukkan rendahnya disiplin pada siswa.

Dari data yang diperoleh, bahwa siswa di kota Surabaya masih menunjukkan tingkat kedisiplinan diri yang rendah, yaitu lebih dari 50% siswa menganggap terlambat pergi dan pulang sekolah merupakan kewajaran. Berbagai perilaku kurang terpuji lainnya dianggap oleh 30%-40% siswa sebagai suatu hal yang wajar yaitu mendatangi tempat disko, nyontek, sedangkan 10-20% siswa yang lain mengungkapkan kurangnya nilai-nilai etik moril seperti membolos, berkelahi, berbohong, lalai beribadah sebagai sesuatu yang wajar (Indra, dkk, 2000). Menurut hasil penelitian National Education Assosiation atau NEA (Haniman, 2000) mengenai masalah disiplin sekolah, guru memandang disiplin merupakan masalah yang utama yaitu 15%-21% dari masalah-masalah yang ada di sekolah. Sumber lain juga mengungkapkan adanya tawuran pelajar yang menyebabkan bus kota rusak parah di Semarang (Suara Merdeka, 29 Feb 2004). Hal ini menunjukkan kurangnya kemampuan siswa untuk dapat mengendalikan diri dan tidak dapat mengindahkan peraturan sekolah yang telah ditetapkan yang berarti sudah melanggar disiplin tata tertib sekolah.

Seorang siswa yang melanggar disiplin biasanya bertingkah laku tidak konsisten dan tidak sesuai dengan yang diharapkan sebagai seorang pelajar. Dreikurs & Cassel (1986) juga menambahkan, apabila siswa tidak mempunyai gairah lagi dalam belajar, siswa akan menunjukkan sikap yang tidak wajar, tidak mengindahkan perintah dan petunjuk dan hampir tidak mau belajar. Hal ini seringkali ditunjukkan dengan perilaku-perilaku seperti membolos, selalu datang terlambat, tidak mengerjakan tugas rumah, berpakaian tidak rapi, membantah pada guru, merokok, seringkali membuat onar (berkelahi) dan masih banyak perilaku-perilaku lain yang melanggar disiplin tata tertib sekolah. Hal ini tentu saja tidak hanya merugikan dirinya sendiri akan tetapi juga merugikan siswa lain dan berdampak pula pada kelancaran proses belajar mengajar.

Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi pada remaja tersebut menunjukkan betapa rendahnya kesadaran akan disiplin tata tertib di sekolah, sehingga bagaimana mungkin akan tercipta generasi-generasi penerus bangsa yang tangguh dan dapat diandalkan apabila dalam kepribadiannya banyak remaja yang belum mempunyai kesadaran untuk menjunjung tinggi disiplin. Padahal untuk terciptanya sumber daya manusia yang siap menuju masyarakat industri perlu dikembangkan nilai-nilai instrumental salah satunya adalah disiplin. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Alfian (Anoraga, 1992) nilai-nilai instrumental yang perlu ditonjolkan serta dikembangkan dalam masyarakat industri ialah : disiplin, penghargaan terhadap waktu, spesialisasi, orientasi pada kerja dan

Durkheim (1990) mengemukakan bahwa disiplin akan memberikan suatu hasil yang sangat berbeda sesuai dengan pemahaman seseorang mengenai hakekat dan fungsinya bagi hidup pada umumnya dan bagi pendidikan pada khususnya. Permasalahan ini perlu dibahas karena disiplin dan kaidah sering dirasakan sebagai paksaan, bagaimanapun itu merupakan suatu keburukan yang patut disayangkan. Sudah sepatutnya ditanamkan kasadaran bahwa semua itu merupakan tanggung jawab pribadi yang memberikan manfaat dan merupakan salah satu cara untuk mencapai keberhasilan dalam hidup.

Icksan (1998) mengungkapkan bahwa disiplin dari sudut pandang pendidikan merupakan sikap dan perilaku yang baik, yang secara ajeg dilakukan dilakukan berdasarkan suatu norma yang baik, dengan sadar dan atas keputusan sendiri yang diambil dengan bebas. Sejalan dengan itu Dreikurs & Cassel (1986) menambahkan bahwa kebebasan yang sesungguhnya berarti tidak tergantung (secara ekonomis dan emosional) dan menggunakan kemampuan untuk mengambil keputusan bagi diri sendiri, hanya dengan begitu dapat bebas dari perkembangan-perkembangan yang mencelakakan, dari kekuasaan dan paksaan-paksaan.

Lingkungan sekolah merupakan salah satu unsur masyarakat, sehingga dengan berinteraksi di sekolah akan dapat mempelajari perilaku moral yang sesuai dengan kelompok sosialnya. Jadi disiplin yang tinggi juga dapat dilihat dari perilaku siswa yang mampu belajar dan mengikuti pemimpin dan mempelajari cara-cara menghadapi dan menyelesaikan tuntutan-tuntutan yang datang dari lingkungan sekolah, agar sesuai dengan peran-peran dalam lingkungan sekolah untuk menuju kehidupan yang berguna dan bahagia. Dari penelitian yang dilakukan pada SMU 5 Jogjakarta oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1989) menunjukkan bahwa disiplin yang baik ditunjukkan dengan 58% siswa cenderung tepat waktu dalam mengikuti pelajaran, 70% siswa menggunakan pakaian seragam sesuai ketentuan sekolah, 64% siswa membayar SPP tepat pada waktunya, 91% siswa cenderung menjaga kebersihan sekolah dan mempunyai kebiasaan tingkah laku yang baik dalam upacara, sopan santun siswa juga cukup baik.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: