HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP HARAPAN ORANGTUA DENGAN MOTIF BERPRESTASI

Pendahuluan

Tidak dapat disangkal bahwa manusia adalah mahluk yang sangat kompleks. Setiap perbuatan manusia didorong oleh faktor pendorong sehingga terjadi suatu tingkah laku atau perbuatan. Faktor-faktor pendorong ini disebut motif. Motif selalu melatarbelakangi mengapa seseorang melakukan suatu perbuatan.

Berbicara tentang motif tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan. Maslow mengatakan bahwa tingkah laku manusia dikembangkan dan diarahkan untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu. Kebutuhan inilah yang memotivasi tingkah laku seseorang. Maslow membagi kebutuhan menjadi lima kategori sebagai berikut : (1) Kebutuhan fisiologi (2) kebutuhan rasa aman (3) kebutuhan sosial (4) kebutuhan akan penghargaan (5) kebutuhan aktualisasi diri (termasuk di dalamnya kebutuhan intelektual dan kebutuhan aestetik). Kebutuhan-kebutuhan dasar ini tersusun secara hirarkis pemenuhannya dari kebutuhan yang paling rendah terlebih dahulu, setelah itu baru menyusul kebutuhan yang lebih tinggi.

Maslow menyebut empat kebutuhan yang paling bawah sebagai deficiency needs. Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi motivasi untuk memenuhinya semakin menurun. Sedangkan kebutuhan aktualisasi diri disebut sebagai being needs/growth needs. Orang akan selalu mencari jalan untuk pemenuhan selanjutnya. Sebagai contoh bila seseorang telah mencapai suatu prestasi tertentu dalam usahanya memenuhi kebutuhan intelektualnya, maka ia akan semakin berusaha untuk meraih lebih banyak pengetahuan lain. Tidak seperti deficiency needs, being needs tidak akan pernah bisa dipenuhi secara utuh (Woolfolk,1995).

Teori Maslow memandang manusia secara utuh yang mempunyai kebutuhan fisik, emosional, dan intelektual yang saling berhubungan. Hal ini mempunyai pengaruh dalam bidang pendidikan. Sebagai contoh menurut Maslow anak yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar atau sakit tidak akan termotivasi untuk memenuhi kebutuhan intelektualnya. Akibatnya ia tidak mempunyai motif untuk meraih prestasi karena kebutuhan yang lebih rendah belum terpenuhi (Woolfolk, 1995).

Prestasi tinggi adalah dambaan setiap orang karena suatu keberhasilan meraih prestasi akan menumbuhkan rasa bangga bagi individu dalam hidupnya baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Banyak hal yang menyebabkan individu mempunyai dorongan untuk berprestasi. Faktor yang amat penting dalam mendorong terciptanya prestasi adalah motif berprestasi. Dalam bidang pendidikan motif berprestasi anak adalah hal yang sering dibahas. Setiap anak mempunyai motif berprestasi yang berbeda. Sebagai contoh dalam suatu kelas seorang guru memberikan tugas pada murid-muridnya untuk melakukan suatu eksperimen kimia.

Setelah guru selesai memberikan instruksi tentang prosedur pelaksanaan eksperimen tersebut, beberapa murid mulai mengangkat tangannya untuk bertanya, sebagian lain hanya pasif menunggu jawaban dari guru, sedang sisanya seperti sedang berada di dunia lain acuh tak acuh terhadap penjelasan guru. Hal ini menggambarkan tidak semua anak mempunyai motif berprestasi yang tinggi (Woolfolk, 1995). Sering kali anak memiliki motif berprestasi yang rendah, mereka memuja sebuah hasil tanpa mengenal proses. Mereka menginginkan nilai yang bagus namun mereka tidak peduli proses yang seharusnya mereka jalani, bahwa untuk dapat memperoleh nilai yang bagus mereka harus belajar terlebih dahulu (//http:agunk.wordpress.com/).

Ada anak yang motif berprestasinya tinggi, ada pula anak yang motif berprestasinya rendah. Dari hasil tanya jawab dengan guru SMK Yapenda I Kedungwuni Kabupaten Pekalongan dimana penelitian ini dilakukan didapatkan suatu fakta bahwa beberapa anak yang tidak lulus ujian nasional pada tahun ajaran 2005/2006 menolak untuk mengikuti ujian nasional ulang dengan alasan malas. Hal ini dapat menggambarkan bahwa setiap anak mempunyai motif berprestasi yang berbeda. Individu yang mempunyai motif berprestasi tinggi menganggap kegagalan disebabkan oleh kurangnya usaha maka mereka akan berusaha lebih keras lagi untuk meraih keberhasilan (Weiner, 1972).

Motif berprestasi adalah tingkah laku yang menunjukkan suatu usaha untuk melakukan yang terbaik, melakukannya lebih baik dari orang lain, atau secara umum untuk meraih sesuatu (Ruch, 1967). Mc. Clelland dan Atkinson adalah ahli yang banyak membahas tentang motif berprestasi. Mc.Clelland mengatakan bahwa manusia mempunyai bermacam-macam motif, baik sebagai makhluk biologis maupun sebagai makhluk sosial dalam hubungannya dengan lingkungannya. Motif tersebut terbagi dalam tiga kelompok yaitu motif untuk berhubungan dengan orang lain (affiliation motive), motif untuk berkuasa (power motive), dan motif untuk berprestasi (achievement motive). Menurut Mc.Clelland (1985) motif untuk berprestasi adalah motif yang mendorong seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam bersaing dengan satu ukuran keunggulan (standard of excellence), baik berasal dari prestasinya sendiri di waktu lalu maupun prestasi orang lain.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: