HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN TINGKAT SOMATISASI PADA REMAJA

Pendahuluan

Usia remaja merupakan suatu usia yang penuh semangat dan cita-cita, akan tetapi untuk mencapainya bukan merupakan sesuatu yang mudah karena banyak rintangan dan tantangan yang harus dihadapi dan harus diselesaikan. Salah satu cita-citanya adalah untuk mendapatkan prestasi secara maksimal seperti menguasai ilmu pengetahuan, keterampilan dan kedudukan serta status yang baik di mata masyarakat. Akan tetapi suatu kenyataan yang dihadapi tidak sebagaimana yang diharapkan karena harus berjuang menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dengan penuh kesabaran dan ketekunan.

Tuntutan dan pemberian tanggung jawab masyarakat dan orang tua terhadap para remaja akan memberi suatu beban yang dirasa cukup berat, sehingga keadaan ini akan menimbulkan suatu tekanan atau stres bagi remaja. Tekanan orang tua terhadap anaknya dapat berupa tuntutan untuk mendapatkan prestasi secara maksimal seperti menguasai ilmu pengetahuan, keterampilan dan kedudukan serta status yang baik di mata masyarakat, akan tetapi suatu kenyataan yang dihadapi tidak sebagaimana yang diharapkan karena harus berjuang menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Stres dapat diakibatkan secara langsung oleh stressor, akan tetapi stres bagi seseorang belum tentu merupakan stres bagi yang lain (Prawitasari, 1987), jadi stres bersifat individual.

Apabila individu yang mengalami stres mempunyai penyesuaian diri yang baik, maka individu tersebut dapat mengatasi stres yang dialami, sedangkan bila penyesuaian diri individu tersebut tidak baik, maka individu tersebut dapat terganggu kehidupannya, dan cenderung mengalami depresi. Ada beberapa bentuk penyesuaian yang dianggap paling menguntungkan bagi dirinya didalam menghadapi stressor yaitu dapat secara langsung menghadapi sumber stressornya, akan tetapi ada yang menghadapinya dengan jalan lari untuk sakit dan ini merupakan salah satu bentuk penyesuaian diri yang sering digunakan untuk menghindari diri dari rasa tanggung jawab (Schneiders, 1964).

Tubuh manusia sendiri memang dapat dimanfaatkan untuk tujuan psikologis yaitu memindahkan perasaan yang tidak menyenangkan kedalam bentuk gejala-gejala fisik. Keadaan ini disebut somatisasi. Menurut Ford (1983) Somatisasi adalah proses pemanfaatan tubuh untuk kepentingan psikologis atau kepentingan pribadi. Penderita secara konsisten tetap berusaha dalam keadaan sakit dan terus bertingkah laku seolah-olah memang sakit. Dengan demikian di harapkan orang lain di sekitar penderita benar – benar menganggapnya sakit secara fisik. Somatisasi merupakan kebiasaan yang terbentuk sejak kecil, sehingga pengaktifan pola somatisasi untuk tujuan psikologis atau pencapaian psikologis atau pencapaian pribadi sering kali tidak disadari lagi (Ford, 1983).

Sampai pada tingkat tertentu, setiap orang pernah menggunakan somatisasi sebagai cara pengatasan masalah dalam hidupnya. Meskipun demikian ada orang yang secara berulang-ulang menggunakan somatisasi sebagai cara untuk keluar dari masalah-masalah hidupnya sehingga somatisasi sudah merupakan kebiasaan atau jalan hidup. Lazarus (1976) berpendapat bahwa somatisasi terjadi karena kesalahan dalam penyesuaian. Mereka tidak seperti manusia normal yang berusaha menghilangkan peran sakit melalui penyembuhan, akan tetapi menggunakan somatisasi secara konsisten yaitu tetap berusaha dalam keadaan sakit dan terus bertingkah laku seolah – olah mereka memang sakit. Individu dengan gangguan ini menolak pendapat bahwa penyebab keluhan mereka adalah psikologis sehingga mereka tetap mencari pemecahan secara medis. Bahwa somatisasi merupakan hasil belajar dapat dilihat dari kenyataan bahwa somatisasi bukan merupakan penyakit yang menyebar secara acak pada populasi tetapi mengelompok pada keluarga – keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa somatisasi dapat dipelajari dari orang-orang terdekat, misalnya orang tua atau saudara – saudara (Ford, 1983).

Keluarga merupakan tempat untuk pertama kalinya seseorang anak memperoleh pendidikan dan mengenal nilai – nilai maupun peraturan – peraturan yang harus diikutinya, serta mendasari anak untuk melakukan hubungan sosial dengan lingkungan yang lebih luas. Namun dengan adanya perbedaan latar belakang, pengalaman, pendidikan dan kepribadian dari orang tua, maka terjadilah keanekaragaman cara mendidik anak, bahkan karena kesibukan orangtua, ada yang mempercayakan pengasuhan anak mereka pada pramusiwi yang persepsi dan pengertiannya tentang penanaman disiplin, konsep moral dan segalanya berbeda.

Dikatakan oleh Kolhorn dkk. (dalam Harianti, 1984) bahwa hubungan orang tua dan anak yang baik dengan penuh kemesraan membuat anak merasa aman, perlindungan terhadap anak yang berlebihan akan mengakibatkan anak kurang dapat berdiri sendiri, cemas, dan penakut, sukar dalam menghadapi persoalan dan cenderung selalu merasa tidak aman. Orang tua yang terlalu menguasai akan menghasilkan anak yang pemarah, nakal dan kurang ajar (Radke, 1946).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: