HUBUNGAN CURIOSITY DENGAN MINAT MEMBACA PADA MAHASISWA JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

Pendahuluan

Data World Bank di dalam salah satu laporan pendidikannya, “Education in Indonesia – From Crisis to Recovery” tahun 1998 melukiskan begitu rendahnya kemampuan membaca anak-anak Indonesia. Dengan mengutip hasil studi dari Vincent Greanary, dilukiskan siswa-siswa kelas enam SD Indonesia dengan nilai 51,7 berada di urutan paling akhir setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0) dan Hongkong (75,5). Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa kita memang paling buruk dibandingkan siswa dari negara-negara lainnya. (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0304/23/0801).

Dijelaskan juga bahwa kebiasaan membaca pada masyarakat umum juga rendah. Secara langsung maupun tidak langsung kebiasaan membaca menjadi salah satu indikator kualitas bangsa. Angka melek huruf (literacy rate) di Indonesia relatif belum tinggi, yaitu 88 persen. Di negara maju seperti Jepang angkanya sudah mencapai 99 persen. Sebagian dari penduduk yang tidak memiliki kebiasaan membaca secara memadai sangat berpotensi untuk mengurangi angka melek huruf tersebut. Oleh UNDP, United Nations Development Programme, angka melek huruf telah dijadikan salah satu indikator untuk mengukur kualitas bangsa. Tinggi rendahnya angka melek huruf menentukan tinggi rendahnya indeks pembangunan manusia atau HDI, human development index; dan tinggi rendahnya HDI menentukan kualitas bangsa.

Publikasi UNDP yang terakhir, “Human Development Report 2003”, Indonesia ditempatkan diperingkat 112 dari 174 negara dalam hal kualitas bangsa. Di dalam daftar ini Indonesia di bawah Vietnam (109), Thailand (74), Malaysia (58), dan Brunei Darussalam (31). Jelas sekali bahwa kualitas bangsa Indonesia masih belum maksimal dan lebih rendah dibanding bangsa Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Brunei. Belum maksimalnya kualitas bangsa ini antara lain disebabkan belum maksimalnya angka melek huruf kita (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0304/23/0801).

Masyarakat Indonesia masih terbiasa menyerap informasi pengetahuan dan berbagai nilai kehidupan terutama melalui komunikasi lisan daripada membaca dan menulis. Padahal karakteristik masyarakat industrial abad 21 adalah terus menerus berubah dan untuk itu manusia dituntut untuk belajar terus menerus, dengan demikian kemampuan keakasaraan (membaca) mutlak diperlukan. Selain itu membaca merupakan salah satu kegiatan yang dapat memperluas wawasan dan cakrawala pengetahuan (www.depdiknas.go.id).

Menurut Yardi (2004) membaca merupakan salah satu di antara empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) yang penting untuk dipelajari dan dikuasai oleh setiap individu. Dengan membaca, seseorang dapat bersantai, berinteraksi dengan perasaan dan pikiran, memperoleh informasi, dan meningkatkan ilmu pengetahuannya. Menurut Bowman and Bowman (Sugiarto, 2001) membaca merupakan sarana yang tepat untuk mempromosikan suatu pembelajaran sepanjang hayat (life-long learning). Membaca juga merupakan suatu hal yang sangat urgensi dalam memajukan setiap pribadi manusia, karena hakikat membaca adalah perubahan mental. (http://artikel.us/lyardi2.html).

Chall dan Manston (Salindri, 1996) menemukan 3 faktor yang mengemukakan alasan-alasan yang membuat orang membaca, dan 3 faktor tersebut saling terkait: Ketersediaan atau kemudahan pengaksesan buku. Mudahnya buku didapatkan akan membuat si pembaca lebih menyukai aktifitas membaca, kemampuan membaca. Kalau terdapat kesenjangan yang lebar antara kemampuan membaca si pembaca dengan derajat kesulitan bacaan, orang akan mudah lelah membaca dan minat membaca, merupakan faktor penting dalam kegiatan membaca, disebabkan, minat merupakan dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu. Meskipun minat membaca merupakan faktor penting tetapi, minat bukan faktor yang independen karena minat membaca masih dipengaruhi oleh banyak faktor lainnya.

Dari 3 faktor pendukung aktifitas membaca yang telah dikemukakan diatas, peneliti ingin lebih menggali peran minat. Minat membaca, sebagaimana yang dikatakan oleh Okland dkk (Salindri, 1996) merupakan motivator yang kuat untuk melakukan aktifitas membaca. Membaca tanpa disertai minat akan membuat individu tidak membaca dengan baik karena membaca tidak memberikan daya tarik dan kepuasan bagi individu tersebut.

Download Selengkapnya
Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: