HUBUNGAN PERSEPSI ANAK TERHADAP POLA ASUH AUTORITATIF DENGAN RIVALITAS SAUDARA KANDUNG PADA SISWA SEKOLAH DASAR

Pendahuluan

Persaingan antar saudara kandung berasal dari keinginan alami seorang anak yang secara naluri mengharapkan dirinya menjadi pusat perhatian orangtuanya. Setiap anak tumbuh sebagai makhluk egosentris sejak bayi hingga kanak-kanak. Artinya, mereka percaya bahwa dunia berputar di sekeliling dirinya. Menurut Turnip (http://www.tabloid-nakita.com).
Kakak-adik berantem terus memang wajar. “Sebab ada kesenjangan yang jauh antara mereka berdua, sekalipun sama-sama masih anak-anak. Tapi dalam hal sosialisasi dan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan, mereka ada kesenjangan. Si kakak yang telah masuk usia prasekolah sudah tahu yang namanya nilai-nilai berbagi dan nilai-nilai kerja sama. Si adik karena masih di bawah tiga tahun, masih egosentris.”
Tujuan hidup orangtua, dalam pandangan anak adalah untuk memenuhi semua kebutuhan mereka saat itu juga. Kasarnya, semua yang ada adalah miliknya, orang lain tak boleh punya ataupun meminta. Kebalikannya, si kakak justru sudah ada tuntutan harus berbagi, juga harus bisa saling tolong-menolong. “Sekalipun begitu, si kakak belum sampai pada tahap di mana dia menyadari bahwa adiknya lebih terbatas kemampuannya dari dia. Yang si kakak tahu cuma sebatas, semua orang harus bisa berbagi atau sharing.” Ketidakklopan inilah yang membuat mereka terus berantem.

Pada saat seorang bayi merasa tidak nyaman karena celananya basah, dia akan berpikir ketidaknyamanan ini akan berlangsung selamanya. Anak-anak hanya mengenal waktu sekarang, mereka tidak mengenal konsep tunggu sebentar. Persaingan antar saudara dimulai ketika seorang bayi harus menunggu datangnya perhatian orangtua yang sedang sibuk dengan saudaranya. Menurut Lestariningsih (Ayah bunda, 2000) setiap anak belajar tentang dirinya dan juga orang lain melalui proses persaingan. Pada saat bersamaan anak juga belajar untuk saling menyayangi. Hal ini antara lain terjadi ketika anak memiliki adik baru, pada awalnya timbul rasa cemburu yang besar terhadap adik. Rasa cemburu paling kuat dirasakan anak adalah cemburu terhadap saudara. Menurut Erik Erikson (Lestariningsih, 2000) rasa cemburu merupakan tahap perkembangan emosi yang wajar dialami seorang anak.
Kebergantungan anak-anak kepada orangtua pada awal tahun pertumbuhan sangat besar. Untuk tetap bertahan hidup, anak mengandalkan orangtua untuk memenuhi semua kebutuhannya. Apabila sesuatu menarik orangtua dari mereka, anak akan menjadi takut dan akhirnya marah. Target kemarahan mereka adalah saudara-saudara kandung yang dianggap sebagai pengacau sehingga anak sering bersaing untuk memperebutkan perhatian dari orangtua.
“Huh! Bunda hanya perhatiin Adek aja,” misal. Malah, bisa jadi perasaan itu telah muncul saat adiknya masih di kandungan. Perasaan sibling rivalry ini, menurut Cerly, sebenarnya wajar terjadi dalam sebuah keluarga. Sebab, mau tak mau dalam setiap keluarga, antara adik dan kakak sudah alamiah terjadi persaingan terselubung. Terlebih kalau usianya berdekatan. Pasalnya, mereka sama-sama butuh perhatian, kasih sayang, pujian, hingga kedekatan dari orang tuanya. “Karena itulah kesan yang timbul saat adik atau kakaknya mendapatkan pujian dari orang tuanya, misalkan, yang lain akan merasa diabaikan. Padahal, maksud orang tua tidak seperti itu.” (http://www.tabloid-nakita.com).
Jadi, persaingan-persaingan yang timbul antara kakak dan adik hingga timbul pertengkaran, disebabkan masing-masing pihak ingin menunjukkan bahwa dialah yang pantas diperhatikan orang tuanya dan mereka pun berhak memiliki privacy. Anak-anak merasa kehadiran pusat perhatian yang lain sebagai ancaman terhadap kehidupannya sebagai orangtua sudah seharusnya memberi rasa aman dengan mengajarkan bayi bahwa orangtua ada saat mereka membutuhkan. Pada kenyataannya sebagai orangtua yang mempunyai lebih dari satu anak, tidak dapat dan tidak seyogianya selalu memberikan apa yang anak inginkan, yaitu perhatian yang tidak terbagi dan terus menerus.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: