MOTIVASI BELAJAR DITINJAU DARI DUKUNGAN ORANGTUA DAN KONSEP DIRI AKADEMIK SISWA

Pendahuluan

Pada tahun 1999 Institute for Management Development (IMD) menerbitkan hasil survei tentang sumber daya manusia (SDM), industri, dan iptek di 46 negara di dunia. Hasil survei tersebut menempatkan Indonesia pada posisi ke-44 dari 46 negara tersebut. Sedangkan survei tentang Indeks Pembangunan Manusia, Indonesia berada pada posisi ke-105 dari 108 negara. Pada tahun 2000 lalu, sebuah organisasi dunia, International Association of Educational Evaluation in Achievement (IEA) telah menerbitkan hasil survei prestasi belajar matematika dan IPA bagi siswa-siswa sekolah usia 13 tahun pada 42 negara. Hasil survei tersebut menempatkan Indonesia pada posisi ke-39 untuk kemampuan IPA, dan posisi ke-40 untuk prestasi belajar matematika (Suryadi, 2001).

Salah satu faktor yang sangat menentukan prestasi belajar siswa adalah motivasi siswa itu sendiri untuk berprestasi. Sering dijumpai siswa yang memiliki intelegensi yang tinggi tetapi prestasi belajar yang dicapainya rendah, akibat kemampuan intelektual yang dimilikinya tidak atau kurang berfungsi secara optimal. Salah satu faktor pendukung agar kemampuan intelektual yang dimiliki siswa dapat berfungsi secara optimal adalah adanya motivasi untuk berprestasi yang tinggi dalam dirinya.

Motivasi memiliki peranan penting dalam proses belajar. Siswa dengan motivasi rendah akan banyak mengalami masalah dalam belajar, misalnya siswa terkesan lambat melakukan tugas yang berhubungan dengan kegiatan belajar, jadi pemalas, mudah putus asa, suka membolos, melalaikan tugas sekolah, dan acuh tak acuh terhadap segala hal yang berkaitan dengan kegiatan sekolah. Kondisi seperti ini akan berdampak buruk terhadap keberhasilan belajarnya kelak.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa tingkat ketidaklulusan ujian nasional untuk siswa SLTP dan SLTA di Jawa Tengah semakin tinggi dari tahun ke tahun. Pada tahun ajaran 2003/2004-2004/2005 jumlah siswa yang tidak lulus meningkat dari 9,22% menjadi 15,43%. Khususnya siswa SLTP yang ada di Surakarta, jumlah siswa yang tidak lulus adalah 8,54% (Ariyanti, 2005). Menurut kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Surakarta, Kuswanto, tingkat ketidaklulusan siswa kelas III disebabkan oleh tidak tercapainya standar nilai kelulusan yang mencapai 4,26, tetapi ada juga sekolah yang seluruh siswanya lulus karena sekolah tersebut mempunyai siswa yang benar-benar pintar. Menurut salah satu siswa, ketidaklulusan ini dianggap wajar karena tidak dapat mencapai standar nilai kelulusan, yaitu 4,26 (Ariyanti, 2005). Dirjen Dikdasmen, Dr.Indra Djati Sidi, mengungkapkan bahwa kebijakan pemerintah terhadap standarisasi nilai ujian akhir nasional yang mencapai 4,26 adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, di samping itu juga bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa (www.pikiran-rakyat.com.11/07/2003).

Menurut Nurmina (2006), siswa yang tidak lulus Ujian Nasional (UN) dapat mengalami penurunan motivasi belajar. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya di Sumatera Barat, bahwa siswa yang tidak lulus Ujian Nasional dan harus mengulang belajar di kelas yang sama tidak ada jaminan prestasinya akan naik, apalagi harus tinggal satu kelas dengan adik kelasnya. Bahkan menurut hasil penelitiannya, siswa tersebut mengalami penurunan motivasi untuk berprestasi dari sebelumnya, merasa rendah diri, dan sulit untuk bangkit kembali. Lebih lanjut dijelaskan, kondisi tersebut sangat diperlukan adanya peran orangtua yang harus mampu menjadi sahabat bagi anak (siswa) untuk mendengarkan keluh-kesah yang dialaminya, hal ini akan sangat membantu memulihkan keterpurukan yang dialaminya.

Menurut Donald, motivasi merupakan perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan afektif dan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan (Sumanto, 1998). Dengan pengertian ini, maka motivasi nampak dalam tiga hal, yaitu: (1) motivasi dimulai dengan suatu perubahan tenaga dalam diri seseorang, (2) motivasi itu ditandai oleh dorongan afektif yang kadang tampak dan kadang sulit diamati, (3) motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.

Sardiman (2001) menyatakan bahwa motivation is an essential condition of learning, dengan kata lain, motivasi memegang peranan penting (esensi) dalam pencapaian hasil belajar yang optimal. Woldwoski (Root, 1999) mendefinisikan bahwa motivasi yang dimiliki seseorang merupakan sebuah proses yang mampu melakukan empat hal, yaitu (a) mendorong pada suatu perilaku tertentu, (b) memberikan tujuan pada perilaku tertentu, (c) memberikan tujuan pada suatu perilaku tertentu untuk tetap dilakukan, (d) membuat suatu keputusan ketika dihadapkan pada suatu bentuk perilaku yang harus dipilih.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: