MOTIVASI MELANJUTKAN PENDIDIKAN KE PERGURUAN TINGGI DI YOGYAKARTA PADA ORANG BUKITTINGGI

Pendahuluan

Upaya memajukan pembangunan masyarakat Indonesia ke arah yang lebih progresif menjadi keniscayaan bila tanpa didukung oleh ketersediaan sumber daya manusia yang handal dan memiliki visi untuk memajukan kualitas peradaban di Indonesia dan Dunia pada umumnya. Berbicara mengenai Sumber Daya Manusia, Bukittinggi memiliki kenangan historis sebagai tempat yang pernah melahirkan sejumlah tokoh-tokoh nasional yang berilian di zamannya, secara absensial sebutlah misalnya Drs Muhammad Hatta, Buya Hamka, dan KH. Agus Salim, dimana mereka ini merupakan orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuaan, sehingga tidaklah mengherankan kalau tokoh-tokoh tersebut menjadi patron ideologi-pendidikan di zamannya dan bahkan untuk sejumlah orang dewasa, baik itu di Bukittinggi maupun di Indonesia pada umumnya dalam upaya mengembangkan pendidikan anak bangsa.

Kehadiran tokoh-tokoh tersebut, dalam kancah pendidikan dan politik ditingkat nasional telah membawa nama Bukittinggi kepada level yang lebih baik, sehingga tidaklah mengherankan jejek mereka banyak ditiru dan diikuti oleh generasi muda khususnya di Bukittinggi dan Indonesia pada umumnya.

Kota Bukittinggi menarik untuk dibicarakan, bukan hanya karena peran sejarah yang telah dimainkannya sejak kurun waktu satu setengah abad yang lalu, ketika pemerintahan Jepang (1942-1945) Bukittinggi dijadikan sebagai ibukota Sumatera, sedangkan pada masa Revolusi Kemerdekaan Bukittinggi disebut sebagai “Yogya kedua” karena dari kota inilah Bung Hatta memimpin perang kemerdekaan untuk Sumatera (29 Juli 1947 – 17 Januari 1948). Bukittinggi juga pernah menjadi Ibukota Provinsi Sumatera Tengah (15 April 1948), Fungsi Bukittinggi sebagai ibukota provinsi baru dicabut pada tahun 1979 berdasarkan PP No.29/1979 Martanim (Colombijn dkk, 2005).

Selain itu Bukittinggi juga berkembang menjadi pusat perdagangan konveksi untuk kawasan Sumatera, sehingga tidak mengherankan kalau Bukittinggi dikenal dengan sebutan Tanah Abang II. Sebutan lain yang selalu melekat pada Bukittinggi adalah sebagai kota wisata dengan keelokan panorama alamnya yang indah dan udaranya yang sejuk.

Sedangkan dalam bidang pendidikan, Bukittinggi juga memiliki sejumlah infrastruktur yang memadai dalam upaya memajukan sumber daya manusia, mulai dari tingkat Taman kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi. Di tingkat perguruan tinggi, Bukittinggi memiliki sejumlah perguruan tinggi seperti STAIN Bukittinggi, Universitas Muhammadiyah, dan di Padang sebagai Ibukota Propinsi juga berdiri perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta.

Namun keberadaan sejumlah perguruan tinggi tersebut belum memberikan arti yang cukup signifikan terhadap sebagian alumni SMU di Bukittinggi sebagai tempat yang diprioritaskan untuk menimba ilmu di tingkat perguruan tinggi, hal ini terbukti dengan kecenderungan pada sebagian alumninya untuk melanjutkan pendidikan ke luar daerah. Sebagaimana yang dilaporkan oleh salah seorang informan (guru disalah satu SMU di Bukittinggi) mengatakan, bahwa 3-5 orang dalam satu kelas muridnya lebih memilih melanjutkan pendidikan ke luar daerah. Ini merupakan suatu angka yang tidak sedikit jumlahnya apalagi sekolah tersebut berada di daerah kabupaten.

Tingginya minat dan motivasi generasi muda Bukittinggi untuk melanjutkan pendidikan ke luar daerah perlu direspon secara positif, sebab di samping ilmu yang akan mereka peroleh juga akan menambah pengetahuan dan memperkaya wawasan budaya mereka. Adapun daerah yang biasanya dijadikan tempat tujuan bagi sebagian generasi muda Bukittinggi untuk melanjutkan pendidikan ialah daerah yang tempatnya relatif jauh dari kampung halaman mereka seperti Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan bahkan luar negri. Dalam hal ini peneliti lebih memfokuskan daerah yang menjadi tujuan dari alumni SMU Bukittinggi adalah Daerah Istemewa Yogyakarta.

Berbicara mengenai kota Yogyakarta, maka salah satu imej yang muncul adalah sebuah kota yang tenang, damai, temtram dan aman. Kota Yogyakarta dianggap jauh dari pergolakan, kekerasan dan diskriminasi sehingga menjadikan kota ini kota yang tepat untuk melanjutkan pendidikan, Yogyakarta lebih dikenal dengan sebutan kota pelajar karena banyaknya pelajar yang berdatang dari berbagai pelosok daerah bahkan manca negara untuk datang menimba ilmu.

Pandangan diatas akan segera menjadi mitos, jika melihat realita yang sebenarnya. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa kekerasan dan ketidakteraturan dan bahkan pada waktu tertentu dapat disebut sangat ekstrim seperti dalam masa kampanye. Ketakutan selalu mencekam para pemakai jalan atau penduduk setiap masa kampanye, peristiwa kekerasan pada masa kampanye pemilihan umun tahun 1982 yang mengakibatkan Sri Sultan Hamengkubuwono IX turun tangan, merupakan salah satu contoh klasik dari kasus adanya kekerasan laten di kota Yogyakarta, Colombijn (2005).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: