PENGARUH PELATIHAN ADVERSITY INTELLIGENCE TERHADAP PENINGKATAN KEBERMAKNAAN HIDUP PADA REMAJA PANTI ASUHAN

Pendahuluan

Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan sikap dan tindakan yang harus diambilnya ketika menghadapi suatu keadaan yang kurang menguntungkan bagi dirinya. Apapun pilihan yang diambil, pasti memerlukan usaha dan kerja keras untuk mewujudkannya. Adanya tujuan yang ingin dicapai dari pilihan yang ditetapkan berguna untuk mengingatkan mereka apabila mulai kehilangan semangat dan merasa putus asa ketika dihadapkan pada hambatan dan kesulitan
Kehidupan akan selalu menyajikan hambatan dan kesulitan sebagai ujian dan cobaan dari Allah swt. Ini diperjelas dalam Al-Qur’an surat al- Baqaroh ayat 155:
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah – buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang –orang yang sabar”.

Kesulitan hidup bisa dialami oleh siapa saja, termasuk remaja sebagai salah satu tahapan dalam perkembangan manusia. Remaja yang dihadapkan pada kesulitan, akan mudah menjadi putus asa bila ia tidak memiliki tujuan hidup, harapan, hal–hal berharga yang ingin dicapai. Keadaan seperti ini membuat remaja rentan kehilangan kebermaknaan hidup.

Menurut Frankl (Bastaman, 1997), makna hidup adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberi nilai khusus bagi seseorang. Makna hidup itu bisa berupa cita-cita untuk mengubah keadaan dirinya agar menjadi lebih baik, keinginan membahagiakan orang-orang yang disayangi, mengabdikan hidup untuk melayani kepentingan sosial. Makna hidup diperlukan agar remaja bisa melewati kesulitan dan hambatan. Kemampuan untuk mengatasi hambatan dan kesulitan muncul dari kesadaran bahwa sesuatu yang sedang mereka alami, walaupun penuh dengan kesulitan memiliki makna dibaliknya.

Kesadaran ini menimbulkan kemampuan untuk mengubah keadaan yang kurang menguntungkan menjadi lebih baik, karena ketika manusia memahami penderitaan dengan baik dalam kerangka tentang hidup yang lebih menyeluruh dan hakiki, penderitaan hanya bersifat sementara (Bastaman, 1996). Hambatan dan Kesulitan untuk jangka panjang merupakan ujian bagi manusia agar dapat meraih kehidupan yang lebih baik setelah berpulang kepada penciptanya. Allah SWT telah menjanjikannya dalam Al-Qur’an surat al-Baqaroh 214
“ Apa kamu mengira begitu mudah kamu masuk surga, sedangkan kamu belum pernah mengalami kesulitan seperti yang dialami orang–orang sebelumnya…”

Kehilangan makna hidup membuat manusia tidak memiliki arah dan tujuan yang jelas dalam hidupnya dan mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ketidak berhasilan menemukan dan memahami makna hidup akan menimbulkan rasa frustrasi dan kehampaan. Hal ini diikuti dengan kemunculan emosi-emosi negatif seperti perasaan hampa, gersang, merasa tidak memiliki tujuan hidup, merasa hidup tidak berarti, bosan dan apati (Bastaman, 1996). Perasaan negatif yang muncul akan melemahkan sikap manusia dalam menghadapi kesulitan hidup.

Remaja memberi respon yang berbeda dalam menghadapi permasalahan dengan tingkat kesulitan yang sama. Permasalahan pada remaja bisa muncul sejalan dengan pergantian status dari anak–anak menjadi remaja. Sebagai remaja, mereka memiliki tugas perkembangan yang harus dilalui agar dapat hidup normal. Lingkungan berperan membantu remaja agar mereka lebih baik dan lebih siap dalam menghadapi tugas perkembangan (Hartini, 1999). Remaja memerlukan dukungan dan pengarahan dari keluarga untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas perkembanganya. Kasih sayang, pengertian, adanya seorang model akan menghindarkan mereka dari frustasi dalam proses pencarian identitas. Khusus bagi remaja panti asuhan, ia memiliki tambahan permasalahan sehubungan dengan kurang optimalnya dukungan dan perhatian dari lingkungan dan adanya konsep diri yang negatif.

Keluarga sebagai lingkungan sosial terkecil merupakan tempat di mana nilai dan norma diinternalisasi menjadi bagian kepribadian yang akan mempengaruhi sikap dan tindakan para remaja ketika menghadapi kesulitan dan hambatan. Keluarga sebagai lingkungan primer mempunyai peran penting dalam penanaman nilai dan norma bagi seorang anak yang menuju masa remaja. Sebelum anak-anak mengenal nilai dan norma dari masyarakat umum pertama kali, mereka akan menyerap nilai dan norma yang berlaku dalam keluarganya untuk dijadikan bagian kepribadian mereka (Sarwono,2002).

Keyakinan dikasihi dan perasaan bahwa seorang anak pantas untuk dikasihi, dihargai dan berharga sebagaimana adanya, apapun yang mereka lakukan adalah awal dari terbentuknya harga diri inti (Steinmen, 1995). Apabila syarat–syarat untuk memperoleh harga diri inti ini tidak terpenuhi, maka anak-anak tersebut akan tumbuh dengan perasaan ada yang kurang pada diri mereka berkaitan dengan kemampuan mereka untuk menghadapi kesulitan. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang mencurahkan kasih sayang dan menerima mereka tanpa syarat, kemungkinan besar akan tumbuh menjadi remaja yang penuh gairah, yang mampu berfikir bahwa mereka dapat meraih tujuan hidupnya.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: