PERAN AYAH DALAM PENGASUHAN DAN KELEKATAN REMAJA PADA AYAH

Pendahuluan

Masa remaja adalah masa transisi yang penuh dengan gejolak. Gejolak ini bisa memberikan dampak yang negatif dan juga dampak yang positif. Namun begitu gejolak yang muncul pada masa transisi ini dapat dilalui oleh remaja dengan mulus. Salah satu faktor yang bisa membantu memuluskan masa transisi remaja adalah adanya figur yang bisa dipercaya dan bisa diandalkan oleh remaja saat mereka berada pada situasi yang menekan. Figur ini bisa siapa saja, tetapi umumnya orang yang memiliki hubungan secara langsung dengan remaja. Jika remaja memiliki seseorang yang mampu memberikan rasa aman yang dibutuhkan saat mereka mengalami masalah, maka mereka akan lebih mudah dalam menghadapi masa transisi ini karena ikatan yang terjalin dengan mereka memiliki pengaruh yang positif bagi perkembangan di sepanjang masa kehidupan dengan adanya dukungan emosional dan kedekatan yang bersifat terus menerus (Buist et al, 2004).

Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh hubungan kelekatan antara remaja dengan orangtua. Greenberger & Mc Laughlin (1998), Lapsley et al (1995), Armsden & Greenberg (1987), Greenberg (1983), Kobak & Scerery (1998) dan Lapsley (1980) dalam Samuolis et al (2001), memaparkan bahwa hubungan kelekatan remaja pada orangtua merupakan faktor penentu bagi remaja untuk membentuk strategi coping dalam mengatasi masalah dan penentu tingkat tinggi rendahnya self esteem, penentu bagi tingkat penyesuaian akademi dan emosional di kampus, kesejahteraan psikologis, tingkat kepuasan hidup, tingkat resiliansi ego dan penentu bagi perkembangan identitas. Dari hasil penelitian Wilkinson (2004) ditemukan bahwa hubungan kelekatan juga berpengaruh dalam menuntun remaja untuk mengevaluasi atribusi-atribusinya dan bernilai lebih tinggi.

Hubungan kelekatan remaja bisa terbentuk pada siapa saja yang memenuhi kebutuhan mereka secara fisik dan emosional yang telah dimulai sejak bayi. Figur ini bisa salah satu dari kedua orangtua, kedua orangtua, kakek dan nenek ataupun pengasuh bayi. Mengacu pada teori-teori yang telah banyak ditemukan, figur lekat khususnya bagi masa-masa perkembangan anak adalah ibu.

Freud (Santrock, 2002) memaparkan bahwa anak akan semakin dekat dengan orang atau benda yang dapat memberi kepuasan oral. Kepuasan oral ini tentu saja dipenuhi oleh ibu, karena ketika seorang individu berada pada usia bayi dan balita, ibu memenuhi kebutuhan akan rasa lapar melalui ASI. Di sepanjang tahap perkembangan dalam kehidupan ibu diyakini sebagai figur yang hadir pada saat rasa lapar atau pada saat kebutuhan akan rasa nyaman muncul (Iefrancois, 1977). Sutton (1973) dan Helmi (2004), menambahkan bahwa kehadiran ibu pada saat rasa lapar dan saat kebutuhan akan rasa aman muncul, membuat ibu nantinya diasosiasikan dengan perasaan yang baik, sebagai stimulus yang menyenangkan dan sebagai dasar terbentuknya rasa aman. Keadaan ini kemudian menjadi dasar terbentuknya kelekatan antara individu dan ibu.

Pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki bertugas dalam tugas publik dan perempuan bertugas dalam tugas domestik, menurut Andayani & Koentjoro (2004), diyakini menjadi salah satu faktor ditunjukknya ibu sebagai pengasuh. Tugas publik yang dijalankan ayah adalah tugas dimana ayah berperan dalam memenuhi kebutuhan akan materi keluarga, sementara itu tugas domestik yang dijalankan ibu merupakan tugas ibu dalam mengatur rumah tangga, termasuk didalamnya mengasuh anak. Keadaan inilah yang kemudian menjadikan ibu sebagai pengasuh utama dalam keluarga, yang tentu saja membuat ibu menjadi figur lekat bagi anak-anaknya.

Merujuk pada teori dan fakta di atas, adalah hal yang sewajarnya terjadi apabila remaja lekat dengan ibunya. Namun dari hasil observasi singkat yang peneliti lakukan di Yogyakarta, Jambi dan Jember, yang kemudian diperkuat dengan wawancara sederhana yang telah dilakukan peneliti baik secara langsung maupun melalui alat telekomunikasi (telephon) terlihat bahwa mereka lebih lekat dengan ayahnya dari pada dengan ibunya. Melalui wawancara yang dilakukan pada tiga subjek yang berusia 17, 19 dan 20 tahun, dapat disimpulkan bahwa remaja-remaja tersebut lekat dengan ayah yang memiliki karakter mudah untuk diajak bertukar pikiran, mudah untuk diajak berkomunikasi, lebih penyabar, suportif dalam memenuhi kebutuhan, paham akan kelebihan dan kekurangan, membantu mengatasi masalah serta memiliki waktu yang lebih banyak untuk dihabiskan dengan mereka.

Hasil wawancara ini sungguh mengejutkan, karena dari beberapa teori yang telah dikemukakan, segala bentuk stimulus menyenangkan yang nantinya memunculkan kelekatan, dinyatakan berasal dari ibu. Namun ternyata ada beberapa remaja yang mengatakan bahwa ayahlah yang memberikan stimulus menyenangkan tersebut.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: