PERBEDAAN KOMPETENSI INTERPERSONAL ANTARA SISWA SMA DENGAN SANTRI PONDOK PESANTREN SALAFIYYAH

Pendahuluan

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, masa terjadinya perubahan disegala bidang (Derajat, 1998). Menurut Havighurts, pada masa remaja terdapat beberapa tugas perkembangan yang harus dipenuhi, antara lain memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya baik laki-laki maupun perempuan, (dalam Gunarsa, 1983). Dalam interaksi sosial remaja sudah meninggalkan tingkah laku yang bersifat egosentris, dengan berusaha memandang satu hal dari sudut pandang orang lain (Gunarsa dan Gunarsa, 1986). Remaja yang tidak dapat mengembangkan kemampuan untuk menjalin hubungan yang saling memperhatikan dan untuk kepentingan bersama akan mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan pada masa selanjutnya. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukan oleh Hurlock (1991), bahwa pola penyesuaian pada masa remaja akan menentukan bagaimana penyesuaiannya pada masa selanjutnya.

Teramat pentingnya hubungan tersebut mengingat pada masa-masa itu remaja banyak menghabiskan waktu di sekolah dan kelompok sebayanya. Hal ini terjadi ketika remaja mulai melakukan dua gerakan yaitu memisahkan diri dari orang tua dan kemudian menjalin hubungan yang lebih intens dengan teman sebaya (Monks, 1988).

Persiapan memasuki masa dewasa, selain ditandai dengan terjadinya kematangan fisik, juga berbagai perubahan pada semua fase perkembangan Hurlock (1994), pada masa ini remaja mengalami perubahan-perubahan fisik, psikis dan sosial. Kemudian terlihat juga perubahan yang terwujud dalam cara hidup untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat.

Dalam interaksinya yang lebih luas, remaja dituntut untuk mempu bertingkah laku yang tepat sesuai dengan norma-norma yang berlaku, sehingga pada akhirnya dapat diperoleh tempat dalam masyarakat dengan peran yang sesuai, (Gunarsa dan Gunarsa, 1986). Keberhasilan remaja dalam menjalin hubungan antar pribadi dan komunikasi secar lebih dewasa dengan teman sebaya baik pria maupun wanita, dipengaruhi oleh kemampuan yang dimilikinya. Buhrmester, (1988), menamakan kemampuan ini sebagai kompetensi interpersonal.

Kompetensi interpersonal atau kemampuan menjalin hubungan antar pribadi yang dimiliki dapat membuat remaja mampu mengembangkan hubungan yang dilakukan kearah yang memuaskan dan membahagiakan. Buhrmester, dkk (1998) meringkas hasil penelitian para ahli tentang pentingnya hubungan antar pribadi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menjalin hubungan antar pribadi berpengaruh terhadap banyak hal seperti popularitas anak dalam kelompok sebaya, kesuksesan menjalin hubungan antar jenis pada manusia dewasa dan kepuasan kehidupan perkawinan. Kemampuan menjalin hubungan antar pribadi yang tercermin dalam keluasan lingkup pergaulan juga berfungsi sebagai benteng stres dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan menjalin dan membina hubungan antar pribadi mulai berkembang pada anak usia dasar (6-12 tahun). Kemampuan menjalin hubungan antar pribadi pada masa anak banyak dipengaruhi oleh keluarga dan teman sebaya. Pada masa perkembangan anak, keluarga memiliki peranan yang sangat besar dimana anak akan mulai belajar lebih keras dengan anggota keluarga yang lain terutama orang tuanya. Bagi anak orang tua adalah socializing agent yang pertama kali memperkenalkan anak pada kehidupan sosialnya.

Keluarga merupakan tempat bersosialisasi yang pertama bagi remaja, oleh karena itu seharusnya memberikan kesempatan kepada remaja putra maupun remaja putri untuk berlatih mengembangkan diri untuk menjalin hubungan antar pribadi dengan lawan jenisnya. Dalam hal ini peranan orang tua sangat penting dalam mendukung kemampuan remaja putra maupun remaja putri untuk membina hubungan baru dengan lawan jenis (Hurlock, 1991).

Proses pembentukan kompetensi interpersonal tidak lepas dari pendidikan formal. Sejalan dengan dinamika pembangunan bangsa di berbagai sektor, tuntutan terhadap pembangunan sektor pendidikan menjadi semakin luas, yakni di satu pihak terpenuhi kesempatan memperoleh pendidikan bagi anak usia sekolah yang semakin bertambah dan di pihak lain tercapainya efisiensi, relevansi dan peningkatan mutu pendidikan.
Pendidikan agama di sekolah umum bertujuan memberikan dasar-dasar pemahaman dan pengalaman ajaran agama bagi siswa sebagai bekal dalam mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, cerdas, terampil mempunyai etos kerja dan mempunyai kesetiakawanan sosial serta disiplin yang tinggi. Pondok pesantren merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang mempunyai 3 unsur utama yaitu; 1) Kyai sebagai pendidik sekaligus pemilik pondok dan para santri; 2) Kurikulum pondok pesantren; dan 3) Sarana peribadatan dan pendidikan, seperti masjid, rumah Kyai dan pondok serta madrasah (Hasan, 2001).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: