HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY QUOTIENT (AQ) DENGAN TINGKAT STRES KERJA PADA GURU SD NEGRI

Pendahuluan

Guru berperan sebagai tokoh sentral dalam upaya menyiapkan sumber daya manusia berkualitas sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945. Guru memiliki posisi yang paling strategis dalam kegiatan pendidikan di jalur sekolah. Oleh karena itu, hak asasi guru perlu mendapatkan prioritas utama dalam reformasi pendidikan nasional. Pembenahan kurikulum, perbaikan sarana dan prasarana, penyesuaian peraturan merupakan hal yang sangat penting bagi upaya pengembangan pendidikan, tapi sama sekali tidak bermakna jika gurunya tidak profesional dan tidak sejahtera. Dengan demikian upaya reformasi pendidikan seharusnya dimulai dari penataan guru dilihat dari aspek mutu dan kesejahteraan (Surya, 2000).

Tidak dipungkiri bahwa tanpa guru maka tidak akan ada manusia hebat, sukses, pintar dan berkuasa di dunia ini. Oleh karena itu, kesabaran dan pengabdian guru adalah “obor” bagi pencerahan hidup suatu bangsa lewat anak-anak didiknya. Tetapi seringkali bahwa nasib guru sering dilupakan oleh banyak kalangan bahkan profesi inipun sudah kurang diminati oleh generasi muda (Sewandarijatun, 1997).

Di lingkungan sekolah, guru mengemban tugas sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar, guru memberikan pengetahuan (kognitif), sikap dan nilai (afektif), dan ketrampilan (psikomotorik). Sementara sebagai pendidik guru harus mendidik para siswanya untuk menjadi manusia dewasa yang akarnya adalah nilai-nilai Pancasila.

Guru dalam kaitannya sebagai subjek yang berperan dalam dunia pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat penting dan strategis karena mengemban tugas dan peranan yang sangat luas dan berat. Guru tidak saja mengemban tugas di sekolah, namun juga tugas sosial kemasyarakatan di lingkungan tempat tinggalnya. Namun permasalahannya, saat ini peran dan tugas guru kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat dan pemerintah. Tugas sebagai guru yang sungguh mulia yaitu mencerdaskan bangsa, selama ini kurang begitu dihargai. Hal ini terbukti dari gaji para guru yang kecil, tidak adanya jaminan kesehatan, dan kurang begitu dihargai profesi guru sebagai pengajar oleh masyarakat.

Dari gaji guru yang pas-pasan, tuntutan kebutuhan kian membumbung, menjadikan guru sebagai manusia terbawa arus budaya masa kini, yakni penghargaan serta harapan tinggi akan materi. Tuntutan hidup demikan besar pada satu sisi, sementara pada sisi lain tanggung jawab dan beban moral yang dipikul sebagai seorang pengajar dan pendidik sangat besar sering mengakibatkan stres atau tekanan mental pada guru. Belum lagi jika guru menjadi sasaran kritik atas gagalnya suatu proses pendidikan yang dialami oleh anak didiknya. Tak jarang guru akhirnya mengambil sikap apatis terhadap profesinya di tengah dilema tanggung jawab serta tuntutan sosial ekonomi.

Kondisi guru di Indonesia memang masih memprihatinkan sampai saat ini. Guru semakin banyak terbebani dengan tuntutan-tuntutan yang dapat menimbulkan konflik dan beban kerja yang berlebihan sehingga dapat menimbulkan stres kerja. Pekerjaan guru secara materi memang kurang menguntungkan, gaji yang diterima oleh seorang guru tidak seimbang dengan beban kerja yang harus dikerjakan sehingga guru harus menambah penghasilan di luar tugasnya sebagai guru. Dalam perkembangan saat ini status sosial guru juga semakin merosot. Perlakuan yang tidak adil dari sekelompok birokrat tertentu juga sikap siswa yang kurang menghargai guru mencerminkan makin merosotnya status sosial guru (Kurnia, 1996)

Disebutkan bahwa berbagai pungutan yang sering menimpa para guru, terutama guru sekolah dasar (SD), ternyata menjadi penyebab utama timbulnya stres di kalangan para guru. Hal ini mengindikasikan, betapa para guru tidak lagi berdaya menghadapi aneka pungutan yang sering dihadapi. Selain pungutan, berbelit-belitnya urusan yang menyangkut nasib para guru, ikut mempercepat timbulnya stres di antara para guru (Kompas online, 22 Maret 1997).

Adanya ketidaksejahteraan yang dialami guru, pada akhirnya membuat guru tergerak untuk melakukan demo kenaikan gaji. Seperti diketahui pada tahun 2000, pernah terjadi demo guru besar-besaran yang terjadi di Jakarta, para guru menuntut untuk diberi kenaikan gaji, yang mana pada intinya menuntut agar kesejahteraan guru lebih diperhatikan. Seorang pakar Psikolog sosial, Sartono Mukadis (Suara Guru, 2000), mengatakan bahwa dengan kondisi gaji guru kecil dan ditambah dengan potongan-potongan yang sangat memberatkan serta adanya perbedaan yang sangat mencolok dengan tunjangan yang diberikan kepada pejabat lain yang sangat besar, membuat guru menjerit untuk menuntut hak-hak yang seharusnya diterima.

Kondisi dewasa ini yang semakin menyulitkan secara ekonomi menjadikan sejumlah guru melakukan kerja sampingan, untuk menambah penghasilan demi menunjang kebutuhan hidup sendiri dan keluarga. Pekerjaan sampingan yang dilakukan oleh para guru seperti pedagang sayur, ikan, daging, pembuat kue, dan tukang ojek, (Silverius, 2000).

Berdasarkan laporan studi Pusat Informasi, tidak dapat disimpulkan sejauh mana pekerjaan sambilan itu mengganggu pelaksanaan tugas pokok sebagai seorang pengajar. Kendatipun demikian, tidak dapat kiranya dipungkiri bahwa perhatian guru terhadap kelasnya terpecah oleh adanya pekerjaan sambilan itu sehingga dapat disimpulkan bahwa mutu pendidikannya seyogyanya lebih baik apabila guru tersebut tidak melaksanakan kerja sambilan, (Silverius, 2000).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: