HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN PENYESUAIAN DIRI TERHADAP PEKERJAAN DENGAN STRES KERJA PADA KARYAWAN DI PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA, Tbk

Pendahuluan

Dalam menghadapi era Globalisasi, setiap perusahaan harus tanggap terhadap persaingan yang semakin ketat baik persaingan antar perusahaan lokal maupun persaingan antara perusahaan lokal dengan perusahaan asing. International Telecommunication Union (ITU) dalam World Telecommunication Development Report 2002 mendeskripsikan sektor telekomunikasi saat ini dengan empat kata kunci: “private”, “competitive”, “mobile”, dan “global”, yaitu sektor telekomunikasi di mana pun di muka bumi ini semakin terprivatisasi, semakin terbuka pada kompetisi, semakin mobile, dan semakin mengglobal baik dari sisi operasi, regulasi maupun layanannya. Sampai dengan tahun 2002 lalu, lebih dari setengah negara di dunia telah memprivatisasi sektor telekomunikasinya dengan menyerahkan sebagian atau bahkan seluruh kepemilikan incumbent operation-nya (operator utama) kepada sektor swasta. (Kartajaya, 2004). Kompetisi ini memacu incumbent operation (operator utama) untuk dapat terus meningkatkan produktifitas dan efektivitas, memperbaiki efisiensi dan kesehatan organisasi, serta meningkatkan upaya inovasi produk dan memperbaiki layanan terhadap pelanggan.

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk merupakan salah satu perusahaan besar di Indonesia, yang bergerak di dalam bisnis informasi dan komunikasi. Menurut undang-undang telekomunikasi pada tahun 1989, disebutkan bahwa telekomunikasi dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh pemerintah. Tetapi sejak ditetapkannya Undang-Undang No. 36 tahun 1999 dan berlaku efektif pada tanggal 8 September 2000, menandai berakhirnya era monopoli dalam penyelenggaraan jasa telekomunikasi di Indonesia. Undang-undang tersebut mengatur secara tegas bahwa dalam penyelenggaraan telekomunikasi dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat di antara para penyelenggara telekomunikasi. Hal ini meyebabkan PT. Telkom berada pada persaingan penuh di semua bidang usaha yang dikelolanya (Kartajaya, 2004). Sebelum berlakunya UU No. 36 Tahun 1999, penyedia jasa sambungan langsung internasional dipegang oleh indosat sehingga masyarakat terbiasa memutar kode SLI 001 dan SLI 008. Namun setelah pemerintah melarang kegiatan praktek monopoli, intensitas kompetisi dalam pasar sambungan langsung internasional mulai terasa. PT Telkom bekerjasama dengan operator asing mengeluarkan layanan TELKOMGlobal007 untuk sambungan langsung internasional.

Dikeluarkannya Undang-Undang No. 36 tahun 1999 secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap pergeseran mendasar dari rumusan visi-misi PT. Telkom. Perbedaan rumusan visi-misi sebelum tahun 2000 dan setelah tahun 2000 terletak pada bidang bisnis yang dimasuki Telkom dan pencakupan bisnis Telkom. Pada rumusan visi-misi sebelum tahun 2000, bidang bisnis PT Telkom masih tergolong tradisional yaitu POTS (Plain Old Telephone Service), sedangkan pada pencakupan bisnis yaitu alokasi sumber daya dan strategi PT. Telkom cenderung diarahkan untuk menjadi operator telekomunikasi terkemuka di tingkat nasional dengan standar layanan berkelas dunia. Rumusan visi-misi mulai berubah ketika Undang-Undang No. 36 tahun 1999 dikeluarkan, kemudian PT. Telkom mengubah visi-misi Telkom pada tahun 2003. Rumusan visi PT. Telkom adalah menjadi dominan InfoCom player di kawasan regional, yang mengandung pengertian bahwa PT. Telkom berupaya untuk menempatkan diri sebagai perusahaan Infocom yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara, yang kemudian akan berlanjut ke kawasan Asia, dan Asia Pasifik. PT. Telkom mempunyai dua rumusan misi yaitu memberikan layanan “one stop InfoCom” dengan kualitas yang prima dan harga kompetitif; dan mengelola usaha dengan cara yang terbaik dengan mengoptimalkan SDM yang unggul, dengan teknologi yang kompetitif dan dengan business Partner yang sinergi. Memberikan layanan “one stop InfoCom” dengan kualitas yang prima dan harga kompetitif mempunyai arti bahwa PT. Telkom menjamin pelanggan akan mendapatkan layanan terbaik, berupa kemudahan, kualitas produk, kualitas jaringan, dengan harga yang kompetitif. Sedangkan mengelola usaha dengan cara yang terbaik dengan mengoptimalkan SDM yang unggul, dengan teknologi yang kompetitif dan dengan business Partner yang sinergi mengandung pengertian bahwa PT. Telkom akan mengelola bisnis melalui praktek-praktek terbaik dengan mengoptimalkan SDM yang unggul, penggunaan teknologi yang kompetitif, serta membangun kemitraan yang menguntungkan secara timbal balik dan saling mendukung secara sinergis. Dari rumusan tersebut dapat dilihat bahwa PT Telkom memperluas bidang bisnisnya dari hanya sekedar POTS menjadi PMVIS (Phone, Mobile, View, Internet, dan Service), yang saat ini disederhanakan menjadi Phone, Mobile, Multimedia (PMM), sedangkan pada pencakupan bisnisnya dari hanya sebagai pemain terkemuka di tingkat nasional menjadi pemain terkemuka di tingkat regional. PT Telkom akan menghadapi pesaing yang begitu banyak baik para operator lokal maupun para operator regional dan global, seperti Indosat (lokal), NTT dan British Telekom (Global), Korea Telekom, HK Telekom, SingTel, Malaysia Telekom yang menjadi pesaing terdekat (regional) (Kristiono, 2003; Kartajaya, 2004).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: