PERBEDAAN PERLAKUAN SALAH PADA ANAK (Child Maltreatment) DITINJAU DARI STATUS SOSIAL EKONOMI ORANGTUA

Pendahuluan

Anak adalah titipan yang diberikan oleh Allah SWT kepada orangtua. Sebuah bentuk kepercayaan Allah SWT kepada umat-Nya untuk merawat dan menjaga sebentuk jiwa yang nantinya merupakan penerus bagi kelangsungan hidup bumi beserta isinya. Sidang MU PBB tanggal 20 November 1989 telah mengesahkan Konvensi Hak-hak Asasi Anak (KHAA). Hal penting yang terkandung dalam pasal pasal KHAA antara lain adalah: “Setiap anak secara kodrati memiliki hak hidup dan setiap orang (keluarga, lembaga masyarakat dan pemerintah) harus menjamin kehidupan dan perkembangan anak secara maksimum” (Waspada Online, 22 Januari 2006).

Tanpa harus diatur dalam KHAA, secara kodrati orangtua adalah orang yang seharusnya mampu memberikan jaminan akan kehidupan dan perkembangan anak sebaik dan semaksimal mungkin. Hubungan orangtua dan anak secara idealnya adalah sebuah hubungan yang saling sayang menyayangi dalam sebuah hubungan yang terbentuk dalam sebuah keluarga. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang mempunyai tanggung jawab pertama atas pertumbuhan dan perkembangan anak. Seorang anak akan tumbuh secara optimal jika kebutuhannya terpenuhi, antara lain kebutuhan akan sandang, pangan, papan, rasa aman, kehangatan serta rasa kasih sayang (Rejeki,2001).

Walaupun secara ideal setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari segala bentuk kekerasan baik fisik maupun mental, penelantaran, penyalahgunaan, perlakuan salah dan ekspoitasi dari pihak manapun (termasuk dari orang tuanya) tetapi pada kenyataannya yang terjadi di prakteknya tidaklah demikian. Keluarga dalam banyak kasus justru menjadi sumber ketidaktentraman anak. Masih banyak sekali orangtua atau orang yang mengasuhnya memperlakukan dan mendidik anak dengan cara yang salah (Kompas 23 Mei 2002).

Perlakuan salah terhadap anak (child maltreatment), merupakan masalah global yang sensitif dan sangat sulit untuk diselesaikan karena menyangkut moral, etika, agama, hukum, dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya yang berbeda-beda. Perlakuan salah terhadap anak (child maltreatment) dapat terjadi di mana saja, bahkan hampir di setiap negara, termasuk Indonesia. Sebagai sebuah realitas, menurut Narendra (Kusmayati ,2001) kasus child maltreatment biasanya dianggap hanya bersifat kasuistis, dan terjadi pada keluarga-keluarga tertentu saja yang secara psikologis bermasalah. Perlakuan salah pada anak di mata masyarakat diyakini hanya terjadi pada orangtua-orangtua tertentu yang memang abnormal, terganggu kepribadiannya, dan orangtua yang memang jahat atau penjahat.

Kasus perlakuan salah pada anak di Indonesia tidak semakin berkurang, tetapi meningkat dari tahun ke tahun. Seto Mulyadi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, mencatat pada 2003 terdapat 481 kasus. Pada tahun 2004 tercatat 547 kasus, dengan 221 kasus merupakan kekerasan seksual, 140 kekerasan fisik, 80 kekerasan psikis, dan 106 permasalahan lainnya (Aufklarung WordPress 2006).

Menurut harian Pikiran Rakyat 15 Januari 2006, berdasarkan data Plan Indonesia yang dikutip sebuah media cetak nasional saat ini diperkirakan ada 871 kasus kekerasan terhadap anak. Pengaduan masyarakat melalui hotline services dan pemantauan Pusdatin Komnas PA terhadap 10 media cetak, selama tahun 2005 dilaporkan terjadi 736 kasus perlakuan salah terhadap anak, dari jumlah itu 327 kasus perlakuan salah secara seksual, 233 kasus perlakuan salah secara fisik, 176 kasus kekerasan psikis. Sedangkan jumlah kasus penelantaran anak sebanyak 130. Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Kompas 13 Desember 2006) menunjukkan, kasus perlakuan salah pada anak untuk tahun 2006 selama periode Januari-September, terjadi 994 kasus perlakuan salah terhadap anak. Dengan perincian, kekerasan fisik (216), seksual (378), dan psikis (400).

Secara teoritis, child maltreatment dapat didefinisikan sebagai peristiwa pelukaan fisik, mental, atau seksual yang umumnya dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan anak, yang semuanya itu diindikasikan dengan kerugian dan ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak. Contoh paling jelas dari tindak kekerasan yang dialami anak-anak adalah pemukulan atau penyerangan secara fisik berkali-kali sampai terjadi luka atau goresan (scrapes/ scratches).

Namun perlu disadari bahwa child maltreatment sebetulnya tidak hanya berupa pemukulan atau penyerangan secara fisik, melainkan juga bisa berupa eksploitasi-eksploitasi melalui, misalnya, pornografi dan penyerangan seksual (sexual assault), pemberian makanan yang tidak layak bagi anak atau makanan kurang gizi (malnutrition), pengabaian pendidikan dan kesehatan (educational and medical neglect) dan kekerasan-kekerasan yang berkaitan dengan medis (medical abuse) dalam Kompas 23 Mei 2002.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: