PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR ANTARA SISWA DENGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) DAN SISWA DENGAN KURIKULUM 1994 PADA SISWA SMP

Pendahuluan

Interaksi antara guru dan siswa atau hubungan timbal balik antara siswa dengan guru dan antar sesama siswa terjadi di dalam proses belajar mengajar (PBM) yang berlangsung di sekolah atau lembaga pendidikan. Pengertian interaksi mengandung unsur saling memberi dan menerima (Depdikbud, 1994). Proses interaksi yang terjadi dalam PBM tersebut, di dalamnya terdapat sebuah penyampaian informasi atau ilmu kepada siswa yang kemudian para siswa berusaha untuk menyerap dan menyimpan ilmu yang telah disampaikan oleh guru. Menurut Bruner (Alsa, 2004), peran guru adalah menciptakan situasi belajar sedemikian rupa agar siswa dapat belajar berdasar apa yang mereka miliki, bukan memberikan paket informasi. Mengajar bukan untuk menghasilkan perpustakaan hidup, tetapi memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, yang akan berguna untuk pengembangan dirinya nanti.

Proses belajar mengajar (PBM) yang disampaikan oleh guru terhadap siswa, di dalamnya mulai dibangun sebuah perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan analisis sampai dengan tindak lanjut (perbaikan). Pada akhirnya, proses belajar mengajar (PBM) yang telah dilalui oleh guru dan siswa harus diberi penilaian atau evaluasi terhadap proses dan prestasi belajar, agar siswa dan guru dapat mengetahui tingkat prestasi belajar siswa dan keberhasilan dalam proses belajar mengajar (PBM).

Djamarah (2002) dan Azwar (1996), berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dibedakan menjadi dua macam, yakni faktor individual atau dalam diri individu (internal) dan faktor sosial atau lingkungan (eksternal). Faktor internal meliputi kecerdasan atau inteligensi, motivasi, cara belajar, minat dan bakat. Faktor eksternal dapat meliputi lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, fasilitas belajar, keadaan ekonomi, dan sistem kurikulum.

Kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah menjadi salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Menurut Beby (1981), kurikulum adalah suatu pernyataan mengenai maksud dan tujuan tertentu, memberi petunjuk tentang beberapa pilihan dan isinya, menyiratkan atau menyuratkan pola-pola belajar dan mengajar tertentu baik karena dikehendaki oleh tujuannya maupun oleh susunan isinya. Pada akhirnya, kurikulum memerlukan suatu program pengevaluasian hasil-hasilnya. Dengan adanya perbedaan sistem kurikulum, maka berbeda pula proses belajar mengajar (PBM) yang terjadi antara siswa dengan guru sehingga akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Menurut Soedijarto (1993) sistem kurikulum meliputi tujuan-tujuan institusional, struktur program kurikulum, garis-garis besar program pengajaran atau silabi, pedoman guru dan pelajaran baku dan strategi belajar mengajar untuk tercapainya tujuan-tujuan pendidikan nasional.

Isi dan tujuan pendidikan dalam sistem kurikulum 1994 yang mulai diterapkan pada tahun ajaran 1994/1995, lebih diarahkan pada keberhasilan kognitif siswa. Orientasi pembelajaran hanya menghafal materi pelajaran (rote memorization). Selain itu, latihan intensif mengerjakan soal lebih banyak mengandalkan kemampuan kognitif, materi pelajaran bersifat abstrak, materi pelajaran tidak relevan dengan kehidupan nyata dan juga tidak terintegrasi dengan mata pelajaran lainnya (fragmented curriculum), siswa lebih banyak duduk di kelas dan hanya menjadi pendengar pasif, dan ujian yang diberikan lebih mengutamakan multiple choice (Pikiran Rakyat, 2004).

Sesuai dengan kurikulum 1994, kegiatan akademik dalam satu tahun pelajaran terbagi menjadi tiga waktu yang kemudian lazim dikenal dengan istilah catur wulan. Pada akhir setiap caturwulan, siswa berhak menerima laporan penilaian yang disampaikan sekolah. Dengan sistem caturwulan sebenarnya beban biaya yang dipikul dalam pelaksanaan pendidikan semakin besar, waktu yang dimiliki oleh guru sangat terbatas, sehingga guru selalu merasa dikejar-kejar waktu berkaitan dengan materi yang perlu disampaikan kepada siswa (Suara Merdeka, 2001). Terbatasnya waktu yang dimiliki oleh guru untuk menyampaikan materi kepada siswa tersebut, mengakibatkan penyampaian materi kepada siswa menjadi tidak maksimal dan terkesan tergesa-gesa, sehingga secara langsung akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

Kurikulum 1994 yang telah diterapkan lebih dari 10 tahun menjadi semakin tidak relevan dengan adanya perkembangan pendidikan, pengetahuan dan lain-lain yang terjadi dalam lingkungan masyarakat. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan pendidikan serta aspek lain dalam lingkungan masyarakat pada masa sekarang, akan mengharuskan adanya perubahan kurikulum. Perubahan yang terjadi pada lingkungan masyarakat yang meliputi pengetahuan, pendidikan dan lain-lain, akan membuat kurikulum menjadi tidak relevan dengan keadaan lingkungan masyarakat yang baru.

Adanya perubahan yang terjadi pada lingkungan masyarakat, maka akan dibutuhkan kurikulum baru yang relevan dengan keadaan masyarakat pada saat itu. Menurut Nasution (1995), kurikulum itu senantiasa dinamis dan senantiasa dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam faktor-faktor yang mendasarinya, yang meliputi pergeseran tujuan, pendirian baru mengenai proses belajar dan perubahan dalam masyarakat. Dengan demikian, kurikulum harus mengalami perubahan yang menyeluruh untuk menyesuaikan dengan kondisi pendidikan paling relevan dalam lingkungan masyarakat.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: