SELF REGULATED LEARNING PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN YANG MENGGUNAKAN TIPE PEMBELAJARAN PBL (PROBLEM BASED LEARNING) DAN SKS (SATUAN KREDIT SEME

Pendahuluan

Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hidup. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia. Untuk memajukan kehidupan mereka itulah, maka pendidikan menjadi sarana utama yang harus dikelola secara sistematis dan konsisten berdasarkan berbagai pandangan teoritikal dan praktikal sepanjang waktu sesuai dengan lingkungan hidup manusia itu sendiri.

Dalam Dictionary of Psychology, pendidikan diartikan sebagai tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya (Dalyono, 2001). Dalam GBHN (1973) disebutkan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup (Barnadib, 1982). Dari dua pengertian di atas, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai usaha pemberian informasi dan pembentukan ketrampilan saja, namun diperluas mencakup usaha mewujudkan keinginan, kebutuhan dan kemampuan individu sehingga tercapai pola hidup dan sosial yang memuaskan.

Proses menempuh pendidikan di perguruan tinggi tentu berbeda dengan lembaga pendidikan sebelumnya, dimana materi belajar yang diberikan pada mahasiswa lebih luas dan kompleks dibandingkan materi pelajaran yang diberikan di sekolah menengah. Dengan demikian, mahasiswa di perguruan tinggi dituntut untuk memiliki kemampuan mengatur diri dan perilakunya secara aktif dalam aktifitas belajarnya untuk keberhasilan studinya (Narulita, 2005).

Gie (1979) mengatakan bahwa cara belajar yang baik sangat mendukung seseorang untuk berhasil dalam studi, namun terkadang mahasiswa mengalami kesukaran dalam mengatur pemakaian waktu belajar, selain itu kebanyakan mahasiswa melakukan aktifitas belajar secara santai. Tidak jarang mahasiswa yang hanya tampak sibuk menjelang ujian dan belajar secara “SKS” (sistem kebut semalam). Mereka juga sering terlambat kuliah bahkan ada yang jarang masuk, ketika diberikan tugas oleh dosen dikerjakan menjelang akhir masa pengumpulan, mencari catatan menjelang ujian, kesibukan organisasi, kurangnya pemanfaatan fasilitas perpustakaan. Perilaku-perilaku di atas tentunya tidak efektif dan menghambat keberhasilan studi mahasiswa itu sendiri.

Gambaran di atas juga menunjukkan bahwa mahasiswa belum secara maksimal mengelola dan mengatur dirinya sendiri agar dapat membiasakan belajar yang baik dan efisien. Kebiasaan belajar yang efektif dapat diusahakan dengan berpedoman pada cara-cara belajar yan efisien dan mengandung tiga prinsip, yaitu keteraturan, disiplin dan konsentrasi. Selain itu menurut Gie (2002) keterampilan pendukung untuk menunjang tercapainya sukses dalam studi di perguruan tinggi meliputi kemampuan konsentrasi, menghafal, mengelola waktu dan kemampuan mengatur diri.

Self regulated learning merupakan belajar mengatur diri sendiri, diantaranya adalah self-generation dan pemantauan diri (self-monitoring) dalam berpikir, perasaan dan perilaku-perilaku untuk mencapai tujuan (Santrok, 2001). Self regulated learner adalah siswa yang secara metakognitif, motivasional dan behavioral merupakan peserta aktif dalam proses belajar mereka sendiri (Zimmerman, 1989). Pintrich (1995) menemukan bahwa self regulated learning merupakan komponen yang penting dalam belajar bagi mahasiswa. Seorang siswa seharusnya memiliki kesadaran yang tinggi terhadap perilakunya, motivasi, kognisi dan motivasi atau keyakinan yang positif dan harus mempraktekkan strategi pengaturan belajar mereka self regulated learning (www.jhargis.com/theory.htm).

Beberapa penelitian menemukan bahwa siswa yang aktif mengelola dirinya dalam belajar cenderung memiliki prestasi yang lebih baik di bidang akademik. Salah satu karakteristik yang dimiliki siswa yang menggunakan self regulated learning adalah memiliki keaktifan dalam proses belajar dan memiliki kemampuan untuk mengatur belajarnya (Schunk, Zimmerman dan Wolters, 1998).
Cara untuk mengatur seseorang dalam belajarnya adalah dengan dibuatnya sebuah metode pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran tersebut yaitu Problem Based Learning (PBL) yang merupakan sebuah metode pembelajaran yang menekankan pada kemampuan seorang mahasiswa belajar memecahkan masalah secara ilmiah. Tipe pembelajaran ini dirasakan efektif karena pelaksanaan program pendidikan menggunakan blok atau paket sebagai tolok ukur beban pendidikan terutama yang menyangkut beban studi peserta didik, sehingga lebih terfokus pada suatu mata kuliah.

Namun beban studi pada masing-masing mahasiswa disamaratakan. Kurikulum pada program PBL mendasarkan pada pengalaman menurut perspektif peserta didik, bersifat koheren dan relevan, mulai dari keseluruhan ke bagian per bagian, pengajar berfungsi sebagai fasilitator dan lebih fleksibel. Program PBL ini marak diterapkan dalam pendidikan dokter karena bidang ilmunya yang bersifat terapan (Panduan akademik Fakultas Kedokteran, 2004).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: