HUBUNGAN ADVERSITY QUOTIENT DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI MASA DEPAN REMAJA JALANAN YANG TINGGAL DI RUMAH SINGGAH

Pendahuluan

Sejak krisis ekonomi tahun 1999, jumlah anak jalanan di Indonesia meningkat 85 persen. Menurut data yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2002 jumlah anak terlantar usia 5 -18 tahun sebanyak 3.488.309 anak di 30 provinsi. Sedangkan balita yang telantar berjumlah 1.178.82, dan anak jalanan tercatat ada 94.674 anak. Anak nakal 193.155. Anak yang membutuhkan perlindungan khusus sekitar 6.686.936 anak, dan yang potensial terlantar sebanyak 10.322.674 anak. Lebih lebih dahsyat lagi, sekitar 36.500.000 anak Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan (http://www.google.com).

Peningkatan jumlah anak jalanan yang pesat merupakan fenomena sosial yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Perhatian ini tidak semata-mata terdorong oleh besarnya jumlah anak jalanan, melainkan karena situasi dan kondisi anak jalanan yang buruk di mana kelompok ini belum mendapatkan hak-haknya bahkan sering terlanggar (Salahudin, 1994). Anak-anak yang berada dalam lingkungan seperti ini sangat rawan tindak kekerasan, pengabaian, dan eksploitasi. Bila hal ini terus dibiarkan, maka akibatnya akan sangat fatal, yaitu hilangnya generasi beradab di Indonesia. Masa depan bangsa kita dua sampai tiga puluh tahun yang akan datang akan sangat tergantung pada kualitas anak-anak yang kini berusia 0-18 tahun.

Masa remaja juga merupakan suatu fase tertentu untuk memperluas wawasan masa depan, berusaha menemukan hal-hal baru termasuk tentang jati dirinya dan menginginkan kebebasan. Pada masa ini remaja juga dihadapkan pada pilihan-pilihan penting yang akan mempengaruhi masa depan mereka. Dalam memandang masa depannya antara satu remaja dengan remaja lainnya tidak akan pernah sama. Pada usia remaja pertengahan, remaja sudah memasuki tahap operasional formal dalam perkembangan kognitif (Piaget dalam Haditono, 2002). Dalam tahap ini remaja sudah memiliki kemampuan berpikir yang meliputi berpikir tentang kemungkinan remaja dapat membuat rencana ke depan dan membuat keputusan untuk masa depannya (Steinberg & Bolsky dalam Puspitorini, 1999).

Remaja jalanan sebagian besar waktunya hidup di jalanan, kegiatan sehari-hari mereka lebih banyak bertujuan untuk mencari uang dengan cara menjadi pengamen ataupun peminta-minta. Fenomena ini banyak dijumpai disetiap perempatan kota, menjadi anak jalanan bukan keinginan mereka. Banyak faktor yang menyebabkan mereka tingggal di jalanan misalnya faktor keluarga, kondisi ekonomi, dan faktor lingkungan. Dari faktor yang telah disebutkan di atas faktor kondisi keluarga dan ekonomi merupakan faktor utama remaja menjadi anak jalanan, mereka terpaksa putus sekolah. Walaupun menjadi anak jalanan mereka juga sama seperti remaja lainnya yang memiliki cita-cita untuk masa depannya, menginginkan masa depan yang lebih baik. Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca berwarna merah jambu, melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagai yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya terlebih dalam hal cita-cita. Cita-cita yang tidak realistik ini menyebabkan meningginya emosi. Remaja akan sakit hati dan kecewa kalau ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri (Hurlock, 1994).

Rumah singgah merupakan salah satu metode penanganan anak jalanan. Penyediaan rumah singgah merupakan upaya agar hak-hak anak dari para anak jalanan dapat terpenuhi dan terlindungi. Perlindungan terhadap anak jalanan ini sangat sangat penting karena dalam kehidupan sehari-hari anak jalanan ini banyak menghadapi tantangan dan ancaman. Rumah singgah didefinisikan sebagai tempat singgah anak jalanan dimana anak jalanan bisa mendapatkan makan, minuman, tempat beristirahat, tempat mendapatkan pendidikan serta tempat untuk mempersiapkan masa depannya (Sandiawan dalam Marpuzah, 2002).

Anak jalanan biasa dan anak jalanan yang tinggal di rumah singgah mempunyai banyak perbedaan. Anak jalanan biasa,menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan, hampir 24 jam mereka hidup di jalanan. Mereka bekerja mencari uang dengan menjadi pengamen atau peminta-minta di bus dan di perempatan jalan. Kebanyakan dari mereka sudah putus sekolah karena kekurangan ekonomi. Anak jalanan biasa ini, sangat rentan terhadap tindakan kekerasan atau ancaman dari luar karena tidak adanya perlindungan sosial yang memadai. Mereka juga tidur di jalanan ataupun di kolong jembatan, karena itu mereka rentan terhadap ancaman dari luar seperti cuaca yang buruk yaitu panasnya matahari dan kedinginan. Selain itu, mereka tidak memikirkan pentingnya kesehatan dan kebersihan. Hal itu terlihat dari kondisi fisik mereka yang kotor atau kumal karena jarang mengganti pakaian.

Anak jalanan yang tinggal di rumah singgah memiliki aktivitas yang teratur dan beragam. Di rumah singgah mereka dapat belajar lebih banyak baik pengetahuan maupun ketrampilan. Mereka bisa belajar ketrampilan misalnya ketrampilan membuat lilin, ketrampilan perbengkelan, ketrampilan membuat berbagai macam hiasan yang hasilnya dapat dijual, dengan cara tersebut mereka bisa menghasilkan uang.

Anak jalanan yang tinggal di rumah singgah pun belajar tentang komputer dan belajar bahasa Inggris dan juga dapat melanjutkan sekolahnya. Aktivitas lainnya, mereka belajar agama dan moral agar perilaku mereka menjadi lebih baik. Mereka juga mengadakan malam pentas seni dan bazar untuk menjual kerajinan tangan dan untuk memperlihatkan kebolehan mereka di bidang seni, misalnya yaitu membacakan puisi, dan juga menyanyikan lagu ciptaan mereka sendiri. Sehingga mereka tidak perlu mengamen untuk mendapatkan uang. Dengan belajar ketrampilan, akan mendorong kreativitas mereka dalam membuat kerajinan tangan.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Satu Tanggapan

  1. minta daftar pustakanya dong gan… Email Depe_jobu@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: