HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECEMASAN PADA PASIEN ANAK RAWAT INAP

Pendahuluan

Penyakit dapat menyerang setiap orang. Seseorang dikatakan menderita suatu penyakit jika terdapat gangguan pada fungsi dan adaptasi dari proses-proses biologis dan psikofisiologis (Kleinman dalam Smet, 1994). Jenis penyakit yang diderita seseorang tergantung pada karakteristik gangguan yang diderita, sedangkan perubahan bertambahnya penyakit dapat dilihat dari tingkat reaksi yang dihadapi oleh seseorang. Reaksi tersebut dimulai dari tanda-tanda yang dirasakan, kemudian muncul gejala-gejala yang akhirnya ketidakmampuan dalam menjalani aktivitasnya (Sarafino, 1994). Penyakit yang diderita berkaitan dengan rasa sakit. Rasa sakit merupakan reaksi personal, interpersonal serta kultural terhadap penyakit atau perasaan kurang nyaman (Kleinman dalam Smet, 1994). Disaat rasa sakit terus bertambah parah bahkan mengancam jiwa seseorang maka mereka kemudian mencari bantuan untuk mengatasi rasa sakit yang dideritanya.

Proses pencarian bantuan ini berkaitan dengan bantuan medis sebagai upaya mencapai penyembuhan. Salah satu bentuk pencarian bantuan adalah dengan mendatangi para profesional kesehatan yang terdiri dari organisasi-organisasi profesi dibidang penyembuhan yang resmi dan terdapat sanksinya seperti dokter, perawat, bidan dan psikolog. Para profesional kesehatan tersebut melakukan pemeriksaan-pemeriksaan medis yang didasarkan pada gejala-gejala yang ada pada tubuh seseorang. Gejala tersebut dapat dilihat, dirasa, dicium atau diukur, bahkan terdapat pula gejala yang baru diketahui oleh seorang dokter sewaktu diadakan pemeriksaan. Berdasarkan gejala-gejala yang timbul maka dokter dapat membuat diagnosa. Bilamana dari diagnosis tersebut pasien mengalami penyakit yang berat maka pasien harus menjalani rawat inap di rumah sakit, karena rumah sakit berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan dengan tempat konsentrasi segala peralatan dan perangkat kesehatan serta kedokteran modern. (Lumenta, 1989).

Pelayanan kesehatan di rumah sakit berkaitan dengan upaya penyembuhan berupa pengobatan. Pengobatan yang dijalani disesuaikan dengan penyakit yang diderita. Pengobatan ini dapat berupa pegobatan fisik, kimiawi, operatif, dan lain sebagainya. Pasien yang berada perawatan dokter dan pembantunya dapat memberikan perhatian penuh, memonitor serta menilai perkembangan penyakit dan kesembuhannya. Karena fungsi utama dari rumah sakit adalah sistem penginapan pasien, sehingga rumah sakit turut menyediakan fasilitas-fasilitas yang berkaitan dengan rawat inap seperti bangsal, kamar termasuk perabotan-perabotan yang dapat memberikan kenyamanan pada pasien rawat inap sehingga perawatan dan pengobatan dapat terlaksana secara efisien dan efektif.

Layanan kesehatan ini ditujukan bagi setiap orang, bahkan anak-anak berhak untuk mendapatkan pengobatan rawat inap sehubungan dengan penyakit yang dideritanya. Di Amerika Serikat, setiap tahunnya sekitar 2,4 juta anak dibawah usia 15 tahun harus menjalani rawat inap dan kebanyakan diantaranya merupakan anak-anak dibawah usia 5 tahun (Sarafino, 1994). Sedangkan di Indonesia, angka kesakitan (mordibty rate) anak-anak usia 5-14 tahun pada tahun 2000 mencapai 13,56 % dan ditahun 2001 bertambah menjadi 13,70 %. Berdasarkan rata-rata lamanya sakit di usia 5-14 tahun pada tahun 2000 sebanyak 4, 83 hari dan di tahun 2001 sebanyak 4, 36 hari (Badan Pusat Statistik, 2002).

Akibat psikologis yang ditimbulkan dari penyakit tersebut dapat mengganggu keseimbangan tubuh ketika anak dirawat di Rumah Sakit. Anak akan mudah marah, menuntut dan sulit. Jika penyakitnya berlangsung lama, maka anak akan tertinggal dalam pelajaran sekolah dan dalam keterampilan bermain (Hurlock, 1980). Eiser (dalam Smet, 1994) menyatakan bahwa opname di rumah sakit jauh dari menyenangkan untuk pasien anak.

Prosedur medis dan atau pembedahan yang menyakitkan, pisah dari keluarga, teman dan sekolah, menghadapi situasi yang tidak dikenal dimana para perawat dan dokter menguasai keadaan. Berhadapan dengan anak-anak lainnya yang sakit serta hal-hal lain menyebabkan perawatan di rumah sakit itu menjadi sesuatu yang menyakitkan. Anak-anak mungkin merasa cemas tentang pengobatan yang sedang dijalaninya serta lingkungan rumah sakit itu sendiri dirasakan sebagai tempat terpencil dan asing. Mungkin mereka itu khawatir bagaimana mengatasinya. Rumah sakit merupakan tempat dimana anak terluka dan kadang-kadang mengalami prosedur yang menyakitkan. Selain itu, rumah sakit bisa sangat membosankan.

Kondisi sakit pada anak akan berpengaruh pada perkembangan, perilaku, kepribadian dan sikap anak. Penyakit yang di derita anak dapat bersifat menahun atau dapat berlangsung singkat. Seberapa parah dan lamanya keadaan sakit tersebut pengaruhnya pada diri anak sangat tergantung pada sikap mental anak. Studi tentang anak-anak dengan usia yang berbeda mengungkapkan banyak pengaruhnya terhadap perkembangan dan pertumbuhan serta kemampuan anak mengadakan penyesuaian pribadi atau sosial (Hurlock, 1991). Menurut Hurlock (1991), ada beberapa pengaruh penyakit yang umum pada anak, yaitu: (a) pertumbuhan dan perkembangan tubuh menjadi terhambat (b) pengaruh sakit yang berkepanjangan dan menyebabkan cacat tubuh (c) perubahan emosi (d) perubahan perilaku sosial (e) keterbatasan bergerak (f) mengganggu tugas sekolah (g) kesulitan perilaku.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: