HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA PENYALAHGUNA NAPZA SELAMA MENJALANI REHABILITASI

Pendahuluan

Remaja adalah sosok yang mendapatkan perhatian besar, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Hal ini merupakan suatu kesadaran dan pengakuan terhadap remaja sebagai generasi yang mempunyai arti dan peran penting dalam pembangunan bangsa yang terus berjalan mengikuti akselerasi perkembangan zaman. Oleh sebab itu, generasi muda sering pula disebut agen pembaharu atau agent of social change. Komponen generasi muda merupakan subyek strategis yang diharapkan dapat terus meningkatkan kemampuan di berbagai bidang yang diminati (Wikagoe, 2003 ).

Remaja sebagai bagian dari generasi muda yang harus dibina, dijaga, ditempa, diarahkan pada pemanfaatan semua potensi yang ada pada dirinya, tentunya harus melalui sebuah sistem dan metode yang relevan. Remaja harus diposisikan sebagai sosok yang penting dan berpengaruh sehingga keberadaannya akan membuat semua pihak peduli pada remaja. Ketika remaja tidak mendapatkan itu semua, maka remaja akan menjadi generasi yang labil, lemah dan bisa menjadi rusak. Generasi yang tadinya di khawatirkan akan menjadi penonton atau perusak dari sebuah peradaban akan menjadi generasi yang penuh idealisme dan mampu menghasilkan sebuah peradaban tangguh di masa mendatang tetapi tidak semua perilaku remaja saat ini sesuai dengan yang di harapkan, banyak perilaku menyimpang yang di lakukan oleh remaja seperti berkelahi, tawuran bahkan menjadi pecandu narkoba. Hal ini tentu sangat memprihatinkan bahwa korban penyalahgunaan narkoba terjadi pada remaja dan dewasa muda yang sedang dalam usia produktif.

Fakta menunjukkan bahwa kasus-kasus penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya ( NAPZA ) dari waktu ke waktu mengalami peningkatan. Data penyalahgunaan NAPZA yang diperoleh dari rumah sakit ketergantungan obat dan Pusat Rehabilitasi korban narkotika pada tahun 1985 menunjukkan jumlah orang yang mengalami penyalahgunaan dan ketergantungan sebesar 80.000 atau sekitar 0,05 % dari total populasi penduduk Indonesia ( 160 juta ), ternyata pada tahun 1995 jumlahnya sudah membengkak menjadi 120.000 kasus atau sekitar 0,062 % dari total penduduk 195 juta.

Data terakhir yang dilaporkan oleh badan kesehatan dunia ( WHO ) bahwa terdapat 150.000 remaja di Indonesia yang saat ini terlibat penyalahgunaan NAPZA Dwiprahasto ( Afiatin, 2001 ). Data jumlah penderita korban NAPZA menurut hasil penelitian Dadang Hawari pada tahun 1999 mencapai 1,3 juta orang. Hawari juga menyebutkan bahwa pada tahun 1998 jumlah korban NAPZA yang meninggal dunia sebanyak 228.000 orang ( GATRA no 26 tahun V, 15 Mei 1999 ). Sangat mungkin jumlah yang sesungguhnya jauh lebih banyak, sebab pada umumnya penyalahguna NAPZA dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tertutup serta melibatkan beberapa sindikat yang terorganisisr dengan rapi. Soeweno (Afiatin, 2001 ) menyatakan bahwa mayoritas ( 80 % ) penyalahguna Napza adalah remaja usia 15-20 tahun. Sebagian besar diantaranya mereka ( 76 % ) adalah pelajar SLTP, SMU, dan SMK; 65% berasal dari keluarga kelompok menengah dan menengah ke bawah yang merupakan sebagian besar masyarakat Indonesia.

Narkoba secara spesifik akan menimbulkan kesan tertentu pada individu, bila di peroleh kesan nikmat maka mudah terdorong untuk memakainya meski narkoba berdampak negatif. Dorongan ini disebut sugesti. Sugesti yang menahun dapat mencetuskan pola pikir adiktif yang irrasional dan emosional.
Tanda ketergantungan lainnya adalah toleransi, dan timbul gejala putus zat jika narkoba dihentikan, terutama pada ketergantungan narkotika. Pola pikir adiktif dan gejala putus zat cenderung menimbulkan perilaku antisosial sehingga berpengaruh terhadap kehidupan keluarga.

Dampak penyalahgunaan NAPZA dapat menyebabkan kerusakan fisik, mental dan sosial seseorang serta orang-orang dekat dengan yang bersangkutan. Soewandi ( Afiatin, 2001 ) meyatakan bahwa penyalahgunaan NAPZA pada remaja sering berakibat meningkatkan ketegangan dan kegelisahan sehingga dapat mengganggu belajar, cepat tersinggung, sukar tidur dan timbul gangguan tingkah laku, mereka menjadi mudah kecewa, tidak puas dengan kehidupannya, emosi menjadi labil dan tindakannya menjadi orang yang mudah dan cepat protes, menentang bahkan memberontak terhadap norma-norma yang seharusnya dipatuhi, mementingkan diri sendiri dan sering mengabaikan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat.

Dampak psikologis dan sosial pada penyalahguna NAPZA adalah (1) Emosi yang tidak terkendali (2) Kecenderungan berbohong (3) Tidak memiliki tanggung jawab (4) Hubungan dengan keluarga, guru dan teman serta lingkungan terganggu (5) Cenderung menghindari kontak komunikasi dengan orang lain (6) Merasa dikucilkan atau menarik diri (7) tidak peduli dengan nilai dan norma yang ada (8) Cenderung melakukan tindak pidana; kekerasan, pencurian dan mengganggu ketertiban umum ( Badan Narkotika Nasional ).

Penyalahguna NAPZA adalah pemakai obat secara sembarangan tanpa mengindahkan cara pakai yang benar sesuai petunjuk medis. Gejala dini penyalahguna NAPZA antara lain ketahanan fisik menurun, sifat mudah kecewa dan cenderung menjadi agresif dan destruktif, perasaan rendah diri, cenderung memiliki gangguan seperi kecemasan, menarik diri dari pergaulan, depresi, sangat sensitif ( mudah tersinggung, mudah marah dan sedih ), serta cepat curiga ( Badan Narkotika Nasional ).
Kerugian yang sangat besar akan dialami oleh para pemakai tanpa memilih jenis kelamin, status sosial ataupun usia seperti kerugian material dan immaterial. Kerugian tersebut juga sangat memungkinkan berdampak buruk bagi keluarganya, namun yang terpenting seorang pemakai / pecandu akan kehilangan semangat hidup dan masa depan yang sudah dapat dibayangkan adalah kematian, penjara atau penyakit-penyakit berbahaya seperti Hepetitis B dan C serta HIV/AIDS.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: