HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KECEMASAN PADA ANAK KELUARGA KORBAN DAERAH OPERASI MILITER (DOM) ACEH

Pendahuluan

Penderitaan panjang yang dialami masyarakat Aceh telah meninggalkan luka yang kasat mata karena ini merupakan luka fisik atau luka jiwa yang sulit untuk dipandang apalagi diraba. Trauma psikis yang dialami para korban DOM baik laki-laki atau perempuan, tua-muda bahkan anak-anak, terjadi karena berbagai peristiwa yang secara langsung maupun tidak langsung dialami, dilihat didengar bahkan dirasakan. Trauma psikis yang dialami para korban yang secara langsung mengalaminya seperti pada keluarga korban DOM tentu lebih berat, namun tidak tertutup kemungkinan terjadi pula pada mereka yang secara tidak langsung mengalami peristiwa tersebut.

Konflik yang terjadi selama diberlakukannya DOM di Aceh dengan segala dampaknya dapat menghambat perkembangan mental manusia terlebih pada anak-anak dari keluarga yang menjadi korban DOM. Sekarang ini, banyak sekali ditemui anak-anak yang mengalami lemahnya perkembangan mental dan pembentukan kepribadian karena faktor-faktor tertentu, seperti halnya anak-anak yang tinggal di daerah-daerah yang mengalami konflik. Bukan hanya anak-anak namun para orangtua, janda merasa cemas, takut dan trauma terhadap situasi seperti yang terjadi di Aceh baik yang secara langsung maupun tidak langsung menyaksikan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di Aceh. Kualitas kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Aceh sebagai hal yang sangat luar biasa, terencana, terorganisir dan sistematis serta menjurus pada pemusnahan peradaban etnis Aceh (Chaidar, 1999; Hasbullah, 1998; Eda & Dharma, 1999). Dalam hal ini, banyak anak-anak di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam khususnya di daerah yang pada tahun 1989-1998 diberlakukan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) kehilangan orang tua maupun saudara, maka anak-anak yang berada dalam situasi sulit seperti di Aceh terlebih pada masa DOM mempunyai hak asasi yang diakui secara universal serta hak untuk tidak dipisahkan dengan orang tuanya (Farza dalam Hasbullah, 1998).

Jumlah korban pada masa DOM (1989-1998), korban pembunuhan 1.321 orang, korban hilang 1.958 orang, korban perkosaan 128 orang, korban penyiksaan 3.430 orang, serta korban pembakaran sebanyak 597 kasus (Forum Peduli HAM Aceh dalam Eda & Dharma,1999). Efek dari tindak kekerasan dan pelanggaran HAM lainnya yang terjadi di Aceh adalah terhadap kesehatan mental masyarakat Aceh baik secara kognitif, afektif, fisik serta perkembangan rakyat Aceh secara sosial. KOMNAS HAM mencatat ada 15.000 sampai 20.000 anak yang menjadi yatim selama diberlakukanya DOM di Aceh, beberapa diantaranya mengalami secara langsung peristiwa traumatik yang merupakan akibat dari tindak kekerasan dan pelanggaran HAM selama diberlakukannya DOM di Aceh, mereka adalah M (pada tahun 1998 berusia 12 tahun) mengalami trauma psikologis serius, M sangat tertutup dan sungkan menceritakan pengalamannya terlebih pada orang yang baru dikenalnya, M sering marah-marah dan memukuli teman sebayanya tanpa sebab yang jelas. Z yang takut ketika melihat tentara dan takut ketika berbicara dengan orang lain karena pada waktu ia brusia 15 tahun, Z yang tertembak sewaktu pulang dari acara hiburan bersama anak-anak yang lainnya ditahan tanpa menerima perawatan sedikitpun. J (29 tahun saat ini) masih belum dapat melupakan peristiwa yang dialaminya yaitu ayahnya yang meninggal akibat pembantaian yang tidak bertanggung jawab oleh tentara dan sampai-sampai kursi yang masih memiliki bekas lubang peluru tidak pernah diganti, J sangat takut dan benci terhadap tentara (Eda & Dharma, 1999). Y pada usia 6 tahun melihat ayahnya yang dipukul, disepak, dihantam dengan senjata oleh tentara hingga kulit kepalanya sobek, membuat Y tidak dapat melakukan kegiatan apapun dan masih takut karena peristiwa itu sedang ibu Y meninggal karena sakit dan trauma yang dialaminya (Chaidar, 1999).

Akibat konflik Aceh yang berkepanjangan, korban banyak berjatuhan dan korban konflik itu pun bisa siapa saja dan tidak memandang apakah itu pejabat atau masyarakat biasa, seperti dari aparat militer, milisi GAM dan yang terbanyak adalah dari warga sipil yang tidak termasuk dalam dua kelompok yang bertikai itu, bahkan tokoh-tokoh masyarakat pun ikut menjadi korban konflik Aceh. Pelaku pembunuhan sulit dibuktikan, “orang tak dikenal” demikian istilah yang digunakan oleh media massa untuk menyebutkan pelaku pembunuhan atau pembantaian yang terjadi di Aceh. Siapa yang tidak takut? Sang pembunuh dapat membunuh siapa saja korbannya hanya karena alasan-alasan yang sepele, misalnya karena salah bicara, seorang aktivis maupun yang lain, mereka itu dijemput pada malam hari oleh orang-orang yang bersenjata yang sama sekali tidak dikenali dan dihilangkan nyawa dari mereka itu. Fenomena penemuan mayat sejak awal tahun 2000 terlihat semakin meningkat.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: