HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN KECENDERUNGAN FOBIA SEKOLAH PADA ANAK SEKOLAH DASAR

Pendahuluan

Pendidikan merupakan hal yang penting bagi perkembangan anak, pendidikan tersebut dapat diberikan secara formal maupun non formal. Pendidikan non-formal di dapat dari anak baru lahir sampai sepanjang rentang hidupnya baik di rumah maupun di lingkungan. Untuk pendidikan formal ada anak yang senang ketika harus bersekolah tapi ada juga anak yang menolak atau takut untuk masuk sekolah. Ketakutan anak untuk masuk sekolah biasa disebut dengan fobia sekolah. Fobia sekolah adalah keengganan bersekolah secara total atau sebagian dan dinyatakan dengan gejala fisik misalnya rasa mual, tidak ingin makan dan sedikit demam. Anak itu mungkin pergi ke sekolah lalu mengeluh tentang beberapa masalah somatik seperti sakit perut atau sakit kepala (Harlock.1993).

Gejala-gejala somatik yang dialami remaja yang takut sekolah akan hilang ketika orang tua mengijinkan anak tersebut untuk tetap berada dirumah. Gejala itu akan muncul lagi ketika akan berangkat ke sekolah begitu seterusnya. Takut sekolah berkembang pada anak yang lebih besar namun takut sekolah paling umum terjadi selama masa taman kanak-kanak dan empat tahun pertama sekolah dasar. Anak yang lebih besar menemukan bahwa rasa takut sekolah dianggap “kekanak-kanakan” karena itu anak-anak memproyeksikan kesalahan pada seseorang seperti sesuatu didalam situasi sekolah misalnya anak mengatakan tidak ingin sekolah karena tidak siap menghadapi ulangan, bahwa guru tidak menyukainya atau teman sekelasnya sering mengganggunya. Tanpa menyadari bahwa takut sekolah “berasal dari rumah” beberapa orang tua berusaha memindahkan anak itu ke kelas atau sekolah lain. Hal tersebut jarang berhasil karena kesulitan tidak terletak pada sekolah namun pada anak itu sendiri. (Harlock.1993).

Peristiwa yang terjadi di salah satu sekolah di Yogyakarta yaitu SD Syuhada anak yang berusia 6-7 tahun atau yang masih duduk di kelas 1 dan 2 menurut kepala sekolah SD tersebut masih ada murid-murid yang ditemani oleh pengasuhnya karena anak tersebut masih takut untuk berada di sekolah tanpa di temani penagsuh. Murid-murid tersebut di temani oleh pengasuh bukan orang tua anak tersebut. Menurut kepala sekolah hal tersebut pasti terjadi karena merupakan awal-awal tahun anak masuk sekolah.
Seperti contoh kasus berikut menunjukkan masalah fobia sekolah, seorang ibu yang sulit untuk membiasakan anaknya yang baru berusia 4,5 tahun , mengaku sangat sulit untuk membiasakan anaknya tersebut untuk masuk sekolah TK karena sangat sulit membiasakan putrinya tersebut untuk bangun pagi, segera mandi dan berangkat sekolah akibatnya putrinya tersebut kerap kali menangis jika berangkat sekolah. Selain cukup sulit untuk berangkat sekolah ketika sekolah pun putrinya tersebut harus ditemani selama berada di sekolah oleh ibu atau pengasuh, setelah berusaha menjelaskan bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan dan bukan tempat mengerikan (www.ayahbunda-online.com ).

Contoh kasus lain mengenai fobia sekolah sebagai berikut, seorang ibu sebut saja Ibu Dedeh (32 tahun) warga Bandung timur menuturkan sejak beberapa hari ini anaknya yang baru keluar dari sekolah Taman kanak-kanak (TK) uring-uringan bila diingatkan soal sekolah padahal saat beberapa hari setelah ikut perpisahan sekolah TK anak itu gembira dan bersemangat. Tidak ada alasan yang jelas mengapa tiba-tiba anaknya menjadi seperti itu. Berbeda dengan teman-temannya yang sudah mempersiapkan diri untuk masuk SD. (www.pikiranrakyat.com)

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: