HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DENGAN KECEMASAN PADA WANITA HAMIL PERTAMA

Pendahuluan

Kehamilan pertama merupakan babak baru dan memberi arti emosional yang sangat besar dalam kehidupan seorang wanita. Pengalaman baru ini menimbulkan perasaan bahagia dan penuh harapan juga kecemasan akan apa yang akan dialami selama kehamilan (Effendi&Tjahyono, 1999). Pada saat seorang wanita hamil untuk pertama kali, ia akan merasa bangga dan puas akan dirinya karena merasa dapat menjalankan tugas sebagai seorang wanita normal dan sebagai penerus generasi.

Namun walaupun kehamilan tersebut menimbulkan kebanggaan dan kebahagiaan, tetap saja kehamilan pertama merupakan ujian berat dan menimbulkan berbagai macam ketakutan (Kartono, 1992). Perasaan bahagia dan cemas yang dialami wanita saat hamil tidak selalu sama hanya pada satu hal tertentu saja, namun masing-masing individu mengalami perasaan dan kecemasan berbeda terhadap hal yang berbeda juga selama masa kehamilan. Hal ini dipengaruhi oleh bermacam hal, antara lain status pernikahan, status sosial ekonomi, tingkat pengetahun tentang kehamilan, pengalaman individu dalam menghadapi masalah, jenis kepribadian yang dimiliki, usia dan intelegensi (Effendi&Tjahyono, 1999 dan Dariyo, 1997).

Penulis telah melakukan wawancara terhadap dua wanita yang sedang hamil pertama. Tarmi, usia 24 tahun dan bekerja sebagai karyawati salah satu toko buku di Jogja. Wawancara dilakukan pada jum’at 2 Juli 2004 pukul 16.00-17.00 WIB di rumah Tarmi. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan diketahui bahwa Tarmi cemas terhadap siapa nantinya yang akan menjagai bayinya setelah lahir setelah masa cuti yang diberikan perusahaan tempat ia bekerja habis. Sedangkan suami Tarmi masih kuliah sehingga tidak dapat menjagai anak mereka sepanjang waktu. Untuk meminta bantuan keluarga juga tidak mungkin karena Tarmi dan suaminya tinggal jauh dari sanak saudara.

Wanita hamil lainnya yang diwawancarai oleh penulis bernama Puji usia 25 tahun. Wawancara Puji dilakukan minggu 11 Juli 2004 pukul 12.30-13.30 WIB di rumahnya. Puji merasa kecemasannya timbul pada saat malam hari apabila ia tidak dapat tidur karena kepanasan. Akibat kurang tidur tersebut ia merasa selalu ingin marah-marah walaupun tidak ada sebab yang jelas serta perasaan cemasnya jadi lebih meningkat. Kecemasan juga muncul saat Puji mengalami muntah-muntah yang amat sering. Ia khawatir bila kondisi muntah tersebut berlangsung lama akan menyebabkan bayi yang ada dalam kandungannya kekurangan zat gizi, selain juga perasaan lemas yang dialami Puji setelah muntah. Kecemasan lain yang timbul adalah rasa sakit yang akan dialami pada saat melahirkan nanti.

Dalam Ayahbunda No.12 edisi 17-30 juni 1995 juga dijelaskan beberapa faktor lainnya yang menjadi penyebab kecemasan timbul pada wanita hamil pertama:

1. Khawatir akan keadaan bayi
Calon ibu sangat mengkhawatirkan keadaan janin dalam kandungannya. Kekhawatiran itu berkisar pada apakah bayinya dalam keadaan sehat dan tumbuh dalam keadaan normal. Tidak heran bila ibu hamil sangat sering memeriksakan kehamilannya pada dokter kandungan. Hasil tes yang positif akan menentramkan hati ibu. Namun bila hasilnya tidak sesuai dengan yang di harapkan maka sebaliknya akan menambah kecemasan yang dialami, padahal hasil test tersebut belum tentu benar sepenuhnya. Masa menunggu hasil test biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama. Selama masa penantian hasil test tersebut, kecemasan yang dialami tentunya akan sangat tinggi. Misalnya, hasil pemeriksaan Amniosintesis (cairan ketuban) yang bertujuan untuk mengetahui apakah bayi cacat atau tidak membutuhkan waktu 3 minggu untuk mengetahui hasilnya. Berarti selama 3 minggu pula calon ibu menunggu dengan perasaan cemas.

2. Takut sakit sewaktu melahirkan
Proses melahirkan selalu dibarengi dengan rasa sakit. Namun, ada faktor lain yang mengakibatkan rasa sakit itu makin bertambah dari biasanya. Antara lain posisi bayi dalam kandungan, lamanya proses persalinan serta emosi ibu saat akan melahirkan.

Sejak dulu rasa nyeri melahirkan sudah menjadi pokok pembicaraan diantara para wanita. Banyak calon ibu yang menghadapi kehamilan dan kelahiran anaknya dengan perasaan takut dan cemas. Apalagi dalam kehamilan pertama, calon ibu belum memiliki pengalaman sehingga isu tentang rasa sakit saat melahirkan itu sangat mempengaruhi persepsi serta pola pikir ibu tentang melahirkan. Duapuluh tahun terakhir ini perhatian masyarakat terhadap ibu hamil tidak hanya ditujukan pada aspek fisik dan organik namun juga masalah psikis termasuk aspek emosional, karena diyakini bahwa sikap seorang wanita terhadap kehamilan dan persalinan akan mempengaruhi kelancaran proses persalinan (Hermawati dkk, 1994).

3. Khawatir tidak dapat menyusui sendiri
Tidak semua wanita yang melahirkan dapat menyusui bayinya dengan lancar terutama pada minggu-minggu pertama setelah kelahiran. Kendala yang dihadapi dan menyebabkan terganggunya proses menyusui antara lain karena kurangnya informasi yang diterima tentang proses menyusui yang baik, kurangnya dukungan moril dari lingkungan serta pengetahuan ibu yang kurang memadai tentang teknik menyusui yang benar.

4. Khawatir tidak dapat menjadi ibu yang baik
Naluri menjadi seorang ibu merupakan hal yang sudah dimiliki oleh setiap wanita. Namun karena belum pernah mengalami wanita hamil pertama menyangsikan apakah ia akan mampu merawat, menjaga dan memenuhi kebutuhan bayi dan hal-hal apa yang seharusnya dilakukan agar dapat menjadi ibu yang baik.

5. Khawatir terganggu hubungan suami istri
Proses kehamilan, persalinan dan menjadi seorang ibu mengakibatkan perubahan yang sangat besar dalam kehidupan seorang wanita. Perubahan fisik, psikis maupun peran dalam keseharian terjadi. Perubahan dan peran baru tersebut mengakibatkan kekhawatiran terganggunya hubungan dengan suami.
Selain hal-hal di atas, pertanyaan-pertanyaan seperti “apakah saya benar-benar menginginkan seorang bayi?”, atau “bagaimana saya dapat mengatasi keadaan bayi saya ?” atau “apakah saya dapat menjadi seorang ibu yang baik?”, sering kali sangat mengganggu ibu hamil. Menjadi orang tua baru merupakan perubahan besar dan memerlukan persiapan mental. Jika tidak ada persiapan yang matang maka kecemasan dan rasa tertekan karena merasa dikejar-kejar perasaan ketidakmampuan akan sangat dirasakan (Pries, 1987).

Menurut Kartono (1992) hal yang menjadi sumber kecemasan dan memperberat beban selama hamil pada wanita biasanya meliputi hal-hal seperti kesulitan keuangan dalam keluarga, beratnya tugas mengurus rumah tangga, selisih faham dengan anggota keluarga, konflik dengan suami, kelelahan jasmaniah, kebingungan akan apa yang terjadi, cemas karena tidak mendapatkan dukungan emosional, cemas karena cerita takhyul, takut menghadapi saat kelahiran bayi serta takut pada keselamatan dirinya dan bayi yang sedang dikandung.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: