HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DENGAN KECENDERUNGAN NEUROTIS PADA REMAJA

Pendahuluan

Kehidupan modern di berbagai bidang telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Persaingan yang keras dalam segala hal, perubahan-perubahan nilai sosial maupun merenggangnya hubungan antar pribadi akibat kesibukan yang terus-menerus telah menjadi warna kehidupan yang tengah memasuki era modernisasi. Banyak peristiwa yang tidak diinginkan seperti kegagalan, kehilangan sesuatu yang sangat berarti (misal pekerjaan, orang yang sangat dicintai atau prestasi) dan berbagai pengalaman yang tidak menyenangkan lainnya, telah menjadi bagian dalam kehidupan yang sering kali tidak dapat dihindari lagi. Bagi beberapa orang, keadaan semacam ini justru dapat menjadi suatu tantangan untuk menguji kemampuan diri. Namun pada kenyataannya tidak sedikit yang mengalami hal yang sebaliknya. Banyak yang menjadi mudah putus asa dan jatuh dalam keadaan tidak berdaya. Ada juga yang berpikiran pesimis, mudah cemas dan mengalami kesulitan berkonsentrasi. Situasi yang demikian ini dengan sendirinya dapat menyebabkan frustrasi, gangguan batin dan macam-macam penyakit mental, salah satunya adalah gangguan neurotis.

Istilah neurotis diciptakan pada tahun 1769 oleh seorang pakar dari Inggris, William Cullen yang mengira bahwa neurotis sekadar gangguan dalam sistem syaraf. Kira-kira dua abad kemudian, Sigmund Freud mengemukakan bahwa sumber neurosis adalah konflik batin (intrapsychic conflict). Sebaliknya kaum behavioris berpendapat bahwa sumber neurotis adalah cara belajar yang keliru (faulty learning) dalam menghindari kecemasan. Inti neurotis adalah gaya hidup maladaptif berupa tingkah laku yang bersifat defensif dengan tujuan untuk menghindari atau mengurangi rasa cemas (Supratiknya, 1995).

Penderita neurotis memiliki sifat menolak atau menghindari kesulitan atau sesuatu yang dianggap berbahaya bagi dirinya sebagai contoh ia tidak akan memilih jenis aktivitas yang dianggap banyak resikonya. Selain itu juga adanya rasa rendah diri disebabkan kurangnya percaya diri akan potensi dirinya sehingga individu tersebut lebih memilih untuk menghindari tantangan daripada menghadapinya. Penderita neurotis juga memiliki sifat kaku, kurang fleksibel dalam hal pemecahan masalah atau dapat dikatakan kurang memiliki insight dalam mengatasi masalah yang dihadapinya, juga timbul suatu kondisi dimana orang neurotis tersebut kesulitan dalam menjaga hubungan sosial dengan lingkungannya, Penderita neurotis akan mudah merasa bersalah bila telah melakukan kesalahan, bahkan rasa bersalah ini akan mengakibatkan gangguan mental yang lebih parah seperti depresi berat (Supratiknya, 1995).

Kenyataan yang ada menunjukkan masih banyak individu yang tidak mampu menghadapi tekanan dan permasalahan hidup sehingga menyebabkan timbulnya emosi negatif sehingga individu tersebut tidak mampu mencapai kedewasaan psikis, mudah putus asa, tidak mempunyai semangat hidup, merasa bahwa dirinya tidak berarti lagi dan bahkan ada keinginan untuk bunuh diri. Tiga bulan terakhir dalam tahun 2003 terdapat 30 kasus bunuh diri, masing-masing 5 kasus di bulan Oktober, November 11 kasus dan Desember 14 kasus dan kebanyakan dari pelaku bunuh diri adalah remaja. Bunuh diri yang banyak dilakukan oleh remaja disebabkan oleh cara pandang mereka yang sempit terhadap masalah yang dihadapi sehingga mereka mengalami tekanan dan depresi yang mengakibatkan munculnya keinginan bunuh diri. Kasus lain seperti kasus gantung diri yang dilakukan oleh enam warga Ponorogo dan kasus gantung diri ini telah menjadi fenomena baru di Pononogo. Modus yang selama ini terungkap, selain akibat pelaku menderita sakit ingatan juga karena depresi berat (Jawa Pos, 2004).

Kasus yang terjadi disekolah sekolah pada umumnya adalah kenakalan siswa yaitu : membolos, merokok di sekolah, perkelahian, dan pelanggaran aturan sekolah. Salah satu sekolah yang siswa siswinya bermasalah adalah SMU N 1 Wuryantoro. Di peroleh data dari guru BP SMU N 1 Wuryantoro pada bulan Januari hingga Agustus 2004 bahwa 50 % masalah siswa adalah membolos, 20 % nya berkelahi dan tawuran sedangkan sisanya 30 % sisanya berupa pelanggaran pelanggaran aturan sekolah lainya antara lain merokok di sekolah, melanggar aturan seragam sekolah , dan lainnya.

Gangguan neurotis dapat disebabkan oleh pengalaman kegagalan yang berulang ulang selama jangka waktu lama. Individu mungkin telah berusaha keras untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan yang berarti bagi dirinya, tetapi tidak berhasil, mungkin orang lain tidak menerima ataupun memahami apa yang diusahakan oleh individu tersebut, atau mungkin ketidakcakapan pribadi membuat tujuan tersebut tidak tercapai. Hal ini berarti kemampuan atau kecakapan pribadi individu berpengaruh terhadap munculnya gangguan neurotis, salah satunya adalah kemampuan individu mengelola emosi diri atau yang sering dikenal dengan kecerdasan emosi (Eason dalam Mussen dkk, 1989).

Kecerdasan emosi berarti belajar menilai rangsangan yang menimbulkan emosi sebelum bereaksi dan belajar mengekspresikan emosi dalam pola perilaku yang dapat diterima secara sosial (Hurlock, 1996). Kecerdasan emosi inilah yang sekiranya diperlukan oleh individu dalam menghadapi masalah sehari-hari. Tujuan pengendalian emosi adalah keseimbangan emosi, bukan menekan emosi karena setiap perasaan mempunyai nilai dan makna, yang dikehendaki dalam hal ini adalah emosi yang wajar, keselarasan antara perasaan dan lingkungan. Apabila emosi terlampau ditekan, terciptalah kebosanan dan jarak, bila emosi tidak dikendalikan, terlampau ekstrem dan terus menerus, emosi akan menjadi sumber penyakit, seperti depresi berat, cemas berlebihan, amarah yang meluap-luap serta gangguan emosi yang berlebihan atau mania (Goleman, 1997).

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: