HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN NASIONAL PADA SISWA KELAS III SMU

Pendahuluan

Dunia pendidikan diperlukan untuk mempersiapkan generasi muda agar menjadi sumber daya manusia (SDM), yang mampu bersaing dalam era persaingan bebas. Pendidikan sangat terkait dengan adanya sistem pendidikan yang diterapkan, karena sistem pendidikan memainkan peranan penting dalam menciptakan peserta didik yang berkualitas, tangguh, kreatif, mandiri dan profesional.
Sistem pendidikan nasional Indonesia adalah pendidikan yang berdasarkan pada pencapaian tujuan pembangunan nasional Indonesia. Sistem pendidikan nasional (sisdiknas) merupakan satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang saling berkaitan untuk mengusahaan tercapainya tujuan pendidikan nasional (Tirtarahardja, 2005).

Dalam dunia pendidikan, evaluasi memegang peranan yang amat penting. Dari evaluasi itu para pengambil keputusan pendidikan mendasari diri dalam memutuskan apakah seseorang siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak serta layak diberikan sertifikasi atau tidak. Tanpa evaluasi tidak dapat diketahui sejauhmana keluaran pendidikan telah sesuai atau bahkan menyimpang dari tujuan awal yang telah dicanangkan. Evaluasi yang dilakukan secara benar akan banyak manfaatnya karena dari hasil evaluasi itu akan diperoleh umpan balik yang berharga bagi masukkan maupun proses pendidikan (Hisyam, 2000). Terkait dengan persoalan diatas, belum lama ini banyak terdapat perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem evaluasi belajar di Indonesia.

Sejak tahun ajaran 2002/2003, pemerintah mengganti Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) menjadi Ujian Akhir Nasional (UAN) sebagai tolak ukur atau parameter akhir dari proses pendidikan. Sistem UAN diberlakukan pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Umum (SMU), Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sedangkan mata pelajaran yang diujiankan hanyalah matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dalam mekanisme Ujian Nasional yang diselenggarakannya, pemerintah telah mematok standar nilai kelulusan 3,01 pada tahun 2002/2003 menjadi 4,01 pada tahun 2003/2004 dan 4,25 pada tahun 2004/2005. Ini menimbulkan kecemasan psikologis bagi peserta didik dan orang tua siswa. Siswa dipaksa menghafalkan pelajaran-pelajaran yang akan diujikan di sekolah ataupun di rumah (Koran Tempo, 4 Februari 2005).

Selanjutnya pada tahun pelajaran 2005/2006, UAN berganti istilah menjadi Ujian Nasional (UN). Kebijakan yang berlaku juga berbeda dari tahun ke tahun sebelumnya. Nilai minimal standar kelulusan yang semula 4.25 dinaikan menjadi 4,26 untuk nilai setiap mata pelajaran dan rata-rata nilai ujian nasional harus lebih dari 4,5. ini berarti nilai ketiga mata pelajaran jumlahnya minimal harus 13,5. kebijakan ini sesuai dengan PP No.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Apabila tidak lulus pada ujian tersebut, siswa peserta harus mengulang ujian pada Ujian Nasional tahun berikutnya (Pikiran Rakyat, 19 Oktober 2005).

Untuk tahun ajaran 2006/2007, Menteri Pendidikan Nasional membuat peraturan standar kelulusan baru. Pada aturan baru itu, semua siswa dinyatakan lulus dengan syarat nilai ujian nasional (UN)-nya minimal 5,0 dan nilai ujian sekolah (US)-nya minimal harus 6,0. Padahal, pada tahun ajaran sebelumnya, siswa dinyatakan lulus hanya dengan melihat nilai UN-nya saja. Karena itu, Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) menilai, aturan standar kelulusan baru itu memberatkan siswa. ”Peraturan standar kelulusan baru tersebut semakin merampas hak guru untuk memberikan penilaian dan menentukan kelulusan pada siswa,” ujar Sekjen FGII, Iwan Hermawan, Kamis (21/12). Ini berarti guru tidak memiliki hak untuk menentukan kelulusan karena UN dan US ditentukan oleh pemerintah. Padahal, berdasarkan peraturan pemerintah (PP) No 19/2005, peraturan yang berhubungan dengan akademik seharusnya diputuskan oleh rapat Dewan Pendidikan.

Untuk mata pelajaran yang di-UN-kan dan harus diikuti oleh siswa IPS adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Ekonomi/Akutansi. Sedangkan mata pelajaran yang di US-kan, adalah Geografi, Sosiologi, Sejarah, PPKN, Olahraga, Kesenian, Agama dan Matematika. Sedangkan mata pelajaran UN untuk siswa IPA adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika. Untuk US-nya, mata pelajaran yang harus diikuti siswa adalah Fisika, Biologi, Kimia, PPKN, Agama, Olahraga, Kesenian dan Sejarah (http://www.republika.co.id/).

Perubahan penggantian Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) menjadi Ujian Akhir Nasional (UAN) berfungsi sebagai pendorong peningkatan mutu pendidikan yang dikembangkan dari tahun ke tahun, sehingga diharapkan terjadi perbaikan kualitas kelulusan peserta peserta didik. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2005, Ujian Nasional adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Satu Tanggapan

  1. saya pengen download skripsi dengan judul “hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan menghadapi ujian nasional pada siswa kelas 3 SMU” diatas ko ga bisa y? saya butuh nama penulis skripsinya tuk dijadikan daftar pustaka, karna ada bahan yg kuambil dr pendahuluan skripsi itu. terimakasih. ini alamat email saya “sweet.dholpin@yahoo.com” ditunggu balasannya

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: