HUBUNGAN ANTARA KESEHATAN MENTAL DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU AGRESIF PADA MAHASISWA DALAM AKSI DEMONSTRASI

Pendahuluan

Kegiatan aksi mahasiswa ada yang terjadi dalam situasi damai dan pawai serta ada pula dalam situasi penuh kericuhan ataupun kekacauan. Ada beragam dorongan untuk melakukan aksi, seperti aksi mengutuk pelaku tragedi BOM di Hotel J. W. Marriot, aksi penolakan Akbar Tanjung, dan lain sebagainya. Kasus mengutuk aksi BOM di Hotel J. W. Marriot yang dilakukan oleh ratusan mahasiswa di Tugu Proklamasi Jakarta Pusat dengan maksud memberi tekanan moral kepada para pemimpin bangsa agar bersungguh-sungguh membersihkan KKN berlangsung damai. Kasus penolakan kasasi Akbar Tanjung yang dilakukan oleh ribuan mahasiswa di depan Gedung MA diwarnai kericuhan, aksi dorong, bahkan sampai mengakibatkan 15 orang terluka (www.suarametro.com, 13 Agustus 2003). Perilaku-perilaku tersebut merupakan contoh dari perilaku agresif yang muncul dalam aksi demonstrasi.

Peristiwa seperti yang dinyatakan oleh Ketua Eksekutif Mahasiswa IAIN Jakarta, Burhanuddin, yang diberitakan dalam Tempo Interaktif (17 Februari 2001) bahwa gerakan mahasiswa sulit untuk disatukan yang disebabkan sejak dulu mahasiswa selalu terkelompok dan terpolarisasi. Mahasiswa memiliki banyak ide dalam melihat suatu masalah, dan ide-ide tersebut memiliki dasar yang kuat. Contohnya, saat mahasiswa menuntut Presiden Gus Dur untuk mundur dari jabatannya. Mahasiswa melihat bahwa kenyataan yang dijanjikan Presiden Gus Dur untuk memberantas KKN pada rakyat tidak sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Presiden saat itu, dimana Presiden Gus Dur terlibat dalam kasus dana Bulog dan Brunei. Kondisi tersebut menyebabkan mahasiswa berontak dan mengadakan aksi unjuk rasa. Hal ini memberi fakta bahwa harapan tidak sesuai dengan kenyataan dan bisa menimbulkan perilaku agresif yang secara tidak langsung dilakukan oleh mahasiswa.

Bentrokan fisik, kekacauan, maupun kericuhan yang sering mewarnai aksi demonstrasi mahasiswa memang ada di antara mahasiswa. Mahasiswa berperilaku menyimpang dari tata nilai masyarakat menurut Sarlito (Ancok dan Matulessy, 1997) karena adanya frustrasi dalam diri mahasiswa. Mahasiswa sebagai intelektual muda yang seharusnya mampu mengatasi masalah-masalah yang terjadi di lingkunganya, namun pada kenyataannya tidak, akhirnya mahasiswa melakukan kegiatan aksi demonstrasi yang tak jarang disertai perilaku agresif. Lantang (2003) menyebutkan bahwa setiap kali aksi demonstrasi terjadi di negeri ini aksi kekerasan dan bentrokan nyaris tak terelakkan, seolah-olah pola itu menjadi aktivitas ikutan dan wajar dari perhelatan demokrasi.

Brigham (1991) mendefinisikan agresi sebagai perilaku yang bertujuan melukai orang lain secara fisik dan psikologik, dan orang yang bersangkutan tidak menginginkan perilaku tersebut. Aronson (1976) menggunakan agresi untuk menyatakan suatu tindakan yang menyakiti atau melukai orang lain.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: