HUBUNGAN ANTARA KETERAMPILAN SOSIAL ANAK DENGAN KECEMASAN MASUK SEKOLAH

Pendahuluan

Masa awal anak-anak (early childhood) merupakan periode perkembangan yang merentang dari akhir masa bayi hingga usia kira-kira 5 atau 6 tahun. Pada masa ini anak mulai belajar untuk mandiri, mengembangkan berbagai keterampilan seperti pengenalan huruf, mematuhi perintah, dan juga menghabiskan waktu dengan bermain terutama teman sebayanya. Periode ini disebut juga “tahun-tahun prasekolah” karena merupakan masa persiapan bagi anak untuk memasuki sekolah dasar (Santrock,1995).

Taman Kanak-Kanak merupakan tempat yang tepat bagi anak-anak untuk mempersiapkan dirinya sebelum masuk ke sekolah dasar. Taman Kanak-Kanak merupakan salah satu media yang bisa menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak dalam mengembangkan fungsi intelektual dan potensi lain yang dimilikinya. Selain itu, anak akan mulai belajar untuk dapat menguasai lingkungan sosial yang lebih luas daripada lingkungan keluarga (Kartono,1990).

Pertama kali anak memasuki lingkungan baru diantaranya Taman Kanak-Kanak, umumnya mereka mengalami ketakutan dan juga kekhawatiran. Manifestasi dari perasaan takut ini bisa menimbulkan macam-macam gejala gangguan, antara lain berupa: kejang atau sakit pada perut, sering buang air besar, sering kencing, sakit kepala, dan timbulnya tics (gerak-gerak facial pada wajah; misalnya mengedip-ngedipkan mata terus menerus, menggeleng-gelengkan kepala, mengerenyit-ngerenyitkan alis, menyengir-nyengirkan bibir dan hidung, dan lain-lain) atau anak jadi cepat marah/agresif. Ada kalanya anak juga jadi pemurung dan penakut (Kartono, 1990).

Hasil Survey awal yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa pada minggu-minggu pertama anak memasuki Taman Kanak-Kanak, beberapa anak menangis karena harus berpisah dengan orangtuanya, anak tidak ingin ditinggal orangtuanya, anak menjadi pendiam dan pemalu, dan juga anak datang ke sekolah dengan wajah murung. Fenomena ini tidak hanya terjadi Indonesia, tetapi juga di Amerika Serikat, dimana banyak ditemui anak-anak yang mengeluh dan menolak untuk pergi ke sekolah.

Penolakan tersebut ditunjukkan dengan munculnya keluhan anak seperti sakit perut setiap senin pagi, anak terlihat enggan dan harus dipaksa berangkat ke sekolah, anak dengan sengaja melupakan sesuatu supaya terlambat pergi ke sekolah, anak sering berkata benci sekolah atau tidak ingin berangkat sekolah dan ketika berada di sekolah selalu mengatakan ingin pulang (D’Alessandro & Huth, 2002).

Perilaku anak yang muncul terkait dengan penolakan untuk pergi ke sekolah jika berlangsung dalam waktu yang panjang dan terjadi pada usia pertumbuhan bukanlah suatu hal yang bisa dianggap ringan tetapi mengarah pada masalah yang lebih serius. Salah satunya adalah perasaan cemas yang dialami saat akan masuk ke sekolah dan berdasarkan data penelitian tahun 2003 di Amerika Serikat menunjukkan bahwa gangguan kecemasan adalah salah satu bentuk penyakit jiwa terbanyak yang dialami oleh anak-anak dan 10% diantaranya membutuhkan perawatan medis (Kruger, 2003).
Jadi dari data di atas, resiko anak-anak prasekolah di Amerika Serikat untuk terkena gangguan kecemasan bisa naik diatas 10%. Kecemasan ini sendiri dapat berpengaruh negatif pada diri anak dalam jangka panjang, diantaranya adalah hilangnya kepercayaan diri, sulit untuk bersosialisasi, perasaan tidak berdaya, anak terlihat menjadi pemurung, selalu diliputi perasaan khawatir dan sebagainya. Mengingat dampak negatif yang disebabkan kecemasan masuk sekolah, maka akan dibahas arti dari kecemasan masuk sekolah dan juga faktor yang mempengaruhinya.

Kecemasan masuk sekolah secara sederhana dapat diartikan sebagai bagian dari kecemasan umum akibat rasa takut berpisah dari ibu atau pengganti ibu, dan ketidakmampuan berdiri sendiri (Hurlock, 1993). Sedangkan Menurut Kendall, Howard & Epps (dalam Goldstein,1995) menyatakan bahwa kecemasan yang dialami oleh anak-anak dapat berpengaruh pada peran anak di rumah, sekolah ataupun teman sebayanya. Mengatasi dan menghindari rasa cemas ini anak-anak menggunakan berbagai macam teknik atau cara, diantaranya adalah dengan memilih untuk tetap tinggal di rumah daripada pergi ke sekolah yang didasarkan pada alasan-alasan yang negatif.

Kecemasan yang selalu melekat pada pikiran anak-anak biasanya disebabkan adanya gangguan-gangguan yang datang dari sekolah. Anak mencoba untuk menghindari gangguan tersebut dengan menolak untuk pergi ke sekolah. Meskipun demikian, penolakan untuk pergi ke sekolah tetap merupakan perilaku yang negatif pada anak-anak (Goldstein,1995) .

Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa salah satu penyebab anak-anak mengalami kecemasan masuk sekolah adalah adanya sesuatu yang mengganggu mereka, antara lain adanya permasalahan pada guru atau dengan teman, ketidakmampuan belajar, perubahan di rumah, tidak ingin ditinggalkan oleh orangtua, perasaan malu, merasa gugup di sekolah, kelas atau situasi sekolah yang baru, tugas-tugas sekolah yang terlalu mudah dan membosankan, tugas-tugas sekolah yang terlalu sulit dan membuat frustrasi (D’Alessandro & Huth, 2002). Hal ini sejalan dengan pendapat Hurlock (1993) yang mengatakan bahwa rasa cemas akan cenderung meningkat bila tiba saatnya pergi ke sekolah dan beberapa aspek situasi sekolah yang dianggap tidak menyenangkan oleh anak.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: