HUBUNGAN ANTARA KONFLIK ORANGTUA DENGAN DEPRESI PADA REMAJA

Pendahuluan

Remaja merupakan penerus cita-cita bangsa dan negara yang diharapkan mampu mengemban tugas untuk menciptakan masyarakat yang tentram dan sejahtera. Remaja yang sedang tumbuh dan berkembang perlu didukung dengan kondisi dan situasi yang mendukung agar dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sehingga dapat menjadi manusia dewasa yang mempunyai kepribadian yang tangguh dan mampu melaksanakan tugas dan kewajiban yang diberikan oleh bangsa dan negara.

Ternyata pada beberapa tahun terakhir ini ada juga remaja yang mengalami depresi dikarenakan perubahan yang begitu cepat dalam lingkungan masyarakat dan keluarga. Menurut Hops dan Lewinston (Siswanto dan Prawitasari, 2003) menyebutkan bahwa gangguan depresi pada kelompok remaja diperkirakan 20% dari populasi yang ada di Amerika Serikat selama periode satu tahun atau dengan jumlah 17,6 juta penduduk Amerika dewasa atau 10% dari populasi menderita penyakit depresi. Berdasarkan dari data tersebut maka Hops dan Lewinston menyimpulkan bahwa gangguan depresi merupakan masalah psikologis yang paling penting untuk ditangani.

Penelitian yang dilakukan di Indonesia oleh Sani (Widyowati, 2003) menemukan bahwa prevelensi gangguan depresi pada remaja perempuan mencapai 10.71% (sepuluh koma tujuhpuluh satu persen) dan pada remaja laki-laki 8.33% (delapan koma tigapuluh tiga persen) untuk kelompok umur 15 – 17 tahun. Pada kelompok umur 17 – 20 tahun, prevelensi depresi pada remaja perempuan mencapai 4.54% (empat koma limapuluh empat persen) dan 6.25% (enam koma duapuluh lima persen) pada remaja laki-laki.

Penelitian yang dilakukan di Yogyakarta oleh Dra Sofia Retnowati MS mengatakan, untuk mencegah dan menangani depresi pada remaja perlu diberi program pelatihan yang bertujuan untuk memperkokoh kepribadian siswa serta meningkatkan dukungan sosial dari teman dan orang tua. Dari analisis data demografi yang disusunnya, dari 3.183 remaja yang diteliti, 2.586 remaja di antaranya atau kurang lebih 81% mengalami gejala depresi pada kategori sedang sampai tinggi. Banyak hal yang bisa menjadi penyebab timbulnya depresi pada remaja. Putus hubungan dengan pacar, kematian orangtua atau sahabat, kegagalan disekolah, proses pendewasaan yang sedang terjadi seperti masalah hormonal, konflik orangtua, dan sebagainya. Sementara remaja perempuan lebih rentan terhadap depresi, dan depresi remaja di desa lebih tinggi dibandingkan dengan di kota. Pengalaman remaja yang paling mendukung munculnya depresi adalah perceraian orang tua (Suara merdeka, 2005).

Masalah dalam keluarga dapat berupa pertengkaran ayah-ibu seringkali membuat anak merasa kurang tenang dan tenteram di dalam rumahnya sendiri. Kemampuan ekonomi keluarga juga dapat menjadi sumber masalah bagi remaja karena mereka sudah mulai mengerti akibatnya bagi dirinya dan ikut merasa bertanggung jawab. Masalah pertengkaran dengan saudara juga dapat membuat remaja tidak nyaman berada di rumah. Suasana rumah yang kurang mendukung, dapat membuat remaja merasa ‘sumpek’ dan tidak betah berada di rumah. Masalah yang muncul di atas berkaitan dengan suasana psikologis dan suasana fisik pengaturan rumah. Suasana yang membawa emosi sedih, takut, cemas, marah di rumah dapat berakibat masalah remaja yang lebih serius bila tidak segera ditangani, misalnya melarikan diri, terpengaruh hal-hal buruk dari teman sebaya, dan perkembangan emosi yang tidak baik. Suasana ini juga tidak memungkinkan remaja untuk dapat belajar dengan optimal (bkkbn.go.id, 2001).

Pada dasarnya depresi merupakan salah satu bentuk gangguan alam perasaan yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna dan berputus asa. Beck (1985) memberi batasan depresi berdasarkan sifat-sifat yang menyertai, yaitu gangguan kejiwaan yang ditandai dengan munculnya simtom-simtom depresi yang dapat dilihat dari manifestasinya, yaitu simtom emosional, motivasional, kognitif dan fisik vegetatif serta tingkat aktivitas.
Para peneliti menemukan bahwa tingginya angka depresi pada remaja terkait dengan meningkatnya angka perceraian, setidaknya di Amerika ada tiga juta remaja mengalami depresi (Aditomo dan Retnowati, 2004).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: