HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI AKADEMIK DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN NASIONAL

Pendahuluan

Indonesia saat ini sangat membutuhkan sumber daya manusia berkualitas, siap pakai dan mampu menghadapi tantangan. Persaingan antar bangsa yang semakin nyata serta agenda pembangunan menuntut sumber daya manusia yang memiliki kualitas tinggi yang tidak hanya mampu bersaing dalam lingkungan nasional melainkan juga dalam dunia internasional. Keberhasilan pemerintah kita meluaskan akses pendidikan selama lebih dari tiga dekade sungguh monumental secara komparatif internasional. Tetapi harus kita akui pula bahwa pada aspek kualitas sungguh tidak terkendali Oleh karena itu peningkatan mutu pendidikan perlu mendapat perhatian yang besar. Pemerintah, dalam hal ini Departemen pendidikan dan kebudayaan, menjadikan peningkatan mutu pendidikan sebagai prioritas.

Guna mengangkat mutu pendidikan Indonesia pada tataran persaingan global, pemerintah Indonesia memutuskan untuk menaikkan standar kelulusan ujian nasional (UN) pada jenjang SLTP dan SLTA dari nilai kelulusan dari minimal 3,01 pada tahun 2003 menjadi 4,01 pada UAN tahun 2004, dan 4,26 pada ujian nasional tahun 2005 hal ini dilakukan agar siswa dan guru segera terpacu untuk belajar dan bekerja keras sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh UU nomer 20 tahun 2003. Pemerintah beralasan, peningkatan standar minimal untuk syarat kelulusan menjadi salah satu upaya mendongkrak mutu pendidikan yang kini terpuruk sehingga dapat disejajarkan dengan kualitas di negara-negara lain. Ujian Nasional yang diberlakukan secara nasional menjadi standar mutu secara nasional pula. Bagi pendukung kebijakan tersebut, batas nilai minimal 4,26 sebagai kriteria kelulusan dinilai cukup strategis dan relevan sebagai starting point untuk mendongkrak mutu pendidikan yang dianggap sudah berada di ambang batas mengkhawatirkan.

Didalam usaha peningkatan mutu pendidikan tersebut, prestasi belajar sebagai salah satu tolak ukur peningkatan mutu pendidikan banyak mendapat sorotan salah satu sumber informasi penting dalam pengukuran prestasi belajar dalam pendidikan formal tidak disangsikan lagi. Betapapun jelasnya suatu tujuan pendidikan yang telah digariskan, tanpa usaha pengukuran maka mustahil hasilnya dapat diketahui. Tidak layak untuk mengaitkan adanya suatu kemajuan atau keberhasilan program pendidikan tanpa peningkatan atau pencapaian, inilah yang harus diambil dari pengukuran prestasi belajar secara terencana. Salah satu cara untuk mengukur prestasi belajar tersebut adalah dengan memberikan siswa ujian yang dalam hal ini adalah ujian nasional

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan, UN tetap diperlukan sebagai bahan acuan untuk memetakan mutu pendidikan di Indonesia. Jika tidak dievaluasi, tidak akan diketahui sudah sejauh mana mutu pendidikan. Evaluasi pendidikan itu harus menggunakan parameter yang sama di seluruh Indonesia. Hal senada dikatakan Ketua Dewan Pendidikan Semarang Dr. Rasdi Ekosiswoyo, M.Sc. Ia mengatakan tanpa ada UN, pemerintah kesulitan melakukan pemetaan mutu secara tepat masing-masing sekolah di daerah meski kurikulum yang digunakan mengacu Depdiknas. Dengan adanya UN, sekolah dan siswa paling tidak mengetahui posisi kualitas mereka dalam lingkup pendidikan nasional. Sementara itu, Ketua Lembaga Studi Pembangunan Indonesia (LSPI) Yogyakarta Prof. Dr. Ki Supriyoko mengatakan, UN dapat digunakan sebagai upaya standardisasi pendidikan nasional dan ujian tersebut dapat memotivasi siswa, orangtua, guru, dan pihak lainnya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa secara maksimal. Selain itu, belum semua sekolah di Indonesia siap melaksanakan ujian sendiri dengan berorientasi pada mutu pendidikan, sehingga UN tetap diperlukan (Bali Post, 2005)

Ujian merupakan evaluasi proses belajar untuk menilai apakah seseorang telah benar-benar memahami dan mnguasai ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya. Ebel dalam Azwar (1987) berpendapat bahwa, fungsi utama tes dikelas adalah mengukur prestasi belajar siswa. Yang dimaksud dengan tes adalah ujian tengah semester ataupun ujian akhir semester. Sampai saat ini nilai tes dipercayai dan diyakini sebagai cerminan dari apa yang telah dicapai oleh siswa dalam belajar. Bagi siswa itu sendiri nilai tes seringkali menjadi tujuan utama yang harus diraih. Siswa pada umumnya mempunyai persepsi bahwa suatu nilai tes yang baik merupakan tanda hasil pencapaian belajar yang tinggi dan demikian pula sebaliknya.

Berdasarkan hal tersebut satu-satunya indikator terpenting sehingga nilai ujian itu pulalah yang menjadi target usaha mereka dalam belajar. Masyarakat juga selalu menilai keberhasilan seorang siswa hanya semata-mata berdasarkan nilai ujian, indeks prestasi dan rangking siswa yang bersangkutan.
Perolehan nilai ujian tinggi memang mutlak bagi siswa sekolah menengah atas untuk dapat lulus, berdasarkan hal tersebut maka pihak sekolah dan orangtua memacu siswa sedemikian rupa agar memperoleh hasil optimal dan pada akhirnya nanti dapat memperoleh NEM tinggi dan dapat lulus dengan baik.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: