HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN KETERGANTUNGAN DENGAN KECENDERUNGAN ANOREKSIA NERVOSA PADA REMAJA PUTRI

Pendahuluan

Tiap individu dalam proses kehidupannya akan melewati beberapa tahap perkembangan, mulai dari masa pre-natal, masa bayi, masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa, dan masa lanjut usia. Monks (1994) mendefinisikan perkembangan psikologis sebagai suatu proses yang dinamis dimana sifat individu dan sifat lingkungan menentukan respon individu terhadap stimulus yang ia terima. Perkembangan sendiri dapat diartikan sebagai suatu proses yang akan dialami oleh setiap individu menuju ke arah tingkat perkembangan yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pemasakan dan belajar.

Setiap tahap perkembangan, terdapat tugas-tugas khusus yang harus dilalui dan diselesaikan dengan baik oleh setiap individu, di mana tugas pada setiap tahap perkembangan memiliki ciri dan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Havighurst (Monks, 1994) mengemukakan bahwa perjalanan hidup seseorang ditandai oleh adanya tugas-tugas yang harus dapat dipenuhi. Tugas ini memiliki kekhasan masing-masing pada tiap tahap perkembangannya. Havighurst menyebutnya sebagai developmental task (tugas perkembangan) yaitu tugas yang harus dilakukan seseorang dalam masa hidup tertentu sesuai dengan norma masyarakat dan norma kebudayaan.

Monks (1994) mengungkapkan bahwa masa remaja memiliki batasan yang kurang jelas dengan masa kanak-kanak maupun dengan masa dewasa awal, meskipun ada ciri-ciri khas masa remaja yang jelas berbeda dengan masa kanak-kanak dan yang kurang jelas berbeda dengan masa dewasa awal.

Selanjutnya, Monks (1994) mengemukakan bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status orang dewasa tapi tidak lagi memiliki status anak-anak. Secara tidak langsung sikap orang tua turut menjadi salah satu faktor yang membuat remaja merasa bingung akan tempatnya di lingkungan sosial. Contohnya, saat anak tidak mau membereskan kamarnya, maka orang tua akan mengatakan bahwa dia sudah besar sehingga harus mulai membereskan kamarnya sendiri; tapi di lain waktu orang tua akan mengatakan bahwa mereka tidak boleh mencampuri urusan orang tua karena mereka masih kecil. Kondisi inilah yang membuat remaja menjadi bingung akan identitas/tempatnya di masyarakat.

Masa remaja ini jugalah setiap individu akan mengalami perubahan kondisi dan ciri fisik yang menunjukkan seorang anak menjadi matang secara biologis dan mampu melakukan reproduksi seksual, tahap ini lebih dikenal dengan masa pubertas. Mappiare (1982) mengemukakan “pubertas” berasal dari kata latin yang berarti usia menjadi orang; suatu periode di mana anak dipersiapkan untuk mampu menjadi individu yang dapat melaksanakan tugas biologis berupa melanjutkan keturunannya atau berkembang biak.

Monks (1994) mengemukakan masa pubertas ditandai oleh perkembangan seksual berupa tanda-tanda kelamin primer dan tanda-tanda kelamin skunder. Tanda kelamin primer menunjuk pada organ tubuh yang secara langsung berhubungan dengan persetubuhan dan proses reproduksi, sedangkan tanda kelamin skunder berupa tanda-tanda jasmaniah yang tidak berhubungan langsung dengan proses reproduksi; misalnya pada anak laki-laki ditandai dengan bahu yang lebar dan pada anak perempuan ditandai dengan panggul yang lebar dan pertumbuhan payudara. Tanda awal dimulainya masa pubertas pada anak laki-laki biasanya ditandai dengan mimpi basah dan pada anak perempuan ditandai dengan menstruasi. Selain pertumbuhan fungsi organ seksual, remaja juga mengalami perubahan kondisi fisik berupa pertumbuhan tinggi dan berat badan.

Monks (1994) mengungkapkan bahwa dalam hal perubahan fisik ada perbedaan yang jelas di antara anak laki-laki dan perempuan. Pada anak laki-laki pertumbuhan berat badan terutama disebabkan oleh makin bertambah kuatnya susunan urat daging. Pada anak perempuan lebih disebabkan oleh bertambahnya jaringan pengikat di bawah kulit (lemak) terutama pada paha, pantat, lengan atas dan dada. Pertambahan jaringan lemak pada bagian-bagian tersebut membuat bentuk badan anak perempuan mendapatkan bentuk yang khas anak perempuan.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: