HUBUNGAN ANTARA MANAJEMEN DIRI DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PENDERITA HIPERTENSI

Pendahuluan

Memasuki abad ke XXII, yaitu abad dimana era jaman sudah modern dan masyarakat Indonesia secara langsung berhadapan dengan berbagai masalah, perubahan tingkat sosial, moneter, ekonomi dengan kadar yang semakin terpuruk dan gaya hidup dalam dekade terakhir telah menyebabkan perubahan pola penyakit. Saat ini penyakit degenaratif dan keganasan menjadi masalah kesehatan utama di dunia termasuk di Indonesia (http://www.google.com. 22/02/04). Dengan kemajuan sekarang ini penyakit infeksi telah tergantikan dengan penyakit kardiovaskular. Hermawan (1980) mengatakan bahwa hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya perbaikan sosioekonomi masyarakat, pemberantasan kuman penyakit yang efektif disertai dengan tindakan pencegahan penularan penyakit yang lebih baik, diketemukannya obat-obat antibiotika yang baru, meningkatnya penyuluhan kesehatan dan majunya promosi pengetahuan kesehatan.

Salah satu masalah kesehatan yang saat ini banyak menjadi pembicaraan adalah penyakit hipertensi dan aspek-aspek psikologis yang menyertainya. Pada umumnya penderita penyakit hipertensi adalah orang-orang yang berusia di atas 40 tahun, namun saat ini tidak menutup kemungkinan diderita oleh orang berusia muda. Di Amerika Serikat, sekitar seperempat jumlah penduduk dewasa menderita hipertensi, mereka yang menderita hipertensi mempunyai resiko besar bukan saja terhadap penyakit jantung, tetapi juga terhadap penyakit lain seperti penyakit saraf, ginjal dan vaskular. Makin tinggi tekanan darah makin besar resikonya (http://www.google.com. 22/02/04). Gunarsa (1998) menambahkan bahwa hipertensi yang dialami pada usia lanjut banyak dipengaruhi oleh proses perubahan, baik perubahan kemunduran fisik, perubahan fisiologis maupun perubahan sosial. Perubahan-perubahan fisik bagi usia lanjut sebagai penurunan terhadap fungsi organ yaitu dalam beraktivitas, sedangkan perubahan sosial mempunyai dampak terhadap aktivitas sosial dalam kehidupannya.

Hasil pembicaraan dengan salah satu pasien hipertensi yang berobat di Puskesmas Ngaglik yaitu Bapak Subarso (60), pasien sudah 5 bulan menderita hipertensi. Gejala awal yang dialami adalah kepala pusing dan leher tegang. Setiap bulannya pasien meminta rujukan di Puskesmas Ngaglik untuk berobat dan kontrol di Rumah Sakit Sardjito. Ciri-ciri pasien diantaranya adalah ketergantungan obat, jika pasien tidak meminum obat setiap hari maka tekanan darahnya selalu tinggi. Gejala yang dirasakan pasien jika tensi tinggi yaitu leher terasa kencang dan kepala sedikit pusing, maka pasien langsung mengukur tekanan darahnya. Diakui pasien, penyakit hipertensi tidak terlalu memberi efek akan emosinya, sebab pasien mengakui bahwa wataknya keras sehingga cepat emosi dan marah-marah.

Gejala pada sebagian penderita yang belum mengetahui bahwa mereka menderita hipertensi yaitu mengeluh pusing pada pagi hari. Rasa pusing itu dapat membangunkan penderita dan dirasakan terus-menerus. Sedangkan pada penderita lainnya, tanda pertama mereka mengetahui menderita hipertensi bila sudah ada komplikasi yang timbul seperti denyut jantung berdebar-debar (http://www.google.com. 22/02/04).

Hipertensi disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya faktor genetik, perubahan gaya hidup, juga akibat kondisi psikis penderita. Penderita hipertensi rentan mengalami kecemasan dari situasi buruk yang terjadi dari dalam dan luar dirinya. Setiap kejadian entah terjadi kecelakaan atau musibah yang disusul dengan persepsi yang manifestasinya berupa rasa takut, gelisah, dan perasaan tak menentu membuat penderita hipertensi cenderung mengalami kenaikan tekanan darah. Jatno (1995) mengemukakan bahwa jika hal ini berlangsung lama seseorang akan kehilangan kontrol. Dari respon tubuhnya akan menimbulkan respon yang mengaktivasi sistem neorohormonal. Akibatnya akan memacu saraf simpatis dan renin angiostenin dan akan meningkatkan denyut jantung.

Kecemasan merupakan pengalaman emosional yang berlangsung singkat dan merupakan respon yang wajar, pada saat individu menghadapi tekanan atau peristiwa yang mengecam kehidupannya. Perbedaan antara kecemasan yang dialami pada orang normal dan pada penderita hipertensi terlihat dari respon pada saat menghadapi situasi, misalnya kecemasan yang dialami berasal dari sumber stressor yang sama, jika dibandingkan maka mereka mengalami kecemasan yang sama, hanya saja yang membedakan adalah kondisi fisik antara penderita hipertensi dengan orang normal pada saat menerima respon. Hal ini juga sesuai ketika subjek dihadapkan pada suatu masalah, subjek akan berusaha untuk tidak berlarut-larut memikirkan masalah tersebut, kecemasan yang dialami oleh subjek adalah respon pada saat situasi terjadi, hal ini sesuai dengan Lazarus (1991) yang mengemukakan kecemasan sebagai state anxiety yaitu gejala kecemasan yang timbul bila individu dihadapkan pada situasi tertentu dan gejalanya akan nampak selama situasi tersebut terjadi. Jadi kecemasan jenis ini ditentukan oleh tingkat tekanan darah dari situasi tertentu dan pegalaman-pengalaman individu tentang tekanan itu.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: