HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI REMAJA TERHADAP PERAN AYAH DENGAN KESTABILAN EMOSI

Pendahuluan

Globalisasi memberikan pengaruh yang cukup besar pada remaja, baik pengaruh negatif maupun positif. Kondisi lingkungan merupakan salah satu tumpuan untuk menemukan contoh yang merupakan sumber inspirasi pembentukan citra diri yang nantinya akan menjadi identitas diri remaja. Keadaan inilah seringkali membuat remaja tampak seakan-akan terombang-ambing dipermainkan oleh lingkungan yang sepertinya tidak mau perduli apakah individu itu siap untuk menerimanya. Pengaruh globalisasi akan sangat tergantung pada kemampuan lingkungan terdekat remaja untuk membentuk nilai-nilai yang akan menjadi instrumen penyaring yang handal, sehingga remaja terhindari dari pengaruh negatif globalisasi. Mudahnya tayangan-tayangan televisi masuk ke suatu negara yang isinya tentang kekerasan dan pornografi dapat memberikan dampak negatif bagi remaja misalnya banyak terjadi perkosaan, perampokan atau penodongan bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh remaja.

Fenomena yang terjadi saat ini tidak sesuai dengan yang diharapkan. Remaja sebagai harapan bangsa dan negara serta merupakan generasi penerus yang dituntut mampu membawa negaranya mencapai kemakmuran dan kesejahteraan ternyata malah melakukan hal-hal yang memberi dampak negatif terhadap kesejahteraan baik dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat maupun bernegara dan akhirnya akan dapat menghambat usaha pemerintah dalam membangun bangsa Indonesia seutuhnya.

Perubahan-perubahan sosial yang cepat sebagai konsekuensi modernisasi, industrialisasi dan kemajuan teknologi mengakibatkan perilaku agresif remaja semakin meningkat. Tindak kekerasan remaja di Indonesia sekarang seperti yang banyak dilansir oleh berbagai media telah mencapai tingkat yang membahayakan. Misalnya, berita narkoba terus muncul di TV, yang menonjol dan memprihatinkan adalah wacana di Lativi 6 Februari 2003, salah seorang narasumbernya Komjen Togar Sianipar, petinggi puncak BNN. Berdasarkan wacana tersebut terlihat masalah besar yaitu narkoba terus bereskalasi dan belum ada konsep dasar kebijakan holistic, korban narkoba sudah meningkat menjadi 2% (kira-kira 4 juta), 73% remaja usia SMP-SMA, 9% usia mahasiswa dari semua corak dan level sosial. Lebih lanjut dikatakan bahwa dampak negatif dari narkoba seperti mempengaruhi kestabilan emosi, menekan rasa malu, mengubah penilaian lingkungan dan respon sikap dan perilaku. Korban narkoba dapat merusak keharmonisan masyarakat, memicu perkelahian, kecelakaan lalu lintas sampai kebakaran (Harian Umum Suara Merdeka, 26 Februari 2003); acara kriminal pukul 16.30 WIB, Trans TV menyiarkan tentang pelajar yang memanah dengan ketapel sehingga menancap di perut korban yang juga pelajar (Trans TV, 04 September 2003), perkelahian antar pelajar, pembajakan bis, perampokan bahkan pembunuhan.

Kenakalan remaja yang diberitakan dalam berbagai forum dan media dianggap semakin membahayakan. Berbagai macam kenakalan remaja yang ditunjukkan seperti perkelahian secara perorangan atau kelompok, mabuk-mabukan, pemerasan, pencurian, perampokan, penganiayaan dan penyalahgunaan obat-obatan seperti narkotik (narkoba). Tawuran sebenarnya adalah perilaku agresi (Mu’tadin, 2002) yang salah satunya disebabkan oleh amarah yang merupakan bentuk emosi yang tidak stabil. Menurut Tambunan (2001) secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency), perilaku ini memperlihatkan remaja yang tidak dapat mengendalikan emosinya atau dengan kata lain memiliki emosi yang tidak stabil.

Kasus-kasus yang sering terjadi tersebut merupakan perilaku agresif yang dilakukan oleh remaja. Menurut Dollar dan Miller (Berkowitz, 1995), perilaku agresi merupakan dorongan yang dibentuk oleh faktor eksternal. Faktor eksternal ini meliputi adanya frustasi yang membuat seseorang tidak dapat memperoleh kesenangan yang diharapkan atau kegagalan tujuan. Berkowitz (1995) mengatakan bahwa frustasi memang tidak selalu menimbulkan agresi tetapi akan menyebabkan kondisi emosi tertentu seperti marah. Emosi marah ini dapat berubah menjadi perilaku agresi apabila ada pemicu dari luar. Sejalan dengan teori frustasi-agresi menurut Shapiro (1998) adanya perilaku agresi pada remaja berhubungan erat dengan rendahnya kemampuan remaja untuk mengendalikan emosinya.

Pengendalian emosi atau kontrol emosi merupakan aspek yang terkandung dalam kestabilan emosi (Schneiders, 1964). Hasil penelitian Warsiki (Suyanti dkk, 2002), menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan dengan arah negatif antara kecerdasan emosional dengan kecenderungan agresivitas remaja. Kondisi-kondisi seperti yang terjadi di atas merupakan gambaran yang cukup jelas mengenai bagaimana pengendalian emosi bisa menjadi sesuatu yang begitu penting dalam mempengaruhi pola kehidupan remaja.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: