Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pemberitaan Media Massa Mengenai Malpraktek Dengan Kecemasan Berobat Ke Dokter

Pendahuluan

Mendapatkan pelayanan kesehatan dalam upaya memenuhi kebutuhan akan kesehatan merupakan hak asasi setiap manusia. Kesehatan sendiri baru terwujud apabila seseorang tidak merasa sakit dan memang secara klinis tidak sakit, dalam artian semua organ-organ tubuhnya normal dan berfungsi secara normal pula dan orang tersebut tidak mengalami gangguan fungsi tubuh (Price, 1992). Agar terhindar dari sakit dan penyakit masyarakat melakukan upaya penyembuhan atau pengobatan, salah satunya adalah dengan berobat ke dokter. Perilaku masyarakat ini sering disebut juga dengan health seeking behavior atau perilaku untuk mencari atau melakukan pengobatan (Tajuk Rencana Berkala Ilmu Kedokteran, 2002). Belakangan ini dapat kita lihat bahwa masyarakat mengalami suatu bentuk kecemasan untuk berobat ke dokter. Hal ini termanifestasi pada penurunan kepercayaan yang sangat drastis terhadap dokter. Salah satu faktor penyebabnya adalah banyaknya kasus malpraktek yang belakangan ini mencuat ke media massa (www.jawaban.com)

Penelitian yang baru-baru ini dilakukan tentang determinan pemilihan pengobatan oleh Wicaksono (2004) pada penduduk Kelurahan Gowongan memberikan data bahwa sekitar 65% responden memilih untuk tidak berobat ke dokter. Dari 65 % responden yang tidak berobat ke dokter ini, sebanyak 86,2 % memilih membeli obat di warung-warung obat atau apotik, 7 % memilih berobat ke pengobatan alternatif, 5,8 % membiarkan saja penyakitnya dan ada tiga responden yang memilih unutuk berobat ke pengobatan tradisional. Dari penelitian ini juga didapatkan data bahwa 36,4 % responden merasa cemas untuk berobat ke dokter, 22,7 % responden takut untuk berobat ke dokter dan 9 % responden merasa takut mengetahui penyakit yang dideritanya. Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa dari seluruh responden, sebanyak 61,06 % responden sudah mengerti tentang malpraktek. Dari 61,06 % responden sudah mengerti tentang malpraktek ini, 60 % menyatakan bahwa kejadian malpraktek berpengaruh besar terhadap penentuan pemilihan pengobatan, 10 % sangat besar dan sisanya hanya merasakan pengaruh yang sedang dan kecil.

Sebenarnya kasus malpraktek bukanlah barang baru. Sejak bertahun-tahun yang lalu, kasus ini cukup akrab di Indonesia. Coba kita cermati kasus Djainun tahun 1923 akibat kelebihan dosis obat dan kasus Raad Van Justitie tahun 1938 akibat salah obat. Titik tolak kasus malpraktek menjadi isu nasional adalah pasca kasus Pati tahun 1981. Kasus Pati bahkan konon menginspirasi lahirnya cabang ilmu hukum baru di Indonesia, yaitu Hukum Kedokteran. Kasus Pati terjadi di daerah Wedariyaksa, Pati Jawa Tengah tahun 1981. Dr. Setianingrum, seorang dokter puskesmas di daerah tersebut diadili karena pasiennya, Ny. Rukmini Kartono meninggal dunia akibat shock anafilaktik setelah mendapat injeksi streptomisin. Tanggal 2 September 1981 Pengadilan Negeri memvonis dr. Setianingrum hukuman kurungan selama 3 bulan masa percobaan 10 bulan. Dokter ini mengajukan naik banding tetapi Pengadilan Tinggi justru menguatkan putusan Pengadilan Negeri pada tanggal 19 Mei 1982. baru ditingkat Mahkamah Agung, dr. Setianingrum divonis bebas dengan pertimbangan penyuntikan streptomisin sukar dihindari dan dapat merenggut nyawa dalam waktu singkat .

Kecemasan sendiri merupakan suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang dialami oleh individu dan bisa menjadi suatu sinyal akan adanya suatu bahaya atau ancaman, akan tetapi objek dari sumber atau ancaman tersebut tidak jelas dan samar-samar. Kecemasan berobat ke dokter yang dialami oleh sebagian masyarakat diakibatkan oleh adanya perasaan terancam yang mereka alami ketika melakukan pengobatan ke dokter. Mereka merasa khawatir bahwa dokter akan melakukan kesalahan pengobatan dan menyebabkan mereka kehilangan masa depan seperti cacat, cacat seumur hidup bahkan yang paling ekstrim meninggal dunia. Beberapa orang yang penulis wawancarai pada tanggal 10 Mei 2005, mengaku cukup khawatir akan akan adanya berita-berita malpraktek yang belakangan ini menjadi topik utama di berbagai media massa. Hal ini juga berimplikasi pada kekhawatiran mereka untuk berobat ke dokter, terutama untuk penyakit-penyakit yang memerlukan penanganan lebih lanjut, seperti operasi.

Data lain yang penulis temukan antara lain seorang pembaca yang mengirim email ke sebuah majalah kesehatan. Ia mengaku khawatir untuk pergi berobat ke dokter setelah membaca sebuah majalah berita yang membahas mengenai malpraktek dokter. Selain itu dia juga mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan sewaktu berobat, dimana dokter memberikan obat yang salah sehingga menyebabkan ia mengalami cegukan dan tidak bisa berhenti. Untungnya hal tersebut tidak berakibat fatal karena cegukannya sembuh keika ia memilih untuk berobat ke dokter lain (Healthy Life, Mei 2004). Sumber lainnya juga mengungkapkan kecemasannya ketika harus berobat kedokter ketika ia mengalami demam. Dia cemas dokter akan salah mendiagnosa penyakit yang dialaminya, ditambah lagi obat yang diberikan dokter sangat banyak dan harus habis dalam waktu tiga hari (http://blueshark23.blogspot.com/2004/12/feverrrrh.html).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: