HUBUNGAN ANTARA RESILIENCE DENGAN STRES KERJA PADA KARYAWAN PT TELKOM DIVRE VI BALIKPAPAN

Pendahuluan

Perubahan iklim perekonomian Indonesia yang dipicu oleh arus globalisasi dan era perdagangan bebas, menjadikan dunia usaha juga semakin bergejolak. Perusahaan-perusahaan dituntut untuk peka dan dapat menyikapi dengan tepat perubahan-perubahan yang terjadi, agar perusahaan dapat tetap mempertahankan eksistensinya ditengah kondisi yang sangat dinamis ini.

Perubahan-perubahan yang terjadi dapat dilaksanakan jika ada interaksi yang saling mendukung antara seluruh komponen dalam suatu organisasi seperti sumber daya manusia, sumber daya finansial, sumber daya fisik dan sumber daya informasi. Sumber daya yang ada tidak akan berjalan jika sumber daya manusianya tidak berkompeten dan tidak proaktif, oleh karena itu sumber daya manusia merupakan salah satu aset yang berharga dan memegang peranan penting dalam mencapai tujuan organisasi, disamping sejumlah aset yang berupa fasilitas organisasi (Diahsari, 2001). Oleh karena itu sumber daya manusia harus terus dimotivasi dan dikembangkan dalam usaha peningkatan kinerja perusahaan.

Mangkunegara (2002) mengatakan bahwa faktor manusia merupakan modal utama yang perlu diperhatikan dan dikelola secara profesional oleh perusahaan agar terwujud keseimbangan antara kebutuhan pegawai dengan tuntutan dan kemampuan organisasi perusahaan. Keseimbangan tersebut merupakan kunci utama perusahaan agar dapat berkembang secara produktif dan wajar.

Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan salah satu faktor penentu agar perusahaan dapat bekerja secara efektif dan maksimal untuk bersaing di pasar global. Kinerja sumber daya manusia yang baik merupakan hal yang terpenting bagi kelangsungan hidup perusahaan (Melianawati, dkk, 2001). Sebuah perusahaan yang ingin berkembang dengan pesat, haruslah memiliki sumber daya manusia yang mampu menampilkan kinerja yang baik. Meskipun sumber daya manusia itu merupakan kunci keberhasilan dalam suatu perusahaan, namun pada kenyataannya pengalaman mereka dalam bekerja terkadang memunculkan persoalan dalam pekerjaan, seperti target kerja yang meleset, pekerjaan yang terbengkalai, hubungan interpersonal memburuk dan seterusnya, dalam hal ini stres kerja pun akan terjadi.

Stres didefinisikan oleh Cornelli (Brecht 2000) sebagai suatu gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan. Stres dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun kinerja individu di dalam lingkungan tersebut. Kaitannya dengan kerja, stres kerja pada intinya merujuk pada kondisi dari pekerjaan yang mengancam individu. Ancaman ini dapat berasal dari tuntutan pekerjaan itu atau karena kurang terpenuhinya kebutuhan individu. Stres kerja ini muncul sebagai bentuk ketidakharmonisan individu dengan lingkungan kerjanya ( Diahsari, 2001).

Ivancevich dan Matteson (Kreitner & Angelo, 2001) mengatakan bahwa stres kerja muncul karena adanya stressor baik pada level individual, level kelompok, level organisasi, dan extraorganisasi yang merupakan interaksi yang kompleks antara individu dengan lingkungan. Level individual dapat berupa kelebihan beban kerja, konflik peran dan sebagainya, level kelompok berupa kesenjangan kohesivitas, konflik kelompok, ketidakpuasan kelompok, sedangkan level organisasi dapat berupa iklim organisasi, teknologi, gaya manajemen, rancangan kerja, selain itu level extraorganisasi dapat berupa hubungan keluarga, masalah ekonomi, suara, suhu, dan lain sebagainya.

Dampak dari stres kerja yang terus menerus dirasakan dan tidak dapat dihadapi dengan baik, akan membuat seorang karyawan menjadi jenuh dan lama kelamaan akan berdampak buruk bagi kinerjanya, mereka menjadi tidak bersemangat dalam bekerja yang pada akhirnya sering melakukan mogok kerja, mangkir kerja atau tidak masuk kerja dengan alasan yang dicari-cari atau kalaupun masuk, tetapi situasi perusahaan lesu, sering ada konflik dengan pimpinan atau antar karyawan (Anoraga, 2001). Dengan demikian setiap orang mempunyai reaksi yang berbeda-beda dalam menghadapi stres. Beberapa orang mungkin sangat adaptif sedangkan yang lain mungkin menyimpang. Orang yang cenderung berpikir negatif dan pesimis, dan berkeyakinan irasional lebih mudah mengalami stres, daripada orang yang berpikir positif, optimis dan berkeyakinan rasional (Kusumawardani, 2002).

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: