HUBUNGAN ANTARA SENSATION SEEKING DENGAN MINAT BERWIRAUSAHA PADA MAHASISWA

Pendahuluan

Pengangguran sebenarnya sudah menjadi masalah klasik dan seakan-akan tidak pernah berhenti di Indonesia. Demikian juga dengan persoalan yang dihadapi dari tahun ke tahun, bukan semakin sederhana tetapi bertambah kompleks. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi Indonesia, yaitu krisis ekonomi, krisis sosial, dan krisis politik, semakin menjadikan Indonesia terpuruk dalam permasalahan karena dengan adanya permasalahan tersebut membuat angka pengangguran semakin bertambah, bahkan penambahannya menjadi dua kali lipat (Suara pembaruan, 2002).

Rentetan masalah yang dikaitkan dengan pengangguran antara lain adalah tingginya tingkat pengangguran terdidik, rendahnya tingkat pendidikan sebagian besar tenaga kerja, rendahnya daya serap sektor formal, kurang seriusnya pemerintah dalam pengembangan sumber daya manusia. Jumlah pengangguran terdidik terus bertambah. Berdasarkan catatan dari SPSI, diperkirakan setiap tahun jumlah penganggur akan bertambah 2,5 juta dan satu juta di antaranya mengharapkan pada sektor formal. Ini berarti, pengangguran akan bertambah satu juta orang dari sektor formal (Suara Pembaruan, 2002).

Pada tahun 1980, angka pengangguran terdidik mencapai 1,5 persen. Selanjutnya, pada 1990 dan 1994 melesat cepat menjadi 7,8 persen dan 14,8 persen (171.000 orang). Terakhir, pada tahun 2002 saat diukur angka pengangguran mencapai sekitar 2 juta orang (Pikiran Rakyat, 2002). Sidang Pleno Kongres XV Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, Direktur Ketenagakerjaan dan Analisis Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Widianto mengemukakan, tahun ini jumlah warga yang tidak mempunyai pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan mencapai 10,13 juta jiwa. Jumlah ini akan meningkat menjadi 11,19 juta jiwa pada tahun 2005, sementara jumlah pengangguran secara keseluruhan diperkirakan lebih dari 40 juta jiwa (Kompas, 2003).

Berbagai kejadian yang melanda perusahaan belakangan ini memang potensial menambah jumlah pengangguran. PT Doson Indonesia di Tangerang menghentikan order sepatu yang ada di Indonesia, demikian juga dengan Sony Corporation Jepang yang mempunyai rencana memperkecil anak cabangnya di seluruh dunia, salah satunya yang ada di Indonesia (Kompas, 2002).

Menumpuknya pengangguran terdidik atau sarjana yang berasal dari bangku perguruan tinggi, terjadi akibat tidak adanya visi dan arah yang jelas pada konsep pembangunan pendidikan nasional yang tertuang dalam perencanaan pembangunan jangka panjang pemerintah. Selain itu kerja sama atau kemitraan antara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan departemen terkait seperti Departemen Tenaga Kerja masih kurang (Suara Pembaruan, 2002).

Banyaknya angka pengangguran yang sudah ada dan prediksi bertambahnya jumlah angka pengangguran yang meningkat pesat, akan berdampak terhadap makin maraknya aksi kejahatan. Ini sudah terbukti dan semakin memenuhi berita kriminal di media massa, karena alasan kesulitan mencari pekerjaan, akhirnya nekat melakukan kejahatan. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi melalui program padat karya dan tenaga profesional mandiri diharapkan mampu mengurangi angka pengangguran yang sudah demikian kronis ini. Mengatasi pengangguran terdidik bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah, akan tetapi yang lebih penting adalah menghindari atau mencegah bertumbuhnya pengangguran yang terdidik, jadi ketika lapangan kerja tidak lagi mampu menampung jumlah pengangguran, mengapa tidak memulai membuat usaha sendiri? Usaha-usaha yang dilakukan untuk mencegah pengangguran salah satunya adalah dengan menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan.

Semangat kewirausahaan harus dikembangkan, seperti yang dilakukan oleh Sari dan teman-teman (Kompas, 2003), mereka merintis sebuah perusahaan desain grafis yang didirikan tahun 1997, karena Sari berpengalaman bekerja di bidang periklanan dan kehumasan, dengan modal awal sebuah komputer pribadi dan garasi rumah yang dijadikan kantor serta uang untuk mencetak kartu nama, brosur, pasang telepon, dan pengurusan surat-surat.

Dua bulan pertama setelah perusahaan didirikan, mereka tidak mendapatkan order, tapi dengan kegigihan, total mengurus bisnis, melakukan pemasaran, mengokohkan tim kerja dan memanfaatkan peluang yang ada. Setelah empat bulan bekerja keras, akhirnya mereka mendapat order pertama, sejak saat itu mereka banyak mendapatkan order karena mampu memberikan harga yang jauh lebih murah dengan kualitas yang bagus. Sekarang setelah berjalan enam tahun, perusahaan tersebut sudah bisa di bilang sukses. Mereka sudah memiliki delapan komputer dan enam orang karyawan, selain itu mereka juga mulai melakukan diversifikasi usaha dengan membuat benda-benda kerajinan dari limbah kayu, dengan orientasi ekspor.

Kasus di atas dapat dilihat bahwa untuk menjadi seorang wirausahawan seseorang harus melakukan apa yang bisa dilakukan, tentu saja sesuai dengan kemampuan dan kegigihan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan. Semua orang berpotensi untuk menjadi seorang wirausaha. Keputusan seseorang untuk terjun dan memilih profesi sebagai seorang wirausaha didorong oleh beberapa kondisi. Penelitian yang dilakukan oleh Mc Slelland (dalam Muhandri 2002) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 50% pengusaha yang menjadi sample penelitiannya (diambil secara acak) berasal dari keluarga pengusaha. Penelitian yang dilakukan oleh Sulasmi (1989) terhadap 22 orang pengusaha wanita di Bandung juga menunjukkan bahwa sekitar 55% pengusaha tersebut memiliki keluarga pengusaha (orang tua, suami, atau saudara pengusaha).

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: